RIWARA.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan kuat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan depan. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, bahkan memproyeksikan rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp17.850 per dolar AS jika tekanan eksternal terus meningkat.
Menurut Ibrahim, penguatan indeks dolar AS (DXY) masih menjadi faktor dominan yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Mata uang rupiah kemungkinan besar dalam perdagangan di minggu ini pun juga masih akan terus mengalami pelemahan bisa saja di Rp17.800/US$, bisa saja di Rp17.850/US$,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).
Tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah serta melonjaknya harga minyak mentah dunia meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan internasional.
Situasi tersebut mendorong investor global mencari aset aman atau safe haven, terutama dolar AS. Akibatnya, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia (DXY) naik ke level 99,09 atau menguat sekitar 1,15% dalam sepekan terakhir.
Selain itu, tingginya suku bunga acuan AS juga memperkuat posisi dolar. Investor global cenderung memindahkan modal ke instrumen berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, sehingga memicu capital outflow dari pasar negara berkembang.
Rupiah Sempat Sentuh Rekor Terlemah
Sepanjang perdagangan pekan ini, rupiah mencatatkan performa yang kurang menggembirakan. Perdagangan pasar keuangan Indonesia memang hanya berlangsung tiga hari karena libur Kenaikan Yesus Kristus, namun tekanan terhadap rupiah tetap besar.
Pada Senin (11/5/2026), rupiah ditutup melemah 0,22% ke level Rp17.412 per dolar AS. Sehari kemudian, Selasa (12/5/2026), rupiah kembali terdepresiasi 0,51% hingga menyentuh Rp17.500 per dolar AS, yang menjadi posisi penutupan terlemah sepanjang sejarah.
Sementara pada Rabu (13/5/2026), rupiah sempat menguat tipis 0,2% ke Rp17.465 per dolar AS. Meski demikian, secara mingguan rupiah tetap mencatat pelemahan sekitar 0,53%.
Pelemahan rupiah juga terjadi seiring tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia lainnya. Yen Jepang, won Korea Selatan, baht Thailand, rupee India, yuan China, hingga dolar Taiwan sama-sama mengalami depresiasi terhadap dolar AS.
Dolar AS Perkasa, Asia Tertekan
Penguatan dolar AS menjadi sentimen utama yang membebani pasar Asia. Dollar Index dalam sepekan tercatat menguat sekitar 1,4% dan sempat menyentuh level tertinggi sejak awal April 2026.
Kenaikan dolar dipicu kekhawatiran inflasi global akibat perang di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi dunia.
Gubernur Bank Sentral AS wilayah Chicago, Austan Goolsbee, bahkan menilai ekonomi AS berpotensi mengalami overheating jika tekanan inflasi terus meningkat.
“Jika Anda melihat komponen non-energi, seperti jasa, maka ada indikasi bahwa ekonomi sudah overheating. The Fed harus berpikir bagaimana memecah rantai eskalasi inflasi,” ujar Goolsbee dalam wawancara dengan NPR.
Kondisi tersebut membuat pasar memperkirakan Federal Reserve System masih akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama. Kebijakan ini berpotensi terus memperkuat dolar AS sekaligus memberikan tekanan lanjutan terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Risiko Tekanan Masih Besar
Pelaku pasar kini menanti arah kebijakan moneter global serta perkembangan konflik geopolitik yang masih memanas. Jika harga minyak dunia terus naik dan dolar AS bertahan kuat, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum akan mereda dalam jangka pendek.
Analis juga menilai volatilitas pasar keuangan global masih tinggi sehingga ruang penguatan rupiah relatif terbatas. Bank Indonesia diperkirakan akan terus menjaga stabilitas pasar valas guna menahan tekanan pelemahan yang lebih dalam.*
Nilai tukar rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS pada pekan depan. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah berpotensi menyentuh Rp17.850 per dolar AS di tengah penguatan DXY, lonjakan harga minyak, dan tekanan geopolitik global.