Harga Emas Anjlok Tajam, Hampir Hapus Kenaikan 2026 di Tengah Ancaman Perang AS–Iran

  • Inung R Sulistyo
  • Senin, 23 Maret 2026 | 16:29 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Harga emas anjlok tajam di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, menekan pasar global.
Harga emas anjlok tajam di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, menekan pasar global. (Foto: Riwara.id)

 


RIWARA.id - Di saat konflik Timur Tengah kian memanas, pasar justru memberi kejutan: harga emas—yang biasanya jadi “safe haven”—malah terjun bebas. Ancaman baru antara Amerika Serikat dan Iran kini mengguncang logam mulia hingga mendekati titik terendah tahun ini.

Emas Tertekan, Koreksi Terdalam Sejak 1983

Harga emas merosot tajam hingga 3,8% ke level sekitar US$4.320,30 per ons, nyaris menghapus seluruh kenaikan sepanjang tahun 2026. Penurunan ini menjadi salah satu yang terdalam dalam beberapa dekade terakhir, bahkan tercatat sebagai pelemahan mingguan paling signifikan sejak 1983.

Sejak konflik pecah, emas terus melemah selama delapan sesi berturut-turut—sebuah tren yang jarang terjadi untuk aset yang biasanya menjadi pelindung nilai saat krisis.

Minyak, Inflasi, dan Suku Bunga

Lonjakan harga minyak akibat perang justru menjadi “bumerang” bagi emas. Risiko inflasi yang meningkat membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve semakin kecil.

Padahal, emas cenderung menguat saat suku bunga rendah. Ketika peluang penurunan suku bunga menyusut, daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil ikut melemah.

Aksi Jual Paksa Tekan Harga

Selain faktor makro, tekanan juga datang dari aksi jual paksa (forced selling). Banyak investor melepas emas untuk menutup kerugian di aset lain seperti saham dan komoditas energi.

Dalam tiga pekan sejak perang dimulai pada 28 Februari, volatilitas pasar meningkat tajam. Harga minyak sempat naik, lalu kembali melemah, sementara pasar saham bergerak fluktuatif—menciptakan tekanan likuiditas di berbagai sektor.

Ultimatum Trump Picu Ketegangan Baru

Situasi semakin memanas setelah Presiden Donald Trump memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam dua hari.

Jika tidak, AS mengancam akan menyerang fasilitas pembangkit listrik Iran.

Sebagai respons, Iran mengancam akan menutup sepenuhnya jalur strategis tersebut dan menargetkan infrastruktur penting, termasuk energi dan teknologi.

Ancaman ini meningkatkan ketidakpastian pasar, namun belum cukup untuk mendorong harga emas kembali naik secara signifikan.

 Emas Mulai Jenuh Jual

Meski tren turun masih dominan, sejumlah indikator teknikal mulai memberi sinyal potensi rebound. Indeks kekuatan relatif (RSI) 14 hari emas telah tu run di bawah level 30—zona yang sering dianggap sebagai kondisi jenuh jual.

Analis Kyle Rodda dari Capital.com menyebut bahwa emas berpeluang menguat dalam jangka pendek.

Namun, arah selanjutnya sangat bergantung pada perkembangan geopolitik—terutama apakah ancaman militer benar-benar terealisasi.

Pergerakan Komoditas Lain

Pada perdagangan pagi di Singapura, harga emas spot tercatat turun 3,3% ke US$4.343,40 per ons. Logam mulia lain juga ikut tertekan:

Perak turun 3,4% ke US$65,61
Platinum dan paladium ikut melemah
Indeks dolar AS (Bloomberg Dollar Spot) naik 0,1%

Penguatan dolar turut menambah tekanan terhadap harga emas di pasar global.

Safe Haven yang Goyah

Penurunan tajam emas menunjukkan bahwa dalam kondisi krisis modern, tidak semua pola lama berlaku. Alih-alih menguat, emas justru tertekan oleh kombinasi inflasi, suku bunga tinggi, dan kebutuhan likuiditas.

Kini, arah harga emas akan sangat ditentukan oleh satu faktor utama: apakah konflik antara AS dan Iran akan benar-benar berubah menjadi eskalasi militer terbuka.*

 

 

Harga emas anjlok hingga hampir menghapus kenaikan 2026 di tengah konflik AS–Iran. Tekanan inflasi, suku bunga, dan aksi jual paksa jadi pemicu utama.

  • Tags:
Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News