RIWARA.id – Gugurnya tiga prajurit TNI, Praka Farizal Rhomadhon, Kanten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan dalam misi UNIFIL di Lebanon Selatan pada akhir Maret 2026 menyisakan luka mendalam.
Sewajarnya muncul pertanyaan besar di benak publik: Mengapa kita tidak menarik pulang saja pasukan TNI? Mengapa nyawa prajurit terbaik kita harus dipertaruhkan dalam konflik yang bukan milik kita?
Jawaban atas pertanyaan ini melampaui sekadar strategi militer. Ini adalah tentang kedaulatan, martabat, dan amanat konstitusi.
1. Amanat Konstitusi: Ikut Melaksanakan Ketertiban Dunia
Landasan terkuat kehadiran TNI di Lebanon adalah Pembukaan UUD 1945. Indonesia memiliki mandat moral untuk "ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial."
Berdasarkan UU No. 37 Tahun 199 9 tentang Hubungan Luar Negeri, partisipasi dalam misi perdamaian adalah instrumen vital politik luar negeri yang bebas dan aktif.
Menarik diri saat situasi memanas justru akan mencederai citra Indonesia sebagai negara yang berkomitmen pada perdamaian dunia.
2. 'Baris Terdepan' Diplomasi Indonesia
Indonesia saat ini merupakan salah satu penyumbang pasukan perdamaian (Troop Contributing Country) terbesar di dunia. Keberadaan Satgas Garuda di bawah bendera UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) memberikan Indonesia "kursi panas" yang diperhitungkan di markas PBB, New York.
Tanpa kontribusi nyata di lapangan, suara diplomasi Indonesia untuk memperjuangkan hak-hak bangsa yang tertindas, termasuk Palestina, tidak akan memiliki bobot yang sama. Pasukan Garuda adalah bukti bahwa Indonesia tidak hanya "berbicara" di meja perundingan, tapi juga "bekerja" di zona berbahaya.
3. Mencegah Eskalasi Perang Regional
Mengapa UNIFIL tetap bertahan meski sering menjadi sasaran? Merujuk pada Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, kehadiran pasukan perdamaian berfungsi sebagai "penyangga" (buffer) untuk mencegah perang total antara Israel dan Hizbullah.
Jika seluruh pasukan internasional ditarik, dipastikan wilayah Lebanon Selatan akan menjadi medan tempur tanpa batas yang bisa memicu perang regional lebih besar di Timur Tengah.
TNI, dengan pendekatan humanisnya yang khas ( civil-military coordination), sering kali menjadi jembatan komunikasi yang meredam ketegangan di antara warga lokal dan pihak bertikai.
4. Harga Sebuah Kehormatan
Bagi setiap prajurit TNI, tugas ke luar negeri adalah kehormatan tertinggi. Sejarah mencatat sejak Misi Garuda I pada 1957, Indonesia tidak pernah mundur hanya karena tekanan serangan.
Risiko gugur adalah bagian dari sumpah prajurit. Menarik pasukan karena ancaman artileri justru akan dianggap sebagai pelemahan terhadap postur pertahanan dan mentalitas tempur kita di mata internasional.
Kesimpulan: Bertahan untuk Perdamaian
Gugurnya Praka Fariza, Kapten Inf Zulmi dan Sertu Ichwanl adalah pengorbanan besar bagi Ibu Pertiwi. Namun, mundur bukanlah pilihan bagi bangsa besar yang ingin menentukan arah perdamaian dunia. Pasukan Garuda akan tetap berdiri tegak di Lebanon, bukan untuk berperang, melainkan untuk memastikan bahwa cahaya perdamaian tetap menyala, meski di tengah dentuman artileri. (*)
Ari Kristyono


Mengapa TNI tidak ditarik dari Lebanon pasca gugurnya Praka Farizal? Simak analisis mendalam peran strategis Pasukan Garuda bagi dunia.