RIWARA.id - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) kembali tertekan pada perdagangan Rabu, 4 Maret 2026. Harga emas Antam anjlok Rp77.000 per gram menjadi Rp3.045.000, memperpanjang pelemahan yang dipicu oleh kejatuhan harga emas global dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Penurunan tajam ini langsung menjadi perhatian investor ritel maupun kolektor logam mulia, terutama karena terjadi menjelang periode Lebaran yang biasanya diwarnai lonjakan permintaan emas fisik.
Tak hanya harga jual, harga pembelian kembali (buyback) Antam juga ikut melemah signifikan. Hari ini, buyback turun Rp107.000 menjadi Rp2.794.901 per gram. Artinya, selisih antara harga beli dan jual kembali semakin lebar, membuat investor jangka pendek harus lebih berhitung
Daftar Harga Emas Antam 4 Maret 2026
Berikut rincian harga emas batangan Logam Mulia hari ini:
0,5 gram: Rp1.572.500
1 gram: Rp3.045.000
2 gram: Rp6.030.000
3 gram: Rp9.020.000
5 gram: Rp15.000.000
10 gram: Rp29.945.000
25 gram: Rp74.737.000
50 gram: Rp149.395.000
100 gram: Rp298.712.000
250 gram: Rp746.515.000
500 gram: Rp1.492.820.000
1.000 gram: Rp2.985.600.000
Harga tersebut belum termasuk pajak PPh 0,25% bagi pemegang NPWP.
Emas Dunia Rontok 4,39%
Tekanan terhadap emas Antam tidak terjadi tanpa sebab. Harga emas dunia pada perdagangan sebelumnya ditutup di level US$5.088,6 per troy ons, ambrol 4,39% dan menjadi posisi terendah sejak 19 Februari.
Koreksi tajam ini dipicu oleh penguatan dolar AS. Indeks dolar (Dollar Index), yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,7% ke level 99,072. Dalam dua hari terakhir, indeks ini telah melonjak 1,5%.
Karena emas dihargai dalam dolar AS, penguatan mata uang tersebut membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Dampaknya, permintaan global melemah dan harga ikut terkoreksi.
The Fed Diperkirakan Hanya Pangkas Suku Bunga Sekali
Sentimen lain yang membebani emas adalah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve. Pelaku pasar kini memperkirakan ruang pelonggaran moneter semakin terbatas.
Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas pemangkasan Federal Funds Rate hanya 25 basis poin sepanjang 2026 mencapai 80%. Sebelumnya, pasar memperkirakan setidaknya dua kali penurunan suku bunga tahun ini.
Kondisi ini membuat emas kurang menarik. Sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset), emas cenderung kalah bersaing ketika suku bunga tetap tinggi. Investor lebih memilih instrumen berbunga seperti obligasi atau deposito dolar.
Di sisi lain, risiko inflasi masih membayangi. Konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk ketegangan Iran dengan AS dan Israel, berpotensi mendorong kenaikan harga energi. Jika harga minyak melonjak, tekanan inflasi bisa meningkat dan mempersulit The Fed untuk memangkas suku bunga secara agresif.
Masihkah Menarik untuk Dibeli?
Penurunan harga emas hari ini bisa menjadi peluang bagi investor jangka panjang yang menerapkan strategi beli saat harga turun (buy on weakness). Namun, volatilitas global masih tinggi, terutama akibat dinamika geopolitik dan arah kebijakan moneter AS.
Dalam jangka pendek, pergerakan emas diperkirakan masih sensitif terhadap data ekonomi AS, pergerakan dolar, serta perkembangan konflik global.
Bagi investor ritel, penting memperhitungkan selisih harga beli dan buyback yang cukup lebar. Strategi investasi emas sebaiknya difokuskan untuk jangka menengah hingga panjang guna mengoptimalkan potensi lindung nilai terhadap i nflasi dan ketidakpastian ekonomi.*
Inung R Sulistyo


Harga emas Antam 4 Maret 2026 anjlok Rp77.000 ke Rp3.045.000 per gram. Buyback ikut turun tajam setelah emas dunia rontok 4,39% dan dolar AS menguat.