9 Hari Melawan Luka Bakar, Sekuriti Hotel ini Akhirnya Meregang Nyawa dan Jadi Korban ke-6 Karhutla Bromo

Jumat, 23 Oktober 2026 | 20:55 WIB
Suraji sekuriti Hotel Artotel asal Probolinggo meninggal dunia usai sembilan hari dirawat di RSUD Dr Soetomo Surabaya
Suraji sekuriti Hotel Artotel asal Probolinggo meninggal dunia usai sembilan hari dirawat di RSUD Dr Soetomo Surabaya

SURABAYA, RIWARA.ID – Duka kembali menyelimuti para korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo. Suraji, seorang petugas keamanan atau sekuriti Hotel Artotel asal Desa Lumbang, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, meninggal dunia pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Suraji menghembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif selama sembilan hari di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Jenazahnya kemudian dibawa pulang ke rumah duka di Probolinggo.

Kepergian Suraji menambah daftar korban meninggal dunia akibat karhutla Bromo menjadi enam orang. Sebelumnya, Munawi, anggota Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP), juga meninggal dunia setelah menjalani perawatan akibat luka bakar yang dideritanya.

Peristiwa ini kembali menyisakan duka mendalam, terutama bagi keluarga korban yang selama beberapa hari menanti perkembangan kondisi orang-orang terkasih mereka.

Luka Bakar Luas dan Gangguan Pernafasan

Direktur RSUD Tongas, dr. Catur Prangga Wadhana, menjelaskan bahwa para korban karhutla Bromo mengalami luka bakar serius dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

Sebagian besar korban mengalami luka bakar pada lebih dari 50 persen bagian tubuh. Kondisi tersebut semakin berat karena sejumlah pasien juga mengalami gangguan pada saluran pernapasan akibat paparan panas dan asap.

Menurut Catur, kombinasi luka bakar yang luas dan gangguan pernapasan meningkatkan risiko komplikasi serius selama pasien menjalani perawatan.

“Rata-rata mengalami luka bakar di seluruh tubuh. Lebih dari 50 persen, dan yang berat juga pada saluran napas. Pada akhirnya, kondisi seperti ini berisiko menyebabkan kegagalan multiorgan,” jelas Catur.

Ia menerangkan, pasien dengan luka bakar berat membutuhkan penanganan intensif serta pemantauan kondisi secara berkelanjutan. Perubahan kondisi dapat terjadi sewaktu-waktu, termasuk ketika pasien sebelumnya sempat menunjukkan perkembangan yang lebih baik.

Kondisi Pasien Memburuk Meski Sempat Stabil

Dalam penanganan korban karhutla Bromo, tim medis menghadapi kondisi pasien yang cukup kompleks. Luasnya luka bakar membuat proses pemulihan membutuhkan waktu dan pengawasan ketat.

Catur mengungkapkan, salah satu korban bahkan sempat menjalani operasi cangkok kulit. Namun, kondisi pasien tersebut tidak stabil sehingga membutuhkan perawatan di ruang intensif atau intensive care unit (ICU).

Sementara itu, Munawi sempat dinilai memiliki kondisi yang relatif lebih stabil dibandingkan pasien lainnya. Meski demikian, kondisinya kemudian memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.

“Kalau Pak Munawi, dikatakan lebih stabil. Namun, akhirnya justru Pak Munawi yang meninggal lebih dahulu,” ungkap Catur.

Menurutnya, luka bakar yang luas dapat memicu berbagai komplikasi, terlebih jika disertai gangguan saluran pernapasan. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi fungsi sejumlah organ tubuh dan meningkatkan risiko kegagalan multiorgan.

RSUD Tongas Sampaikan Belasungkawa

Meninggalnya Suraji menjadi kabar duka bagi keluarga dan pihak-pihak yang terlibat dalam penanganan korban karhutla Bromo.

Atas kepergian korban, Catur menyampaikan belasungkawa mewakili seluruh jajaran RSUD Tongas. Ia berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi musibah tersebut.

“Kami sebagai Direktur RSUD Tongas, mewakili seluruh civitas hospitalia, menyampaikan permohonan maaf dan belasungkawa sedalam-dalamnya atas wafatnya Tuan Suraji, salah satu korban kebakaran di Bromo,” ujarnya.

Ia juga mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan seluruh amal ibadahnya diterima.

“Mudah-mudahan amal ibadah beliau diterima oleh Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran atas musibah yang diterima. Kami juga berharap kejadian serupa tidak terulang kembali,” pungkasnya.

Karhutla Bromo Jadi Pengingat Keselamatan

Bertambahnya korban meninggal dunia menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo membawa risiko serius bagi keselamatan manusia.

Selain menimbulkan kerusakan lingkungan, kebakaran juga dapat menyebabkan luka bakar berat, gangguan pernapasan, hingga komplikasi yang mengancam nyawa.

Tragedi ini menegaskan pentingnya langkah pencegahan kebakaran, kesiapsiagaan petugas, serta penerapan prosedur keselamatan bagi setiap orang yang terlibat dalam penanganan kebakaran di kawasan rawan karhutla.

Di tengah duka yang masih menyelimuti keluarga korban, harapan agar peristiwa serupa tidak kembali terulang menjadi pesan penting dari tragedi kebakaran di kawasan Gunung Bromo tersebut. ***

Korban karhutla Gunung Bromo bertambah menjadi enam orang setelah Suraji, sekuriti Hotel Artotel asal Probolinggo, meninggal dunia usai sembilan hari dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Editor
Ali Mahfud -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman.

 Stories