RIWARA.id – Suara serak bisa terjadi ketika seseorang mengalami batuk. Namun, ternyata suara serak yang berkepanjangan bisa menjadi tanda awal ganggungan laring. Perubahan suara ini kadang dianggap sepele sehingga menunda diagnosis penyakit.
Laring yang terletak di bagian depan leher, di antara tenggorok (faring) dan batang tenggorok (trakea) sangat berperan penting dalam pembentukan suara, pernapasan, dan perlindungan jalan napas. Ternyata, pertumbuhan jaringan yang abnormal pada laring bisa mengakibatkan Tumor Laring yang bisa bersifat jinak maupun ganas.
“Tumor Laring sebagian besar bersifat ganas. Lebih dari 95% berupa karsinoma sel skuamosa. Tumor ini dapat berasal dari supraglottis, glottis (pita suara), atau subglottis,” tutur dr. Ahmad Nurdiansyah, Sp. THT-BKL, Subsp. Onkologi THTBKL, FICS saat menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Awam World Cancer Day yang bertema “United by Unique” Bersatu dalam Keunikan, Peduli Kanker Bersama. Acara itu digelar di RSUD Dr. Moewardi, Rabu 4 Februari 2026.
Baca juga: Proses Hukum Mulai Bergulir untuk Kasus Pria Tendang Kucing hingga Mati di Blora
Ia menyebut jika jumlah penderita Kanker Larin g tidak terlalu besar. Dari data WHO tahun 2020, jumlah penderita Kanker Laring mencapai 184,615. Kanker ini menjangkiti 11,1 per 100.000 orang laki-laki dan 1,4 per 100.000 orang perempuan. Meskipun angkanya tidak besar, namun kanker ini perlu diwaspadai.
Ada sejumlah faktor risiko yang menyebabkan Tumor Laring yaitu berusia lebih dari 40 tahun, merokok, mengonsumsi alkohol, infeksi HPV, serta Gerd. Gejala Tumor Laring di antaranya serak yang berkepanjangan, nyeri ketika menelan, batuk berdarah, benjolan di leher, sesak napas, napas berbunyi, serta penurunan berat badan tanpa sebab.
Bagi yang merasakan gejala tersebut, disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan. Pemeriksaan awal berupa wawancara medis, pemeriksaan fisik telinga, hidung dan tenggorokan. Juga pemeriksaan penunjang seperti langiroskopi, CT, dan MRI. Apabila ada kecurigaan pada gejala Kanker Laring, maka dilanjutkan dengan biopsi.
Dalam pemaparannya, dr. Ahmad mengungkapkan ada 4 stadium dalam Kanker Laring. Stadium I berupa tumor kecil dan terbatas di laring. Stadium II kondisi tumor lebih luas namun belum ke kelenjar. Stadium III tumor lebih besar dan kelenjar leher terlihat. Lalu, Stadium IV tumor telah meluas ke organ di sekitarnya.
“Tumor Laring bisa ditangani dengan 3 cara yaitu operasi, radioterapi dan kemoterapi. Peluang sembuh tergantung dengan stadium dan lokasi. Bila terdeteksi lebih dini, maka pengobatannya bisa maksimal sehingga bisa kembali pulih,” jelas dr. Ahmad.
Ia menyebut ada 3 prognosis dan komplik asi yang wajib diketahui oleh masyarakat terkait Kanker Laring:
- Untuk Kanker Laring stadium awal, terutama di pita suara, angka penyintasan 5 tahun dapat mencapai lebih dari 80 – 90% dengan terapi yang tepat.
- Pada stadium lanjut, peluang sembuh menurun dengan angka kesintasan 5 tahun sekitar 40 – 60%, tergantung luas penyebarannya dan respons terhadap terapi.
- Faktor lain yang mempengaruhi prognosis meliputi kebiasaan merokok, keterlibatan kelenjar getah bening, serta kepatuhan menjalani terapi dan kontrol.
Baca juga: Mengenal Apa Itu Kaheksia Kanker, Gejala yang Dialami dan Bagaimana Cara Pencegahannya
“Tumor atau Kanker Laring bisa dicegah dengan berhenti merokok, stop mengonsumsi alkohol, menjaga kesehatan suara, menghindari paparan zat berbahaya, dan melakukan pemeriksaan lebih dini jika ada perubahan suara,” imbuh dr. Ahmad.
Hati-hati, suara serak yang berkepanjangan bisa menjadi tanda awal ganggungan laring. Deteksi dini bisa mencegah Kanker Laring.