RIWARA.id - Saat ini, beredar kabar tentang wacana pemotongan gaji terhadap menteri dan pejabat tinggi negara lainnya.
Wacana tersebut muncul bukan tanpa sebab, perang di Timur Tengah mengharuskan pemerintah melakukan berbagai cara agar anggaran fiskal bisa tetap tersedia.
Selain wacana tersebut, pemerintah juga sudah melakukan kebijakan lain untuk melakukan penghematan anggaran, salah satunya adalah merapkan kebijakan Work From Home (WFH) untuk menghemat BMM bagi masyarakat.
Aparatur Sipil Negara (ASN) sudah lebih dahulu menjalani WFH dari tanggal 24-27 Maret 2026.
ASN baru kembali bekerja masuk ke kantor pada hari Senin, 30 Maret 2026 yang lalu.
Lantas, benarkan ada wacana pemerintah Presiden Prabowo Subianto ingin memotong gaji menteri dan pejabat negara lainnya?
Sedang Dikaji Prabowo
Saat ini, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto masih melakukan kajian kebijakan pemotongan gaji menteri dan pejabat negara sebagai langkah penghematan.
Menurut anggota Komisi II DPR RI, Ali Ahmad, dampak dari perang di Timur Tengah tidak main-main.
Menurut Ali , adanya wacana pemotongan gaji menjadi sinyal moral pemerintah dalam melihat situasi global yang tidak menentu.
Langkah ini juga menunjukkan empati dan solidaritas pemerintah kepada masyarakat banyak.
"Ketika rakyat diminta bersiap menghadapi dampak ekonomi, para pejabat juga perlu menunjukkan kesiapan berkorban,” ujar Ali Ahmad yang dikutip dari DPR.go.id.
Dengan adanya pemotongan gaji menteri ataupu anggota DPR, maka pemerintah dipandang mempunyai nilai simbolik yang kuat.
Walaupun begitu, Ali menilai kontribusi wacana ini terhadap anggaran negara masih relatif kecil secara fiskal.
Karena itu, wacana ini harus diposisikan sebagai pesan kepemimpinan moral dan bukan menjadi satu-satunya kebijakan pemerintah di bidang ekonomi.
Pengaruh Konflik Geopolitik Terhadap Indonesia
Perang di Timur Tengah memang membawa dampak yang tidak main-main bagi Indonesia, terutama dari sisi ekonomi dan energi.
Perang Iran melawan Amerika Serikat (AS)-Israel bisa mempengaruhi harga energi global, rantai pasok terganggu dan tidak adanya stabilitas ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Karena itu, penghematan harus dilakukan oleh pemerintah dan menjadi sebuah gerakan disiplin fiskal nasional.
“Dalam situasi seperti ini, wacana penghematan harus diperluas menjadi gerakan disiplin fiskal nasional, mulai dari efisiensi belanja kementerian, penguatan prioritas program, hingga pengendalian pemborosan anggaran,” kata Politisi Fraksi PKB itu
Pentingnya Transparansi
Kalau wacana pemotongan gaji dilakukan oleh Prabowo, maka masyarakat Indonesia akan melihat keteladanan yang dilakukan oleh Presiden.
Prabowo juga harus memastikan anggaran negara bisa tetap melindungi berbagai lapisan masyarakat di tengah gejola ekonomi global.
UMKM, pabrik, kelompok rentan harus diperhatikan oleh pemerintah karena yang paling rentan jika gejolak global terjadi.
Harus ada juga transparansi komunikasi kepada publik apabila kebijakan tersebut benar-benar diterapkan dalam waktu dekat.
"Situasi global saat ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat reformasi dalam pengelolaan anggaran negara, memperkuat efisiensi birokrasi, memprioritaskan program yang benar-benar berdampak bagi rakyat, dan memastikan setiap rupiah APBN memberikan manfaat maksimal bagi pembangunan," tegasnya.***


Setelah kebijakan WFH untuk hemat BBM, kini muncul wacana pemotongan gaji pejabat tinggi. Benarkah Presiden Prabowo akan segera menerapkannya? Cek fakta selengkapnya di sini