Jogja Status Awas Kekeringan: El Nino Sangat Kuat Paksa Awal Musim Hujan Mundur Hingga Desember 2026

Minggu, 11 Oktober 2026 | 14:48 WIB
Ilustrasi - BMKG Prediksi Puncak Kemarau dan Fenomena El Nino
Ilustrasi - BMKG Prediksi Puncak Kemarau dan Fenomena El Nino (Foto: magnific.com)

RIWARA.id – Seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi berada dalam status Awas Kekeringan Meteorologis pada pertengahan Oktober 2026, memicu ancaman krisis air bersih dan gangguan sektor pertanian yang kian meluas.

Ancaman kekeringan ekstrem ini dipicu oleh gabungan fenomena atmosfer global yang cukup langka, termasuk hadirnya fenomena El Niño fase sangat kuat yang terus mengepung wilayah Indonesia.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II D.I. Yogyakarta, Mamenun, mengonfirmasi bahwa pemicu utama kekeringan parah ini adalah dominasi angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering secara masif.

Selain El Niño fase sangat kuat, fenomena Dipole Mode Index positif juga diprediksi bakal bertahan hingga awal tahun 2027, yang secara drastis menekan pertumbuhan awan hujan.

Situasi makin diperparah oleh fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang diperkirakan tidak aktif di wilayah Indonesia, sehingga meminimalkan peluang munculnya hujan lokal.

Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa curah hujan pada Dasarian II Oktober hingga awal November 2026 berada dalam kategori sangat rendah, yakni hanya berkisar antar a 0 hingga 50 milimeter per dasarian.

Sifat hujan di seluruh wilayah DIY secara keseluruhan dikategorikan berada di bawah rata-rata normal klimatologisnya, membuat cadangan air tanah kian menyusut tajam.

Bahkan, akumulasi curah hujan bulanan pada November 2026 diperkirakan masih bertahan di level rendah, yakni berkisar antara 51 hingga 300 milimeter saja.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada penundaan kedatangan awal musim hujan 2026/2027 di Yogyakarta, yang mundur minimal tiga dasarian atau sekitar satu bulan dari jadwal biasanya.

Musim hujan diprediksi baru akan bergulir secara bertahap mulai Dasarian III November hingga Dasarian II Desember 2026 di berbagai penjuru wilayah DIY.

Mundurnya awal musim hujan ini secara otomatis memangkas durasi periode penghujan di DIY menjadi jauh lebih pendek, yakni hanya berlangsung sekitar 13 hingga 18 dasarian.

Peningkatan curah hujan baru akan terasa signifikan pada Desember 2026 dengan kisaran 151 hingga 500 milimeter, sebelum akhirnya mencapai puncak musim hujan pada Februari dan Maret 2027.

Pada periode puncak tersebut, akumulasi curah hujan diprakirakan mencapai 1.000 hingga 2.000 milimeter dengan sifat hujan kembali dalam kategori normal, sebelum musim hujan berakhir pada April 2027.

Peme rintah daerah, pemangku kepentingan di sektor pertanian, serta pengelola sumber daya air diimbau segera melancarkan aksi mitigasi terukur guna menekan dampak kekeringan panjang yang kini di depan mata.

 

BMKG menetapkan DIY status Awas Kekeringan. El Nino sangat kuat bikin musim hujan mundur ke Desember. Simak peta dampaknya di sini!

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories