RIWARA.id - Suasana di sekitar Kraton Surakarta selalu berubah drastis setiap perayaan Garebeg Maulud. Ribuan orang berkumpul, menanti satu momen yang sama: keluarnya gunungan.
Bagi sebagian orang, gunungan hanyalah tumpukan hasil bumi yang disusun menyerupai gunung. Namun di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan lapisan makna, sejarah, dan filosofi yang tidak banyak diketahui publik.
Berikut sejumlah fakta unik tentang Gunungan Garebeg Maulud yang jarang diungkap.
1. Gunungan Bukan Sekadar Hiasan, Tapi Simbol Kosmos
Gunungan dalam tradisi Jawa bukan hanya bentuk estetika. Ia merepresentasikan gunung sebagai pusat alam semesta dalam kosmologi Jawa.
Gunung dianggap sebagai tempat sakral, titik pertemuan antara manusia, alam, dan kekuatan ilahi. Karena itu, bentuk gunungan bukan kebetulan—melainkan simbol keseimbangan kosmik.
2. Dulu Jumlahnya Puluhan, Kini Tinggal Beberapa
Pada masa kejayaan Kraton, terutama era Paku Buwana X, jumlah gunungan bisa mencapai puluhan.
24 gunungan besar
24 gunungan anakan
24 ancak-cantoko
Kini, jumlahnya jauh lebih sedikit, biasanya hanya beberapa pasang saja.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran dari kekuasaan absolut Raja menuju pelestarian budaya di era modern.
3. Gunungan Selalu Diperebutkan, Bukan Sekadar Tradisi
Salah satu hal paling menarik adalah fenomena “rebutan” gunungan.
Namun ini bukan sekadar aksi spontan.
Masyarakat percaya bahwa isi gunungan yang telah didoakan membawa:
keberkahan
keselamatan
rezeki
Tradisi ini dikenal sebagai ngalap berkah, praktik yang masih kuat dalam budaya Jawa hingga hari ini.
4. Ada Filosofi Keluarga dalam Setiap Gunungan
Gunungan terbagi dalam beberapa jenis dengan makna berbeda:
Gunungan lanang → simbol laki-laki dan kepemimpinan
Gunungan wadon → simbol perempuan dan keseimbangan
Gunungan anakan → simbol generasi penerus
Susunan ini mencerminkan struktur keluarga Jawa yang ideal: harmonis, berkelanjutan, dan saling melengkapi.
5. Canthang Balung, Sosok Aneh yang Punya Makna Dalam
Di tengah prosesi, sering muncul sosok unik bernama canthang balung.
Penampilannya lucu, bahkan terkesan menyeramkan.
Namun di balik itu, ia melambangkan:
godaan dalam kehidupan manusia
ujian dalam menjalankan amanah
Simbol ini mengajarkan bahwa dalam setiap perjalanan hidup, selalu ada gangguan yang harus dihadapi.
6. Berawal dari Strategi Dakwah Islam
Tradisi ini tidak bisa dilepaskan dari peran Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga.
Para wali menggunakan pendekatan budaya untuk menyebarkan Islam.
Alih-alih meng hapus tradisi lama, mereka:
mempertahankan bentuknya
mengganti maknanya dengan nilai Islam
Gunungan menjadi salah satu media dakwah yang efektif tanpa menimbulkan konflik.
7. Sekaten dan Syahadat yang Tersirat
Perayaan Garebeg Maulud tidak terpisahkan dari Sekaten.
Kata “Sekaten” diyakini berasal dari “Syahadatain” (dua kalimat syahadat).
Dua gamelan pusaka:
Kyai Gunturmadu
Kyai Guntursari
melambangkan tauhid dan kerasulan.
Artinya, setiap orang yang datang dan mengikuti tradisi ini secara simbolik diajak mengenal Islam.
8. Gunungan adalah Sedekah Raja untuk Rakyat
Dalam sejarahnya, gunungan merupakan bentuk nyata dari kedermawanan raja.
Isi gunungan berasal dari:
hasil bumi
makanan
komoditas kebutuhan sehari-hari
Ini menunjukkan hubungan antara Kraton dan rakyat sebagai:
pelindung
pemberi kesejahteraan
9. Dipercaya Bisa Membawa Hasil Panen Melimpah
Sebagian masyarakat tidak langsung mengonsumsi isi gunungan.
Mereka:
menyimpannya di rumah
atau menanamnya di sawah
Keyakinannya, hasil gunungan dapat membawa keberuntungan dan panen yang lebih baik.
10. Tetap Be rtahan di Tengah Modernitas
Meski zaman berubah, tradisi ini tetap hidup.
Setiap tahun, ribuan orang masih datang untuk:
menyaksikan prosesi
ikut berebut gunungan
merasakan pengalaman spiritual dan budaya
Ini menunjukkan bahwa nilai budaya tidak mudah hilang, selama masih diyakini dan dijalankan bersama.
Gunungan Garebeg Maulud bukan sekadar tradisi tahunan.
Ia adalah perpaduan:
budaya Jawa
ajaran Islam
simbol kekuasaan
dan kepercayaan masyarakat
Di balik keramaian dan perebutan yang terlihat, tersimpan makna yang jauh lebih dalam—tentang bagaimana manusia mencari berkah, menjaga tradisi, dan memahami kehidupan.*
Inung R Sulistyo






Gunungan Garebeg Maulud di Kraton Surakarta menyimpan banyak fakta unik yang jarang diketahui. Dari simbol kosmos hingga tradisi rebutan berkah, ini penjelasan lengkapnya.