Siap-siap, Krisis Energi BBM Akan Makin Terasa Setelah Lebaran 2026, Kementerian ESDM Lakukan Hal Ini

  • Windy Anggraina
  • Jumat, 13 Maret 2026 | 12:30 WIB
  • Default Publisher Publish by: Windy Anggraina
 
Pertamina Siapkan Layanan Ekstra Energi Saat Nataru 2025 2026
Siap-siap krisis bbm bisa terjadi setelah lebaran 2026, Kementerian ESDM lakukan kebijakan ini

 

Riwara.id – Pasca masa lebaran 2026 masyarakat Indonesia akan dihadapkan pada permasalahan baru yang lebih besar yaitu tentang ancaman krisis energi bbm. Hal ini tentu berkaitan dengan perang Iran Amerika dan penutupan Selat Hormuz di Iran yang mempengaruhi pasokan BBM ke berbagai dunia termasuk Indonesia.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan energi dalam negeri.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaiman mengatakan saat ini pihaknya tidak hanya fokus pada kesiapan pasokan energi selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026, namun juga mulai mempersiapkan kondisi setelah periode tersebut berakhir.

"Seperti saya sampaikan tadi, kita lebih menyiapkan afternya . Jadi after dari Ramadan dan Idul Fitri ini kita siapkan karena memang dampaknya itu akan nanti bisa kita rasakan pada mulai April," ujar Laode seperti dikutip dari laman Kementerian ESDM, Jumat, 13 Maret 2026.

Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga. Hal itu dilakukan dengan memperkuat ketersediaan stok energi di dalam negeri.

Menurut Laode pemerintah telah menyiapkan stok Bahan Bakar Minyak (BBM), Liquefied Petroleum Gas (LPG), serta minyak mentah (crude oil) dalam jumlah yang memadai guna mengantisipasi kemungkinan gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik global.

"Jadi hal itu sudah kita lakukan dan Insya Allah nanti sampai dengan Ramadan dan Idul Fitri lalu April dan seterusnya kita jaga bisa stabil," tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan kondisi pasokan minyak Indonesia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Terutama menyusul ditutupnya Selat Hormuz akibat konflik Iran-Israel yang melibatkan Amerika Serikat.

Bahlil menjelaskan Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Pasalnya, setiap hari sekitar 21 juta barel minyak melintasi selat tersebut. Sebagian minyak mentah yang diimpor Indonesia dari kawasan Timur Tengah juga melalui jalur strategis tersebut.

"Terimbas hampir semua. Bayangkan sekarang, Selat Hormuz itu dilalui kurang lebih 21 juta barel per day. Berapa yang kena dari konsumsi dunia? Nah, itu kondisi sekarang," kata Bahlil.

Ia lantas membeberkan saat ini produksi minyak Indonesia berada di kisaran 605 ribu barel per hari, sementara kebutuhan konsumsi nasional mencapai 1,6 juta barel per hari. Artinya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan domestik.***

Masyarakat Indonesia bersiap hadapi ancaman krisis bbm setelah Lebaran 2026, Kementerian ESDM lakukan antisipasi langkah langkah stok ketersediaan bbm

Foto Default
Author : Windy Anggraina

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman.

Topic News