RIWARA.id - Menyambut datangnya bulan suci Ramadan tahun 2026, Kementerian Agama (Kemenag) melepas keberangkatan 2.199 orang Dai.
Para Dai tersebut diberangkatkan ke wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) serta wilayah perbatasan di seluruh Indonesia.
Mereka akan bertugas selama bulan Ramadan hingga hari raya Idul Fitri untuk berpartisipasi dalam penguatan kehidupan beragama dan ketahanan sosial bangsa.
Acara pelepasan dipusatkan di Jakarta, pada Senin 16 Februari 2026. Namun, ada sebagian yang mengikuti daring dari berbagai daerah.
Di dalam acara itu, hadir Sekretaris Ditjen Bimas Islam Lubenah dan Kepala Bidang Penerangan Agama Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama se-Indonesia.
Selain itu, juga Asisten Deputi Infrastruktur Fisik Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Amrullah, pimpinan BAZNAS, KH. Ahmad Sudrajat dan jajaran Pimpinan BAZNAS Provinsi Riau.
Ada juga Kepala BPJS Kanwil Sumbar, Riau, dan Kepri, Hengki Rosyidin, pimpinan LAZ, serta ormas-ormas mitra dakwah.
Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menun jukkan program Dai 3T bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi menjadi gerakan nasional yang terintegrasi.
Baca juga: Puasa Bikin Tenggorokan Kering dan Mimisan? Dokter THT RSUD Dr. Moewardi Ungkap Fakta Medisnya
"Program Dai 3T ini adalah bagian dari kebijakan nasional untuk penguatan kehidupan beragama. Negara hadir melalui pembinaan rohani dan penguatan ketahanan moral di masyarakat,” ujar Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI, Muchlis M. Hanafi, dikutip Riwara.id dari laman kemenag.go.id, Selasa 17 Februari 2026.
Menurutnya, wilayah 3T dan perbatasan merupakan beranda depan bangsa Indonesia. Di wilayah tersebut, kehadiran negara diuji, ketahanan ideologi diuji, ketangguhan umat juga diuji.
Untuk itu, pengiriman dai menjadi bagian penting dalam menjaga NKRI dari sisi sosial-keagamaan, memperkuat nasionalisme berbasis nilai agama, mencegah radikalisme, ekstremisme, serta potensi konflik sosial.
“Berdakwah di wilayah 3T dan perbatasan itu berat. Tetapi beban moral kita lebih berat di hadapan Allah ketika di pelosok negeri masih ada saudara kita yang tidak mengerti agama dan belum mampu membaca Al-Qur’an,” ungkap Muchlis.
Sebagai informasi, Program Dai 3T dari Kemenag merupakan kerja kolektif dari berbagai pihak, yang digagas sejak lima tahun lalu.
Kemenag membangun sistem dan kebijakan, seme ntara BAZNAS, LAZ, ormas mitra memperkuat jangkauan dan daya dukung di lapangan. Kolaborasi ini membentuk ekosistem dakwah nasional yang berkelanjutan.
Para dai yang ditugaskan di wilayah 3T tidak hanya berperan sebagai penceramah, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial, penguat literasi Al-Qur’an, pendidik karakter, serta penjaga harmoni antarumat.
Dakwah yang dilakukan adalah dakwah yang menenangkan, membangun optimisme, serta menguatkan kebangsaan.
Kemenag juga menegaskan jika dakwah di wilayah 3T harus terintegrasi dengan pemberdayaan ekonomi umat, literasi Al-Quran, pendidikan keagamaan, dan pembinaan keluarga.
Dalam konteks ini, BAZNAS dan LAZ berperan dalam memastikan keberlanjutan program pengiriman Dai di wilayah 3T.
Program pengiriman Dai ini berlangsung selama 32 hari, mulai bulan Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri.
Selama menjalankan tugas, para dai akan mendapatkan pendampingan, koordinasi dengan pemerintah daerah, dukungan logistik, dan pembinaan berkelanjutan.
Terkait program ini, Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat pembinaan keagamaan hingga ke wilayah terluar Indonesia.
Program Dai 3T merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam m embangun ketahanan bangsa melalui pendekatan keagamaan yang moderat, inklusif, serta membumi.
Kemenag berharap dari program ini para dai mampu menjalankan amanah dengan integritas, kedekatan sosial, dan semangat pengabdian.
Menyambut datangnya bulan suci Ramadan tahun 2026, Kemenag melepas keberangkatan para Dai ke wlayah 3T.