Angka Kematian Akibat TB Tertinggi di Indonesia, Kemenkes Adakan Skrining di Pesantren dan Permukiman Padat Penduduk

Senin, 17 Agustus 2026 | 20:53 WIB
Ilustrasi - TB Masih Menjadi Penyakit Menular dengan Jumlah Kematian Tertinggi di Indonesia
Ilustrasi - TB Masih Menjadi Penyakit Menular dengan Jumlah Kematian Tertinggi di Indonesia (Foto: Instagram.com/@kemenkes_ri)

RIWARA.id – Saat ini, Tuberkulosis (TB) masih menjadi penyakit menular dengan jumlah kematian tertinggi di Indonesia. Sesuai data yang tercatat di Kementerian Kesehatan (Kemenkes), ada sekitar 120.000 kematian setiap tahun akibat TB.

Terkait kondisi tersebut, Kemenkes RI memperluas upaya penemuan kasus TB secara aktif melalui skrining menggunakan rontgen dada berbasis Artificial Intelligence (AI), di pondok pesantren dan pemukiman padat penduduk.

Perluasan skrining ditandai dengan Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis dan Rontgen Dada, serta Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada Kamis 13 Agustus lalu di Pondok Pesantren Yayasan Khairul Ummah Syahroni, Penjaringan, Jakarta Utara.

Saat itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan penemuan kasus TB secara dini merupakan salah satu kunci untuk menekan penularan dan kematian akibat TB di Indonesia.

“Penyakit ini (TB) sudah ada ribuan tahun. Obatnya sudah ada dan manjur. Kalau minum obat pasti sembuh. Masalahnya adalah enggak ketahuan kalau dia sakit TB, karena skrining-nya terlambat atau tidak dilakukan sama sekali,” ujar Menkes Budi yang dikutip Ri wara.id dari laman kemkes.go.id, Senin 17 Agustus 2026.

Menurut Menkes Budi, perkembangan teknologi memungkinkan skrining TB dilakukan lebih mudah dan dapat menjangkau masyarakat secara langsung. Pemeriksaan rontgen dada yang sebelumnya identik dengan peralatan besar di rumah sakit, kini dapat dilakukan menggunakan perangkat yang portabel, dan bahkan dapat dibawa menggunakan kendaraan roda dua.

Hasil pemeriksaan tersebut juga dapat dibantu teknologi AI untuk mengidentifikasi indikasi TB sehingga proses skrining dapat dilakukan lebih cepat dan efisien. “Sekarang teknologi semakin canggih, alatnya kecil bisa digendong, dibawa pakai motor. Dengan demikian, kita bisa melakukan skrining langsung ke masyarakat, tidak harus menunggu mereka datang ke rumah sakit,” ungkap Menkes.

Untuk memperluas akses pemeriksaan TB, Kemenkes menyiapkan sekitar 10.000 unit rontgen yang akan didistribusikan ke Puskesmas secara bertahap. Peralatan tersebut diharapkan bisa mendekatkan layanan skrining kepada masyarakat.

 

Pesantren Jadi Sasaran Prioritas

Dalam kegiatan skrining tersebut, pesantren menjadi salah satu sasaran prioritas karena berupa lingkungan dengan kepadatan hunian tinggi, yang memiliki risiko lebih besar dalam penularan TB. Semakin banyak orang yang tinggal dan beraktivitas di dalam ruangan yang padat, semakin besar pula peluang terjadinya penularan apabila jika ada penderita TB yang belum terdeteksi dan diobati.

Menkes menyebutkan dari skrining TB secara umum rata-rata ditemukan sekitar 0,3% kasus. Sementara, skrining yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan menemukan sekitar 3% kasus, atau 10 kali lebih tinggi.

Menkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma tidak baik kepada penderita TB. Penyakit tersebut dapat disembuhkan apabila diketahui sejak dini dan mendapatkan pengobatan yang tepat.

“Kalau ketemu orang yang sakit TB enggak usah khawatir, enggak usah takut, enggak usah jadi stigma, enggak usah malu. Penyakit ini bisa disembuhkan. Yang penting skrining-nya cepat sehingga bisa segera minum obat,” imbuh Menkes.

TB masih menjadi penyakit menular dengan jumlah kematian tertinggi di Indonesia. Kemenkes jemput bola adakan skrining di pesantren dan permukiman padat penduduk.

Foto Editor
Ayu Abriyani -

Jurnalis dari Kota Solo yang fokus pada isu pendidikan, sosial dan kemasyarakatan.

 Stories