BMKG–BNPB Mulai Operasi Modifikasi Cuaca di Jabar, Jateng, Bali, Dampak Bibit Siklon 90S–93S Dipantau Ketat

  • Inung R Sulistyo
  • Rabu, 04 Maret 2026 | 15:38 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Ilustrasi Operasi Modifikasi Cuaca oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali untuk menekan dampak hujan ekstrem akibat bibit siklon di Samudera Hindia.
Ilustrasi Operasi Modifikasi Cuaca oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali untuk menekan dampak hujan ekstrem akibat bibit siklon di Samudera Hindia. (Foto: Riwara.id)

JAKARTA, RIWARA.id – Pemerintah mulai hari ini menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) di sejumlah daerah untuk meredam dampak cuaca ekstrem, terutama peningkatan curah hujan di Pulau Jawa dan Bali. Langkah ini diambil menyusul kemunculan bibit siklon 90S dan 93S di selatan Jawa dan sekitar Samudera Hindia.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah untuk pelaksanaan OMC.

“Mulai hari ini dalam rangka mengantisipasi kondisi cuaca ekstrem, BMKG dan BNPB akan memulai operasi modifikasi cuaca di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali,” kata Teuku Faisal dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.

Jabar, Jateng, Bali Jadi Prioritas

Wilay ah prioritas OMC meliputi:

Jawa Barat

Jawa Tengah

Bali

Sementara itu, untuk DKI Jakarta, pemerintah masih melakukan pemantauan intensif. Jika kondisi memburuk, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta disebut siap membiayai pelaksanaan OMC.

Dampak Bibit Siklon 90S dan 93S

BMKG menjelaskan cuaca ekstrem beberapa hari terakhir dipicu oleh kemunculan bibit siklon tropis 90S dan 93S di selatan Jawa serta wilayah Samudera Hindia. Sistem ini meningkatkan potensi hujan lebat di sebagian wilayah Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara.

Peningkatan curah hujan tersebut berisiko memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan genangan di kawasan rawan.

Target Tekan Hujan 20–40 Persen

Teuku Faisal menjelaskan OMC dilakukan berbasis kondisi aktual di masing-masing wilayah. Targetnya adalah menekan intensitas curah hujan hingga 20–40 persen di area terdampak.

“Harapannya dampak terhadap terjadinya bencana hidrometeorologi dapat ditekan,” ujarnya.

Operasi ini juga diharapkan memberi waktu bagi daerah untuk memperkuat kesiapan infrastruktur, termasuk sistem drainase dan pengendalian sungai.

Imbauan untuk Pemerintah Daerah dan Masyarakat

Selain OMC, BMK G mengingatkan pentingnya langkah mitigasi non-teknis, seperti:

Menjaga dan membersihkan drainase

Melakukan normalisasi sungai

Tidak membangun di sempadan sungai

Meningkatkan kewaspadaan di daerah rawan longsor

BMKG memperkirakan potensi hujan intens masih terjadi dalam beberapa hari ke depan. OMC akan terus dilakukan sesuai evaluasi harian perkembangan cuaca.

“Kalau kita prediksi mungkin sampai dengan beberapa hari ke depan masih terjadi, akan kita lakukan,” demikian Teuku Faisal Fathani.*

 

BMKG dan BNPB mulai operasi modifikasi cuaca di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali untuk tekan dampak hujan ekstrem akibat bibit siklon 90S dan 93S. Targetnya kurangi curah hujan hingga 40 persen.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News