Perang Drone di Timur Tengah Memanas: Iran Hujani Israel dan Pangkalan AS dengan Gelombang Rudal ke-29

  • Inung R Sulistyo
  • Jumat, 13 Maret 2026 | 18:40 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Ilistrasi Drone kamikaze Shahed-136 milik Iran menjadi salah satu senjata utama dalam gelombang serangan drone dan rudal terhadap target militer Israel dan pangkalan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Ilistrasi Drone kamikaze Shahed-136 milik Iran menjadi salah satu senjata utama dalam gelombang serangan drone dan rudal terhadap target militer Israel dan pangkalan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. (Foto: Riwara.id)

 

RIWARA.id - Ketegangan militer antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel semakin memanas. Konflik yang telah berlangsung hampir dua pekan ini tidak hanya diwarnai oleh jet tempur canggih, tetapi juga oleh gelombang serangan drone dan rudal jarak jauh yang saling berbalasan.

Dalam perkembangan terbaru, Iran kembali meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Serangan ini merupakan bagian dari operasi militer yang disebut “True Promise 4”, yang diklaim sebagai respons atas serangan sebelumnya terhadap fasilitas strategis Iran.

Menurut pernyataan resmi juru bicara Garda Revolusi Iran, Muhammad Naini, negaranya siap menghadapi konflik skala besar dalam jangka waktu panjang.

“Iran siap untuk perang intensitas tinggi hingga enam bulan,” ujarnya dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah.

Ia juga menyebut pasukan elit Iran telah menargetkan lebih dari 200 lokasi yang terkait dengan pangkalan militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Drone Shahed-136: “AK-47 di Udara”

Salah satu senjata yang paling sering digunakan Iran dalam konflik ini adalah drone kamikaze Shahed-136.

Drone tersebut dirancang untuk serangan satu arah atau loitering munition, di mana pesawat tanpa awak akan menghantam target dan meledak.

Karakteristik utama drone ini antara lain:

Jangkauan ratusan kilometer

Sulit terdeteksi radar karena ukuran kecil

Hulu ledak sekitar 40–50 kilogram

Biaya produksi relatif murah

Karena efektivitas dan harga produksinya yang rendah, Shahed-136 sering dijuluki sebagai “AK-47 di udara” dalam dunia militer modern.

Drone ini dianggap sangat efektif dalam strategi perang asimetris, yakni taktik militer yang memungkinkan negara dengan anggaran militer lebih kecil melawan kekuatan militer yang jauh lebih besar.

Mohajer-10, Drone Serang Jarak Jauh Iran

Selain Shahed-136, Iran juga mengandalkan drone generasi terbaru yaitu Mohajer‑10.

Drone ini memiliki kemampuan jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya.

Beberapa spesifikasinya antara lain:

Jangkauan hingga 2.000 kilometer

Daya tahan terbang hingga 24 jam

Kapasitas muatan hingga 300 kilogram

Sistem pengintaian dan serangan presisi

Dengan kem ampuan tersebut, Mohajer-10 memungkinkan Iran menyerang target strategis yang berada sangat jauh dari wilayahnya.

Amerika Balas dengan Drone Kamikaze

Di sisi lain, Amerika Serikat juga mengerahkan teknologi drone terbaru dalam operasi militernya terhadap Iran.

Salah satu sistem yang dilaporkan digunakan adalah LUCAS (Low‑Cost Uncrewed Combat Attack System), drone kamikaze sekali pakai yang dirancang untuk menyerang target secara presisi dengan biaya relatif rendah.

Beberapa analis menyebut desain drone ini banyak terinspirasi dari konsep reverse engineering terhadap teknologi drone Iran seperti Shahed-136.

Drone tersebut digunakan untuk:

Serangan presisi terhadap infrastruktur militer

Target situs rudal

Pangkalan angkatan laut

Instalasi logistik militer Iran

Strategi “Swarming” Iran

Pengamat militer menilai Iran telah mempersiapkan strategi perang berbasis drone dan rudal dalam jangka waktu panjang.

Salah satu konsep yang digunakan adalah swarming, yaitu taktik meluncurkan banyak drone secara bersamaan untuk membanjiri sistem pertahanan udara lawan.

Dosen ilmu politik dari Universitas Udayana menjelaskan bahwa strategi tersebut memungkinkan Iran mengimbangi kekuatan militer Amerika Serikat yang jauh lebih unggul secara teknologi.

Menurutnya, Iran telah mempelajari pola serangan Amerika dan Israel dari berbagai konflik sebelumnya.

“Konsep swarming membuat serangan drone menjadi sangat presisi dan sulit dihentikan. Iran sudah menyiapkan logistik dan teknologi ini dalam jangka panjang,” ujarnya.

AS Diperkirakan Andalkan Serangan Besar

Di sisi lain, Amerika Serikat diperkirakan akan mengandalkan serangan militer berskala besar untuk mempercepat penyelesaian konflik.

Para analis menilai strategi Washington cenderung fokus pada serangan intensif dalam waktu singkat dengan teknologi militer paling mutakhir.

Beberapa skenario yang diperkirakan bisa digunakan antara lain:

serangan udara skala besar

penggunaan bom bunker-buster

penghancuran pusat pertahanan strategis Iran

Namun strategi tersebut juga memiliki risiko besar terhadap eskalasi konflik regional.

Babak Baru Perang Drone

Konfrontasi drone antara Iran dan Amerika Serikat kini tidak lagi sekadar uji coba teknologi atau simulasi militer.

Konflik ini disebut banyak analis sebagai babak baru dalam sejarah peperangan modern, di mana drone murah namun efektif dapat menantang dominasi militer negara besar.

Jika konflik terus meningkat, stabilitas kawasan Timur Tengah akan menjadi taruhan utama.

Perang yang awalnya berupa serangan terbatas kini berpotensi berkembang menjadi konfrontasi regional yang jauh le bih luas.*

Ketegangan militer antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel semakin memanas. Iran meluncurkan gelombang serangan drone dan rudal dalam operasi “True Promise 4”, menargetkan lebih dari 200 fasilitas militer di Timur Tengah. Drone kamikaze seperti Shahed-136 dan Mohajer-10 menjadi andalan dalam strategi perang asimetris melawan kekuatan militer Barat.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News