Surakarta, Riwara.id – Ramadan selalu menghadirkan pertanyaan krusial bagi pasien penyakit kronis: haruskah tetap berpuasa atau mengutamakan kondisi medis? Di tengah kekhawatiran soal gula darah turun drastis, tekanan darah melonjak, hingga risiko dehidrasi, dokter spesialis penyakit dalam memberikan panduan yang lebih terukur dan berbasis klinis.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang berpraktik di RSUD Dr. Moewardi dan RS dr. Oen, dr. Agus Jati Sunggoro, Sp.PD, FINASIM, menegaskan bahwa puasa bukanlah larangan mutlak bagi seluruh pasien penyakit dalam.
“Kuncinya ada pada stabilitas klinis. Jika kondisi terkontrol dan pasien berada dalam pengawasan medis, banyak yang tetap bisa berpuasa dengan aman,” ujarnya kepada Riwara.id, Rabu 18 Februari 2026.
Bukan Soal Boleh atau Tidak, Tapi Soal Stabil atau Tidak
Menurut dr. Agus, pasien dengan diabetes terkontrol, hipertensi stabil, dislipidemia yang rutin terapi, hingga gangguan lambung ringan masih memiliki peluang menjalani puasa.
Namun terdapat ke lompok risiko tinggi yang sebaiknya tidak memaksakan diri, antara lain:
Diabetes dengan gula darah tidak terkontrol atau sering hipoglikemia
Gagal ginjal stadium lanjut atau pasien hemodialisis
Gagal jantung berat
Penyakit hati berat
Infeksi akut atau kondisi medis yang belum stabil
“Puasa dalam kondisi tidak stabil justru bisa mempercepat perburukan penyakit,” tegasnya.
Diabetes dan Dinamika Gula Darah Saat Puasa
Pasien diabetes menjadi kelompok yang paling memerlukan perhatian khusus, terutama mereka yang menggunakan insulin.
Puasa dapat memicu dua kondisi ekstrem:
Hipoglikemia (gula darah terlalu rendah)
Ditandai lemas, gemetar, keringat dingin, hingga pingsan.
Hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi)
Biasanya terjadi setelah berbuka akibat konsumsi makanan manis berlebihan, yang berisiko memicu komplikasi serius seperti ketoasidosis.
Karena itu, penyesuaian dosis dan jadwal insulin hampir selalu diperlukan selama Ramadan. Pemeriksaan gula darah juga disarankan lebih sering dibanding hari biasa.
“Pasien tidak boleh mengatur dosis sendiri. Semua harus melalui evaluasi dokter,” katanya.
Baca juga: Sambut Ramadan 2026, Kemenag Berangkatkan 2.199 Dai ke Wilayah 3T di Indonesia, Ini Tugasnya
Hipertensi dan Penyesuaian Terapi
Bagi pasien hipertensi, puasa relatif aman bila tekanan darah stabil. Namun jadwal minum obat perlu disesuaikan, terutama bagi yang mengonsumsi obat dua hingga tiga kali sehari.
Obat golongan diuretik memerlukan perhatian khusus karena dapat meningkatkan risiko dehidrasi selama puasa panjang.
Ancaman Dehidrasi pada Penyakit Ginjal
Pada pasien penyakit ginjal kronik, kekurangan cairan dapat memperburuk fungsi ginjal dan memicu gangguan elektrolit.
Untuk stadium ringan yang stabil, puasa masih mungkin dilakukan dengan pengaturan cairan optimal antara berbuka hingga sahur. Namun pada stadium lanjut, risiko medis dinilai lebih besar daripada manfaatnya.
Puasa dan Potensi Manfaat Metabolik
Menariknya, puasa yang dilakukan dengan pola makan sehat justru dapat memberikan dampak metabolik positif, seperti:
Penurunan berat badan
Peningkatan sensitivitas insulin
Penurunan kadar trigliserida
Perbaikan kontrol tekanan darah ringan
Namun dr. Agus mengingatkan, manfaat ini hanya tercapai bila pola makan saat berbuka tetap terkontrol.
“Masalahnya bukan puasanya, tetapi kebiasaan ‘balas dendam’ saat berbuka,” ujarnya.
Baca juga: Puasa Bikin Tenggorokan Kering dan Mimisan? Dokter THT RSUD Dr. Moewardi Ungkap Fakta Medisnya
Tujuh Sinyal Darurat yang Tak Boleh Diabaikan
Pasien penyakit kronis harus segera membatalkan puasa dan mencari pertolongan medis bila mengalami:
Lemas berat disertai gemetar
Keringat dingin berlebihan
Pusing hingga hampir pingsan
Nyeri dada
Sesak napas
Muntah berulang
Tidak buang air kecil seharian
“Dalam kondisi tersebut, mempertahankan puasa justru berbahaya,” tegasnya.
Bagaimana dengan Maag dan GERD?
Pada pasien dengan gangguan lambung ringan yang terkontrol, puasa dapat membantu karena pola makan lebih teratur. Namun pada GERD berat, luka lambung aktif, atau riwayat perdarahan lambung, risiko kekambuhan meningkat.
Pasien disarankan menghindari makanan pedas, asam, berminyak, serta tidak langsung berbaring setelah sahur.
Konsultasi Pra-Ramadan: Langkah yang Sering Diabaikan
Dr. Agus menekankan pentingnya konsultasi sebelum Ramadan untuk:
Menilai stabilitas kondisi
Mengatur ulang dosis dan jadwal obat
Mengidentifikasi faktor risiko
Memberikan edukasi tanda bahaya
“Puasa adalah ibadah yang mulia, tetapi keselamatan tetap prioritas. Jangan sampai niat baik berujung pada kegawatdaruratan medis,” tutupnya.
Dengan perencanaan matang dan pengawasan profesional, banyak pasien penyakit dalam tetap dapat menjalani Ramadan secara aman, terukur, dan bertanggung jawab.
Sebab pada akhirnya, puasa yang baik adalah puasa yang tidak mengorbankan kesehatan.
Dokter RSUD Moewardi ungkap syarat aman puasa bagi pasien diabetes, hipertensi, ginjal, dan maag. Simak tanda bahaya yang wajib diwaspadai.