Riwara.id – Tahun 2026 jadi tahun ekonomi yang cukup berat bagi Indonesia, belum usai konflik di Timur Tengah yang makin memanas, kondisi ekonomi di dalam negeri juga memiliki sejumlah masalah sehingga Fitch Ratings diketahui memangkas prospek peringkat utang Indonesia.
Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings diketahui memangkas prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski begitu peringkat kredit jangka panjang mata uang asing (Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating/IDR) tetap di level BBB, yang berarti masih dalam kategori layak investasi (investment grade).
Fitch menilai tingkat kredit Indonesia saat ini sangat dibatasi oleh lesunya penerimaan negara, sementara utang negara tetap tinggi. Ini bisa melemahkan prospek fiskal jangka menengah, merusak sentimen investor, dan memberi tekanan pada ketahanan nasional dari faktor eksternal.
"Kekuatan peringkat ini dibatasi oleh penerimaan pendapatan yang lemah, biaya pembayaran utang yang tinggi, dan fitur struktural yang tertinggal seperti indikator tata kelola dibandingkan dengan negara-negara berperingkat 'BBB' lainnya," seperti dikutip Riwara dari laman Fitch, Kamis, 5 Maret 2026.
Jika ditilik dari sisi penerimaan negara, Fitch menilai penerimaan pajak yang lesu, pembatalan kenaikan tarif PPN 11%, hingga pengalihan permanen hasil dividen BUMN yang mencapa i 0,4% dari PDB ke BPI Danantara menjadi penyebab rendahnya penerimaan negara secara umum.
Sementara upaya pemerintah untuk mendongkrak kepatuhan pajak diyakini bisa memperbaiki rasio penerimaan. Namun dalam jangka pendek, dampaknya dinilai belum akan signifikan.
Pengeluaran negara diramal akan terus meningkat sepanjang 2026 ini. Fitch memproyeksikan defisit fiskal Indonesia tahun ini akan tetap berada di kisaran 2,9% PDB, lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,7%.
"Upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketegangan sosial yang masih ada setelah protes tahun lalu akan mendorong pengeluaran sosial lebih tinggi, termasuk program Makan Bergizi Gratis (1,3% dari PDB). Rencana memprioritaskan pengeluaran di semester I-2026 dapat menambah risiko defisit fiskal," jelas Fitch.
Sementara rasio utang pemerintah Indonesia terhadap PDB juga diproyeksikan akan terus meningkat sepanjang 2026 ini. Membuat beban negara atas pembayaran bunga utang relatif tinggi, membuat gerak fiskal semakin terbatas.
Pembayaran bunga yang diperkirakan sebesar 17% dari pendapatan pemerintah pada tahun 2025, termasuk yang tertinggi dalam kategori peringkat 'BBB'.
Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Deni Surjantoro mengatakan pihaknya akan terus menjaga stabilitas makroekonomi dengan melanjutkan disiplin fiskal sebagaimana dimandatkan dalam undang-undang dan memperbaiki iklim usaha.
Langkah tersebut adalah debottlenecking dan deregulasi untuk peningkatan investasi dan akselerasi pertumbuhan ekonomi serta memperkuat reformasi struktural untuk meningkatkan ketahanan ekonomi.
Berbagai leading indicator aktivitas ekonomi di awal 2026 juga diklaim terus menunjukkan perbaikan seperti indeks kepercayaan konsumsi, purchasing manager's index, konsumsi listrik (bisnis dan industri), serta penjualan kendaraan (mobil dan motor).
Dari aspek fiskal, perbaikan juga diklaim terjadi signifikan. Terlihat dari pendapatan negara pada Januari 2026 tumbuh 9,5% (yoy) dan Februari 2026 tumbuh 12,8% (yoy), terutama didukung oleh penerimaan pajak yang tumbuh tinggi 30,7% (yoy) pada Januari 2026 dan 30,4% (yoy) pada Februari 2026.
"Percepatan belanja dan stimulus ekonomi dilakukan secara terukur untuk mempertahankan momentum pertumbuhan yang terus meningkat, dengan tetap memastikan APBN sehat dan disiplin fiskal terjaga," paparnya.
Pemerintah terus meningkatkan koordinasi lintas sektor agar momentum akselerasi pertumbuhan ekonomi dapat dijaga dalam jangka menengah dengan tetap mempertahankan stabilitas.
Koordinasi kebijakan fiskal-moneter disebut terus menjadi prioritas untuk menjaga kepercayaan pasar dan memastikan program-program prioritas berjalan efektif.***






Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings diketahui memangkas prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, ternyata ini penyebabnya