Bedhaya Ketawang Jelang Jumenengan Paku Buwana XIV: 9 Penari Menjaga Pakem Sakral Karaton Surakarta

Sabtu, 05 September 2026 | 02:57 WIB
SISKS Pakoe Boewono XIV
SISKS Pakoe Boewono XIV (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

 

Surakarta, Riwara.id  — Ketika malam mulai menyelimuti Karaton Surakarta Hadiningrat, sembilan perempuan bersiap di Pendhapa Sasana Sewaka. Jumat (4/9/2026), pukul 20.00–22.00 WIB, mereka menjalani latihan pamungkas Tari Bedhaya Ketawang menjelang rangkaian Tingalan Dalem Jumenengan SISKS Paku Buwana XIV.

Selama dua jam, gerak para penari berlangsung perlahan, terukur, dan serempak mengikuti iringan gamelan. Sesaji dan tata ruang telah dipersiapkan. Suasananya jauh dari kesan latihan tari biasa. Ada tata yang dijaga, ada pakem yang dipertahankan, dan ada tradisi panjang yang hendak kembali dihidupkan.

Bagi sembilan penari tersebut, latihan malam itu bukan hanya persiapan sebelum pementasan. Mereka tengah menjalani bagian dari sebuah warisan budaya yang mempertemukan seni tari, filosofi Jawa, spiritualitas, sejarah Mataram, dan tradisi takhta Karaton Surakarta.

9 Penari Bedhaya Ketawang dan Makna Angka Sembilan

Bedhaya Ketawang Jelang Jumenengan Paku Buwana XIV
Bedhaya Ketawang Jelang Jumenengan Paku Buwana XIV (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Salah satu unsur paling khas dalam Tari Bedhaya Ketawang adalah jumlah penarinya.

Tarian tersebut ditarikan oleh sembilan orang penari perempuan. Dalam pakem dan pemaknaan tradisi yang dijaga di lingkungan Karaton Surakarta, angka sembilan memiliki arti filosofis dan spiritual yang sangat mendalam.

Dalam kosmologi Jawa, angka sembilan kerap dimaknai sebagai simbol kesempurnaan. Karena itu, sembilan penari Bedhaya Ketawang bukan sekadar jumlah untuk memenuhi kebutuhan koreografi.

Angka tersebut menjadi bagian dari struktur dan simbolisme tarian.

Dalam pemahaman pakem tradisi, formasi sembilan penari dijaga sebagai bagian dari keutuhan Bedhaya Ketawang. Jumlah tersebut tidak ditempatkan sebagai unsur artistik yang dapat diubah secara bebas karena melekat dengan pemaknaan filosofis dan spiritual tarian.

Dengan demikian, menjaga sembilan penari berarti juga menjaga salah satu identitas utama Bedhaya Ketawang sebagai pusaka budaya Karaton Surakarta.

Latihan Pamungkas Bedhaya Ketawang Berlangsung Khidmat

Latihan pamungkas pada Jumat malam tersebut dilakukan dengan memperhatikan berbagai unsur yang menyertai pelaksanaan Bedhaya Ketawang.

Sesaji, tata ruang, dan iringan gamelan dipersiapkan untuk membangun suasana yang sesuai dengan tata tradisi.

Para penari kemudian menjalani latihan dengan konsentrasi penuh.

Gerakan yang bagi penonton terlihat sederhana dan lembut sesungguhnya membutuhkan ketepatan tinggi. Keselarasan sembilan penari dengan iringan gamelan menjadi bagian penting dari keseluruhan tarian.

Namun latihan tersebut tidak hanya berbicara tentang teknik.

Dalam konteks tradisi keraton, persiapan semacam ini juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan kekhidmatan dan kesinambungan tata Bedhaya Ketawang.

Ada sesuatu yang diwariskan dari generasi sebelumnya dan harus dijalankan kembali oleh generasi sekarang.

Bedhaya Ketawang, Tari Sakral dalam Tradisi Jumenengan

Bedhaya Ketawang mempunyai kedudukan khusus dalam tradisi Karaton Surakarta Hadiningrat.

Tarian ini menjadi bagian dari Tingalan Dalem Jumenengan, yaitu rangkaian yang berkaitan dengan momentum kenaikan takhta raja.

Karena kedudukannya tersebut, Bedhaya Ketawang tidak dapat dipisahkan dari konteks jumenengan.

Tarian, gamelan, tata ruang, sesaji, jumlah penari, hingga suasana pelaksanaan menjadi bagian dari keseluruhan tradisi.

Itulah sebabnya latihan sehari sebelum pelaksanaan mempunyai arti tersendiri.

Latihan pamungkas bukan hanya memastikan para penari mengingat gerakan. Ia juga menjadi proses untuk memastikan seluruh unsur yang menyertai tarian berada dalam kesiapan.

Kisah Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul

Di balik Bedhaya Ketawang terdapat narasi spiritual yang berkembang dalam tradisi Mataram.

Salah satu kisah tersebut menghubungkan asal-usul tarian dengan Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam.

Dalam kisah tradisional yang berkembang, Panembahan Senopati menjalani laku spiritual di kawasan pesisir Laut Selatan. Laku tersebut kemudian dikisahkan menarik perhatian Kanjeng Ratu Kencanasari atau Kanjeng Ratu Kidul, sosok yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai penguasa Laut Selatan.

Dalam narasi tersebut, Kanjeng Ratu Kidul kemudian dikaitkan dengan terciptanya Bedhaya Ketawang sebagai simbol curahan cinta serta hubungan spiritual dengan Panembahan Senopati dan raja-raja keturunan Mataram.

Kisah tersebut merupakan bagian dari narasi spiritual dan tradisi budaya Jawa yang berkembang mengenai Bedhaya Ketawang.

Dalam perjalanan kebudayaan keraton, narasi tersebut turut memberikan lapisan makna terhadap kedudukan Bedhaya Ketawang sebagai tari yang berkaitan dengan tradisi raja-raja Mataram.

Di dalamnya bertemu mitologi, spiritualitas, seni, sejarah, dan simbol kekuasaan Jawa.

Dari BRM Suryo Suharto hingga Paku Buwana XIV

PB XIV Hangabehi Menghadiri Garebeg Maulud di Karaton Surakarta Hadiningrat, Rabu 26 Agustus 2026
PB XIV Hangabehi Menghadiri Garebeg Maulud di Karaton Surakarta Hadiningrat, Rabu 26 Agustus 2026 (Foto: Riwara.id/Inung R Sulistyo)

 

Rangkaian menuju Jumenengan Paku Buwana XIV berlangsung dalam babak baru sejarah Karaton Surakarta.

SISKS Paku Buwana XIV lahir dengan nama BRM Suryo Suharto pada 5 Februari 1985.

Ketika ayahandanya, Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, menjadi raja, BRM Suryo Suharto kemudian diangkat menjadi GPH Mangkubumi.

Pada 2022, ia kemudian diangkat melalui prosesi adat menjadi KGPH Hangabehi.

Sri Susuhunan Pakubuwono XIII wafat pada Minggu, 2 November 2025, dalam usia 77 tahun.

Selanjutnya, pada 13 November 2025, KGPH Hangabehi mendeklarasikan diri sebagai SISKS Paku Buwana XIV, menyatakan dirinya sebagai penerus takhta ayahandanya.

Rangkaian menuju Tingalan Dalem Jumenengan kemudian menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Namun, pergantian sosok yang berada di takhta tidak berdiri sendiri. Di belakangnya terdapat berbagai tradisi dan tata budaya yang ikut menyertai momentum jumenengan.

Salah satunya adalah Bedhaya Ketawang.

Mengapa Bedhaya Ketawang Begitu Penting?

Bagi Karaton Surakarta, Bedhaya Ketawang tidak hanya memiliki nilai estetika.

Tarian tersebut membawa seperangkat nilai yang meliputi pakem, simbol, tata, spiritualitas, serta sejarah kebudayaan Jawa.

Karena itu, setiap unsur memiliki konteksnya sendiri.

Sembilan penari menjadi bagian dari identitas tarian. Gamelan menjadi pengiring yang menyatu dengan gerak. Tata ruang menciptakan konteks pelaksanaan. Sesaji menjadi bagian dari kelengkapan tradisi.

Semua unsur tersebut membentuk satu kesatuan.

Jika hanya melihat hasil akhirnya, publik mungkin akan menyaksikan sebuah tarian yang indah.

Namun jika melihat prosesnya, Bedhaya Ketawang memperlihatkan bagaimana sebuah warisan budaya dijaga melalui disiplin dan pewarisan pengetahuan.

Dua Jam yang Menjaga Ingatan Budaya Jawa

Pukul 20.00 hingga 22.00 WIB, latihan berlangsung.

Dua jam tersebut mungkin terlihat singkat dibandingkan perjalanan panjang Bedhaya Ketawang.

Namun bagi sembilan penari, waktu tersebut menjadi bagian dari persiapan untuk menjalankan sebuah tradisi yang tidak mereka ciptakan sendiri.

Mereka menerima warisan dari generasi sebelumnya.

Mereka mempelajari geraknya.

Mereka memahami tata yang menyertainya.

Kemudian mereka menjalankannya.

Di situlah nilai human interest Bedhaya Ketawang menjadi kuat.

Sembilan perempuan itu bukan sekadar sedang berlatih menari. Mereka sedang menjadi mata rantai dalam pewarisan sebuah tradisi.

Menjelang Jumenengan Paku Buwana XIV

Latihan pamungkas di Pendhapa Sasana Sewaka pada Jumat malam menjadi salah satu tahapan menuju Tingalan Dalem Jumenengan SISKS Paku Buwana XIV.

Jumenengan bukan hanya tentang pergantian seorang raja. Di dalamnya terdapat rangkaian tata budaya yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Bedhaya Ketawang menjadi salah satu simbol terkuat dari kesinambungan tersebut.

Ketika sembilan penari nantinya bergerak mengikuti irama gamelan, publik mungkin hanya melihat sebuah pertunjukan tari.

Tetapi di balik gerakan itu terdapat pesan yang jauh lebih panjang: tentang pakem yang diwariskan, simbol yang dipertahankan, dan budaya yang berusaha tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Malam itu, latihan akhirnya selesai.

Pendhapa Sasana Sewaka kembali hening.

Namun bagi Bedhaya Ketawang, perjalanan belum berakhir.

Sembilan penari telah bersiap.

Dan ketika waktunya tiba, mereka akan kembali bergerak—membawa sebuah warisan budaya Jawa memasuki babak baru bersama Tingalan Dalem Jumenengan SISKS Paku Buwana XIV.

Bedhaya Ketawang jelang Jumenengan Paku Buwana XIV. Sembilan penari menjalani latihan pamungkas di Sasana Sewaka pada Jumat malam, 4 September 2026.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories