RIWARA.id – Beredar kabar di media sosial jika abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau telah sampai ke wilayah Jawa Tengah (Jateng). Namun, berdasarkan asesmen di beberapa wilayah dan analisis meteorologi, hingga saat ini belum ada residu abu vulkanik yang sampai di Jateng.
Terkait kabar tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) mengimbau masyarakat untuk tidak panik terhadap dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng akan terus memantau kondisi di lapangan.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan pihaknya bersama BPBD di 35 kabupaten/kota telah melakukan asesmen di sejumlah wilayah yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat. Mulai dari Cilacap, Kebumen, Purworejo, Brebes, Tegal, Banyumas, hingga ke wilayah timur. Hasilnya, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau belum berdampak pada aktivitas warga.
“Ada informasi yang masih simpang siur terkait dampak langsung abu letusan Gunung Anak Krakatau di Jateng. Namun, untuk menjelaskan kebenaran isu tersebut, harus didukung dengan data yang valid. Setelah kita cek di beberapa wilayah, belum ada aktivitas masyarakat yang terganggu karena abu vulkanik,” ujar Bergas dikutip Riwara.id dari laman jatengprov.go.id, Selasa 8 September 2026.
Namun demikian, pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk waspada dan tidak panik. Bergas juga menginstruksikan agar BPBD di seluruh Jawa Tengah mengadakan kegiatan edukasi terkait antisipasi terhadap abu vulkanik maupun dampak musim kemarau.
“Kalau kita bicara di musim ini (kemarau), debu itu pasti luar biasa. Maka penggunaan masker menjadi sangat penting. Selain itu, tidak terlalu banyak keluar rumah. Apabila terpaksa beraktivitas di luar rumah, harus banyak minum air putih. Jadi, tetap waspada tetapi tidak khawatir berlebihan,” ungkap Bergas.
Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, mengatakan dari data yang dirilis oleh Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin dan analisis citra satelit BMKG Himawari, angin permukaan yang berada di ketinggian 1.500 meter bergerak dari timur ke barat.
“Jadi, kenapa kemarin agak heboh (media sosial), barangkali memang di lapisan atas itu trajektori debu vulkanik, yang diperkirakan sampai ke wilayah Jawa Tengah. Sementara, lapisan di bawahnya arah anginnya ke arah dari timur ke barat,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga melakukan analisis dengan paper test pada 6 dan 7 September 2026 di lingkungan Bandara Ahmad Yani Semarang. Berdasarkan hasil uji tersebut, debu vulkanik Gunung Anak Krakatau dinyatakan negatif. Tidak hanya di Semarang, paper test juga dilakukan pada Stasiun Klimatologi Kertajati, Stasiun Meteorologi Maritim Tegal, dan Cilacap.
“Paper test di sekitar Bandara Ahmad Yani hasilnya negatif. Teman-teman di Staklim Kertajati Majalengka, di Stamar Tegal mewakili Pantura juga negatif, Tunggul Wulung-Cilacap juga negatif. Maka, di Jawa Tengah wilayah perbatasan dengan Jabar, di utara dan selatan itu hasilnya negatif,” imbuhnya.
Beredar kabar jika abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sudah sampai wilayah Jawa Tengah. BPBD Jateng mengeklaim hingga saat ini masih negatif abu vulkanik.