80 Persen Wilayah Indonesia Masuk Kemarau, BMKG Peringatkan Ancam Karhutla dan Kekeringan

Senin, 31 Agustus 2026 | 13:53 WIB
Ilustrasi - BMKG Prediksi Puncak Kemarau dan Fenomena El Nino
Ilustrasi - BMKG Prediksi Puncak Kemarau dan Fenomena El Nino (Foto: magnific.com)

RIWARA.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sekitar 80 persen wilayah Indonesia saat ini resmi memasuki musim kemarau. Kondisi ini meningkatkan ancaman kekeringan secara signifikan, terutama di kawasan selatan Indonesia, sekaligus memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Lonjakan ancaman karhutla bukan sekadar imbauan di atas kertas. BMKG mencatat sedikitnya 15 titik kebakaran hutan dan lahan meletup hanya dalam kurun tiga hari, yakni pada 25 hingga 27 Agustus 2026.

Titik api tersebut tersebar luas di delapan provinsi. Wilayah yang terdampak di antaranya Kabupaten Aceh Besar (Aceh), Subang (Jawa Barat), serta empat wilayah di Jawa Tengah meliputi Banyumas, Sragen, Klaten, dan Sukoharjo. Selain itu, karhutla juga melanda Belitung Timur (Bangka Belitung), Kutai Barat (Kalimantan Timur), Toli-toli dan Tojo Una-una (Sulawesi Tengah), Pinrang, Enrekang, dan Sidenreng Rappang (Sulawesi Selatan), hingga Kota Sorong (Papua Barat Daya).

Meski cuaca kering mendominasi sebagian besar kawasan Nusantara, BMKG mengingatkan bahwa potensi hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat masih mengintai secara sporadis. Fenomena hujan di tengah kemarau ini berpotensi terjadi terutama di wilayah Sumatra bagian utara hingga tengah.

Data BMKG menunjukkan curah hujan harian dengan intensitas tinggi sempat mengguyur sejumlah wilayah pada 24–26 Agustus 2026. Sumatra Utara mencatat curah hujan tertinggi mencapai 110 milimeter per hari, disusul Sumatra Barat sebesar 90 milimeter per hari, Kepulauan Riau 63 milimeter per hari, dan Jambi 56 milimeter per hari.

Lembaga pemantau cuaca nasional tersebut menjelaskan, curah hujan ekstrem di tengah kemarau ini terpicu oleh kombinasi aktivitas gelombang Kelvin, area pertemuan angin, suhu permukaan laut yang hangat, serta pengaruh topografi lokal.

Memasuki akhir Agustus hingga pertengahan September 2026 (Dasarian III Agustus hingga Dasarian II September), BMKG memprakirakan curah hujan secara umum berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni berkisar antara 0 hingga 150 milimeter per dasarian.

Kondisi cuaca dengan curah hujan rendah diprediksi terus mendominasi wilayah Sumatra bagian selatan, seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian area Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Keringnya atmosfer di sebagian besar wilayah Indonesia ini dipengaruhi kuat oleh fenomena El Niño tingkat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kedua dinamika iklim tersebut berperan aktif menekan pertumbuhan awan-awan hujan di atas wilayah Indonesia.

Kendati demikian, sejumlah dinamika atmosfer regional dan lokal diperkirakan masih menyokong penumpukan massa udara. Faktor pendukung tersebut meliputi aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) di pesisir utara Aceh hingga Selat Malaka, gelombang Rossby Ekuator di Papua Selatan, serta daerah konvergensi dan konfluensi yang membentang dari Laut Andaman, Selat Makassar, hingga Samudra Pasifik di sekitar Papua.

Kondisi atmosfer tersebut memicu potensi hujan berdurasi singkat yang tetap bisa mengguyur area Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua dalam sepekan ke depan.

Untuk periode 27–29 Agustus 2026, cuaca di Indonesia secara umum didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, BMKG meminta warga di kawasan Papua Pegunungan meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap potensi ancaman hujan lebat hingga sangat lebat.

Selain hujan, ancaman angin kencang juga mengintai sejumlah daerah. Wilayah yang berpotensi diterjang angin kencang antara lain Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, serta Papua Selatan.

Sementara pada periode 30 Agustus hingga 2 September 2026, cuaca diperkirakan didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan sedang. Masyarakat Sumatra Barat diminta tetap waspada terhadap potensi hujan lebat. Pada rentang waktu yang sama, angin kencang diprakirakan berembus di Aceh, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Selatan.

Menghadapi puncak musim kemarau serta ancaman cuaca ekstrem ini, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan. Warga diminta menjaga kesehatan fisik, menggunakan air bersih secara hemat dan bijak, serta tidak sekali-kali membakar lahan maupun sampah secara sembarangan untuk mencegah bencana karhutla beruntun.

 

BMKG catat 80% wilayah Indonesia masuk kemarau. Waspadai risiko karhutla, kekeringan, dan cuaca ekstrem di sejumlah daerah.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories