Revitalisasi Keraton Kulon Dimulai, Gusti Moeng dan PB XIV Tegaskan Pesan Penting soal Keaslian Bangunan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:14 WIB
GKR Wandansari atau Gusti Moeng bersama rombongan meninjau kawasan Keraton Kulon Karaton Surakarta Hadiningrat dalam rangka persiapan revitalisasi tiga bangunan bersejarah Jumat 16 Oktober2026
GKR Wandansari atau Gusti Moeng bersama rombongan meninjau kawasan Keraton Kulon Karaton Surakarta Hadiningrat dalam rangka persiapan revitalisasi tiga bangunan bersejarah Jumat 16 Oktober2026 (Foto: Rama, Dok. LDA Karaton Surakarta)

 

RIWARA.ID, SURAKARTA — Revitalisasi kawasan Keraton Kulon atau Keraton Kilen di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat mulai memasuki tahap pelaksanaan. Di tengah persiapan pekerjaan terhadap tiga bangunan bersejarah, muncul satu penekanan penting dari pihak karaton: pemulihan harus mengutamakan keaslian, bukan sekadar menghadirkan bangunan yang terlihat baru.

Salah satu poin yang mengemuka dalam koordinasi pada Jumat (16/10/2026) ialah ditiadakannya rencana penambahan tembok baru. Pihak karaton menghendaki agar bangunan yang rusak diperbaiki, bagian yang rapuh diperkuat, dan komponen yang masih layak dipertahankan sejauh memungkinkan secara teknis.

Aspirasi tersebut disampaikan dalam rangkaian persiapan revitalisasi yang melibatkan Kementerian Kebudayaan, tim teknis, tenaga ahli, pelaksana pekerjaan, serta perwakilan Karaton Surakarta Hadiningrat.

KPH Eddy Wirabhumi, salah satu anggota tim hukum Karaton Surakarta Hadiningrat/Lembaga Dewan Adat, menjelaskan bahwa persiapan diawali dengan rapat Pre Construction Meeting (PCM) secara daring. Set elah rapat, kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan langsung untuk mencocokkan gambar desain dengan kondisi faktual bangunan.

“Pada hari ini dilakukan rapat secara daring, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke lokasi bersama tim perencana, manajemen konstruksi, pelaksana, dan pihak-pihak terkait, termasuk dari karaton. Per hari ini, revitalisasi Keraton Kulon dinyatakan dimulai sehingga peralatan dan kebutuhan yang diperlukan untuk pekerjaan sudah bisa mulai didatangkan ke lokasi,” kata Eddy dalam keterangan pers, Sabtu (17/10/2026) pagi.

Gusti Moeng dan PB XIV Sampaikan Aspirasi

Dalam proses persiapan tersebut, GKR Wandansari atau Gusti Moeng, selaku Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat, menyampaikan aspirasi mengenai pentingnya menjaga karakter asli kawasan.

Sinuhun Sri Susuhunan Pakubuwono XIV atau PB XIV, yang sebelumnya dikenal sebagai KGPH Hangabehi, juga mengikuti rapat melalui Zoom dan menyampaikan pesan terkait pelaksanaan revitalisasi.

Menurut Eddy, pertemuan tersebut tidak hanya membahas kesiapan pekerjaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memastikan desain yang telah disiapkan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

“Jadi, sebetulnya lebih kepada menyesuaikan antara gambar desain dengan kondisi di lokasi. Ada aspirasi dari karaton yang diwakili Gusti Moeng maupun Sinuhun Pakubuwono XIV. Kemarin waktu Zoom, Sinuhun PB XIV juga sempat hadir dan menyampaikan pesan-pesan beliau. Setelah Zoom, kemudian dilanjutkan ke lapangan untuk mencocokkan gambar dengan kondisi lokasi,” ungkapnya.

Penyesuaian itu menjadi penting karena bangunan bersejarah tidak dapat diperlakukan sama seperti bangunan baru. Setiap perubahan perlu mempertimbangkan kondisi fisik, karakter arsitektur, dan nilai historis yang melekat pada kawasan.

Bagi pihak karaton, revitalisasi diharapkan mampu memulihkan fungsi dan kondisi bangunan tanpa menghilangkan identitas yang terbentuk sepanjang sejarahnya.

Tembok Baru Ditiadakan, Bangunan Asli Jadi Prioritas

Salah satu poin paling menonjol dalam peninjauan lapangan adalah ditiadakannya rencana penambahan tembok baru.

Eddy menjelaskan bahwa Keraton Kulon merupakan bagian penting dari lingkungan inti karaton. Karena itu, pendekatan yang diutamakan ialah memperbaiki bangunan yang sudah ada, bukan menambah konstruksi baru yang berpotensi mengubah karakter kawasan.

“Di lapangan tadi disepakati bahwa rencana penambahan tembok baru ditiadakan. Keraton Kulon ini merupakan bagian yang sangat inti di karaton. Karena itu, yang disepakati adalah mengembalikan bangunan seperti aslinya. Bangunan yang rusak diperbaiki, bagian yang rapuh diperkuat kembali, tanpa penambahan-penambahan baru,” kata Eddy.

Meski demikian, kebutuhan fasilitas pendukung tetap dapat dipertimbangkan apabila benar-benar diperlukan. Penambahan tersebut harus dibatasi dan dirancang agar selaras dengan lingkungan bersejarah.

Eddy mencontohkan fasilitas kamar mandi yang dapat diperbarui untuk memenuhi kebutuhan kualitas dan kenyamanan. Namun, pembaruan tetap perlu mempertimbangkan karakter bangunan dan kawasan karaton.

Prinsip yang ditekankan adalah melakukan perbaikan secara terukur. Bagian yang rusak ditangani, elemen yang rapuh diperkuat, dan komponen yang masih layak tidak langsung diganti tanpa pemeriksaan.

Arkeolog Ingatkan Jangan Asal Membongkar

Perhatian terhadap keaslian bangunan juga muncul dalam masukan dua arkeolog yang hadir saat peninjauan lapangan.

Menurut Eddy, para arkeolog menekankan pentingnya mengetahui ting kat kerusakan bangunan sebelum pembongkaran dilakukan. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk menentukan elemen mana yang masih dapat dipertahankan dan bagian mana yang memang membutuhkan penanganan khusus.

“Arkeolog yang hadir tadi juga menyampaikan pesan khusus bahwa sebelum dibongkar, sebaiknya diketahui lebih dahulu tingkat kerusakannya. Jadi, kalau masih bisa digunakan, ya digunakan kembali, jangan langsung diganti. Intinya sejalan dengan pesan yang kami sampaikan,” ujarnya.

Pendekatan ini menempatkan pemeriksaan kondisi bangunan sebagai bagian penting sebelum menentukan metode pekerjaan. Dengan begitu, keputusan pembongkaran maupun penggantian material dapat didasarkan pada kebutuhan teknis dan pertimbangan pelestarian.

Dalam penanganan bangunan bersejarah, pemulihan tidak semata-mata diukur dari tampilan akhir. Ketepatan metode perbaikan dan kemampuan mempertahankan elemen asli juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga warisan budaya.

Ketinggian Tanah Diperhatikan, Air Jangan Sampai Masuk

Keraton Kulon Kawasan Keraton Surakarta
Keraton Kulon Kawasan Keraton Surakarta (Foto: Inung R Sulistyo - Riwara.id)

 

Persoalan lain yang turut dibahas ialah elevasi atau ketinggian tanah di kawasan Keraton Kulon.

Eddy menjelaskan bahwa ketinggian jalan di luar kawasa n mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Sementara itu, menurut keterangannya, kawasan yang ditinjau belum mengalami peninggian sejak era pemerintahan Pakubuwana X.

Perbedaan elevasi tersebut perlu diperhitungkan dalam perencanaan agar air dari jalan di luar kawasan tidak mengalir masuk ke lingkungan karaton.

“Kalau leveling-nya tidak diperhitungkan, air dari jalan di luar justru bisa masuk ke Keraton Kulon. Tadi hal itu juga menjadi perhatian dalam pembahasan,” jelasnya.

Karena itu, penanganan ketinggian tanah perlu memperhatikan kondisi lingkungan, arah aliran air, dan karakter bangunan bersejarah. Perencanaan yang tepat diharapkan dapat membantu melindungi bangunan tanpa mengorbankan keaslian kawasan.

Aspek ini menunjukkan bahwa revitalisasi tidak hanya berkaitan dengan tampilan arsitektur, tetapi juga menyangkut perlindungan bangunan dalam menghadapi kondisi lingkungan sekitar.

Sirap atau Genteng? Material Atap Belum Diputuskan

Pembahasan mengenai material atap juga menjadi bagian dari koordinasi teknis. Sejumlah bangunan di kawasan tersebut saat ini menggunakan genteng, sedangkan penggunaan sirap dipertimbangkan sebagai alternatif yang dinilai dapat menyesuaikan karakter arsitektur bangunan keraton.

Namun, keputusan mengenai material yang akan digunakan belum ditetapkan secara final.

“Bangunan-bangunan di situ sekarang sudah menggunakan genteng. Ada usulan agar bangunan tersebut menggunakan sirap seperti bangunan keraton. Namun, apakah atapnya dikembalikan ke sirap atau tetap menggunakan genteng, hal itu masih perlu dirundingkan dan menjadi bahan pertimbangan dalam rapat selanjutnya,” ungkap Eddy.

Pembahasan lanjutan diperlukan untuk mempertimbangkan kondisi bangunan, kebutuhan teknis, kesesuaian desain, serta nilai historis material yang digunakan.

Dengan demikian, keputusan akhir mengenai atap tidak hanya mempertimbangkan ketahanan, tetapi juga keselarasan dengan karakter arsitektur ka wasan Karaton Surakarta Hadiningrat.

Tiga Bangunan Keraton Kulon Menjadi Sasaran Revitalisasi

Revitalisasi ini mencakup tiga bangunan, yakni Bangsal Pradongga Lor, Bangsal Bujana, dan Bangsal Pradongga Kidul.

Sebelum pekerjaan berjalan lebih lanjut, rapat PCM membahas berbagai kebutuhan persiapan, mulai dari struktur organisasi pelaksanaan, penugasan personel, metode kerja, jadwal beserta kurva-S, hingga mobilisasi tenaga kerja, peralatan, dan material.

Pembahasan juga mencakup pengendalian mutu pekerjaan, keselamatan konstruksi, mitigasi risiko, serta mekanisme koordinasi antara pihak-pihak yang terlibat.

Rapat tersebut dihadiri Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Revitalisasi, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Tedjowulan selaku utusan pemerintah melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2026, GKR Wandansari atau Gusti Moeng, serta B.R.A. Putri Woelan Sari Dewi, S.H., M.Kn., dan Basuki Teguh Yuwono, S.Sn., M.Sn., selaku Staf Khusus Menteri Kebudayaan.

Turut terlibat kontraktor pelaksana revitalisasi Keraton Kilen, konsultan manajemen konstruksi, penanggung jawab kegiatan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah, dan tim teknis PPK.

Setelah rapat daring, peninjauan lapangan dilakukan untuk mencermati kondisi bangunan dan menyelaraskan gambar desain dengan situasi sebenarnya.

Peralatan dan kebutuhan pekerjaan sudah dapat mulai didatangkan ke lokasi seiring dimulainya tahapan pelaksanaan. Namun, sejumlah persoalan teknis, termasuk pemilihan material atap, masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut.

Revitalisasi Bukan Sekadar Memperbarui Bangunan

Bagi Karaton Surakarta Hadiningrat, Keraton Kulon merupakan bagian dari lingkungan bersejarah yang menyimpan nilai budaya dan karakter arsitektur tersendiri.

Karena itu, revitalisasi tiga bangunan tersebut menghadirkan tantangan untuk menyeimbangkan kebutuhan perbaikan fisik dengan kewajiban menjaga keaslian warisan budaya.

Penyesuaian desain, pemeriksaan sebelum pembongkaran, pemanfaatan kembali komponen yang masih layak, serta perhitungan elevasi tanah menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan selama pekerjaan berlangsung.

Koordinasi antara Kementerian Kebudayaan, tim teknis, tenaga ahli, kontraktor, dan pihak karaton diharapkan memastikan pelaksanaan pekerjaan berjalan dengan perencanaan matang.

Pesan utama yang mengemuka dalam tahap awal ini jelas: bangunan yang rusak perlu dipulihkan, tetapi karakter asli kawasan tidak boleh diabaikan.

Revitalisasi Keraton Kulon pada akhirnya tidak hanya menyangkut bagaimana bangunan terlihat setelah diperbaiki. Lebih dari itu, pekerjaan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan sejarah Karaton Surakarta Hadiningrat agar nilai arsitektur dan warisan budayanya tetap dapat dikenali oleh generasi mendatang.*

Revitalisasi Keraton Kulon di Karaton Surakarta Hadiningrat mulai berjalan. Gusti Moeng dan PB XIV menyampaikan aspirasi agar bangunan bersejarah dipulihkan sesuai bentuk aslinya, tanpa penambahan tembok baru.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories