RIWARA.ID – Indonesia tidak lahir hanya dari sebuah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Jauh sebelum itu, fondasi kebangsaan telah dibangun melalui pergulatan pemikiran, perdebatan ideologi, dan keberanian sekelompok anak muda terdidik yang membayangkan sebuah bangsa di luar batas kesukuan dan kedaerahan.
Sejarawan Prof. Dr. Anhar Gonggong mengingatkan kembali peran generasi muda dalam proses pembentukan identitas Indonesia. Menurut dia, sejarah kebangsaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran kaum terdidik yang mulai mempertanyakan ketidakadilan kolonial sekaligus merumuskan gagasan tentang persatuan.
Anhar Gonggong mengungkap kembali proses panjang lahirnya kesadaran kebangsaan Indonesia. Pandangan tersebut disampaikan dalam sebuah perbincangan sejarah yang ditayangkan melalui kanal YouTube Anhar Gonggong Official.
Perbincangan tersebut direkam pada Selasa, 27 Oktober 2026, sehari menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98.
Bagi Anhar, lahirnya kesadaran kebangsaan Indonesia merupakan proses panjang. Peristiwa 28 Oktober 1928 menjadi salah satu tonggak penting ketika pemuda dari berbagai latar belakang menyatakan tekad untuk memiliki satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.
Namun, gagasan tentang Indonesia tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari lingkungan pendidikan, pergaulan antarpemuda, pengalaman diskriminasi kolonial, hingga perdebatan mengenai bentuk negara yang hendak dibangun.
Pendidikan Melahirkan Kesadaran Kebangsaan
Anhar menjelaskan, salah satu faktor penting yang membentuk nasionalisme generasi awal Indonesia adalah pendidikan.
Ia mencontohkan Budi Utomo yang didirikan pada 1908 oleh para pemuda dari lingkungan pendidikan kedokteran STOVIA. Sebagian besar pendirinya masih berusia sangat muda, sekitar 18 hingga 23 tahun.
Mereka berasal dari lingkungan keluarga pejabat atau bangsawan yang memiliki kesempatan memperoleh pendidikan pada masa kolonial. Namun, pendidikan yang mereka terima justru membuka pandangan mengenai ketimpangan sosial yang dialami masyarakat pribumi.
Di tengah kehidupan yang relatif lebih beruntung, mereka menyaksikan kemiskinan dan ketidakadilan yang dialami sebagian besar rakyat.
Kesadaran tersebut kemudian berkembang menjadi pertanyaan mengenai nasib masyarakat dan kedudukan bangsa pribumi di bawah pemerintahan kolonial.
Anhar juga menyinggung peran Wahidin Sudirohusodo yang berupaya memperluas kesempatan pendidikan bagi kalangan muda melalui gagasan pemberian beasiswa.
Wahidin berkeliling menemui para bupati untuk mendapatkan dukungan. Namun, upaya tersebut tidak memperoleh sambutan sebagaimana diharapkan.
Situasi berubah setelah Budi Utomo terbentuk. Dalam kongres organisasi yang berlangsung di Yogyakarta sekitar delapan bulan kemudian, sejumlah kalangan bupati justru masuk dalam kepengurusan.
Menurut Anhar, perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana organisasi yang awalnya dibangun anak-anak muda kemudian memasuki dinamika kepentingan elite. Budi Utomo tidak berkembang menjadi organisasi yang sepenuhnya revolusioner karena turut dipengaruhi kepentingan kalangan birokrasi dan hubungan dengan pemerintah kolonial.
Meski demikian, kemunculan Budi Utomo membuka jalan bagi perkembangan organisasi kepemudaan berikutnya.
Ketidakadilan Kolonial Menumbuhkan Nasionalisme
Pendidikan tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga membuat kaum pribumi semakin menyadari ketimpangan perlakuan dalam sistem kolonial.
Anhar menyinggung pengalaman kaum terdidik pribumi yang telah memperoleh pendidikan tinggi, tetapi tetap mendapatkan perlakuan dan penghargaan yang jauh berbeda dibandingkan orang Belanda.
Anhar menggambarkan kesenjangan tersebut melalui perbedaan penghasilan yang sangat mencolok.
Dalam perbincangan itu, Anhar menyebut bahwa orang Belanda bisa memperoleh penghasilan sekitar 100 perak, sementara tenaga pribumi dengan pendidikan tertentu hanya mendapatkan sekitar dua perak.
Kesenjangan tersebut menimbulkan kesadaran baru. Mereka mulai mempertanyakan mengapa orang pribumi yang memiliki kemampuan dan pendidikan tidak memperoleh kedudukan setara.
Pengalaman diskriminasi itulah yang turut memercikkan nasionalisme di kalangan kaum terdidik.
Dengan kata lain, pendidikan kolonial yang semula dirancang untuk memenuhi kebutuhan pemerintahan dan kepentingan ekonomi Belanda justru melahirkan kelompok masyarakat yang mulai mempertanyakan legitimasi kekuasaan kolonial.
Dari Jong Java hingga Kesadaran Menjadi Indonesia
Perkembangan organisasi pemuda menjadi bagian penting dalam proses pembentukan kesadaran kebangsaan.
Anhar menjelaskan, kemunculan Jong Java mendorong pemuda dari daerah lain membentuk organisasi serupa. Muncul Jong Sumateranen Bond dan berbagai perkumpulan pemuda berdasarkan latar belakang daerah.
Pada tahap awal, organisasi-organisasi tersebut masih membawa identitas kedaerahan masing-masing.
Namun, kehidupan bersama di asrama, lingkungan sekolah, dan ruang diskusi mempertemukan para pemuda dari berbagai daerah. Mereka mulai menyadari bahwa meskipun berasal dari suku dan wilayah berbeda, terdapat pengalaman bersama sebagai masyarakat yang hidup di bawah kolonialisme.
Kesadaran tersebut kemudian berkembang menjadi pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa mereka tidak membangun satu bangsa?
Anhar menilai, proses perjumpaan dan dialog antarpemuda menjadi salah satu faktor yang mempercepat lahirnya kesadaran nasional.
Ia juga menyoroti pengalaman Muhammad Hatta yang memperoleh pendidikan di Eropa dan mengenal perkembangan pemikiran politik di luar Hindia Belanda.
Interaksi dengan gagasan mengenai negara, demokrasi, dan sosialisme turut memberikan pengaruh terhadap pemikiran generasi pergerakan.
Karena itu, pembentukan Indonesia bukan semata-mata hasil pertemuan para tokoh politik, melainkan juga buah dari perkembangan intelektual generasi muda.
Kongres Pemuda 1926 Belum Menemukan Kesepakatan
Sebelum Sumpah Pemuda 1928, para pemuda telah berupaya menyatukan organisasi dan gagasan melalui Kongres Pemuda I pada 1926.
Namun, menurut penjelasan Anhar, kongres tersebut belum menghasilkan kesepakatan yang menjadi deklarasi kebangsaan seperti dua tahun kemudian.
Salah satu persoalan yang muncul adalah perbedaan pandangan mengenai bentuk persatuan organisasi pemuda. Sebagian menghendaki fusi atau peleburan organisasi menjadi satu, sedangkan kelompok lain menginginkan bentuk federasi yang tetap mempertahankan organisasi masing-masing.
Perdebatan juga menyentuh persoalan bahasa.
Pada masa itu, muncul pilihan antara bahasa Jawa dan bahasa Melayu sebagai bahasa yang dapat digunakan dalam lingkungan pergerakan.
Persoalan tersebut bukan sekadar urusan komunikasi. Bahasa berkaitan erat dengan identitas, kebudayaan, dan arah kebangsaan yang sedang dibangun.
Dalam perbincangan tersebut, Anhar mengungkap bahwa Soekarno termasuk tokoh yang mengingatkan pentingnya menghindari penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa persatuan.
Menurut penjelasannya, Soekarno melihat penggunaan bahasa Jawa berpotensi membawa kembali nuansa feodal dalam kehidupan kebangsaan.
Pandangan itu memperlihatkan bahwa gagasan persatuan Indonesia sejak awal juga berkaitan dengan upaya membangun identitas baru yang melampaui dominasi satu kelompok etnis.
Tabrani dan Jalan Menuju Sumpah Pemuda
Anhar juga menyoroti peran Mohammad Tabrani dalam menggerakkan Kongres Pemuda I.
Menurut dia, Tabrani merupakan salah satu tokoh yang mengambil inisiatif mengumpulkan para pemuda untuk membicarakan persatuan.
Pengalamannya sebagai wartawan dan pergaulan internasional, termasuk ketika berada di Jerman, turut membentuk pemikirannya mengenai pentingnya persatuan dan gagasan negara bangsa.
Hal menarik lainnya adalah Tabrani berasal dari Madura, tetapi pernah memimpin organisasi pemuda Betawi.
Bagi Anhar, kenyataan tersebut menunjukkan bahwa interaksi antarkelompok sudah berkembang cukup terbuka di lingkungan pemuda saat itu.
Identitas kedaerahan tidak selalu menjadi penghalang untuk membangun kerja sama.
Dari proses tersebut, gagasan persatuan terus berkembang hingga akhirnya menemukan momentum dalam Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928.
Melalui Sumpah Pemuda, para peserta menyatakan komitmen terhadap satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.
Peristiwa itu menjadi tonggak penting dalam sejarah pembentukan identitas nasional.
Rumah Tjokroaminoto dan Pertemuan Berbagai Ideologi
Selain pendidikan dan organisasi pemuda, Anhar menyoroti pentingnya ruang dialog dalam perkembangan pemikiran politik Indonesia.
Salah satu tempat yang memiliki peran penting adalah rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya.
Rumah tersebut menjadi tempat bertemunya berbagai kalangan dengan pemikiran politik yang berbeda.
Di lingkungan itu, sejumlah tokoh yang kemudian memiliki pengaruh besar dalam sejarah Indonesia pernah berinteraksi dan mengembangkan gagasan masing-masing.
Anhar menyinggung Soekarno, Kartosuwiryo, dan Musso sebagai tokoh yang memiliki latar pergaulan intelektual dalam lingkungan Tjokroaminoto, meskipun kemudian mengambil jalan ideologi yang berbeda.
Soekarno berkembang dengan nasionalisme, Kartosuwiryo memperjuangkan gagasan negara Islam, sedangkan Musso dikenal dengan pemikiran komunismenya.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bagaimana ruang pendidikan dan dialog dapat mempertemukan berbagai pandangan politik tanpa harus menghilangkan perbedaan.
Tjokroaminoto sendiri memiliki pemikiran mengenai hubungan Islam dan sosialisme. Gagasannya menjadi bagian dari perdebatan intelektual pada masa pergerakan nasional.
Anhar juga mengangkat fenomena Syarikat Islam Merah yang kemudian berkembang menjadi bagian dari gerakan komunis. Perkembangan tersebut memperlihatkan dinamika ideologi yang khas dalam sejarah pergerakan Indonesia.
Dari rumah Tjokroaminoto, dapat dilihat bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya berlangsung melalui organisasi, tetapi juga melalui pertukaran gagasan dan perdebatan ideologi.
Demokrasi Menjadi Cita-Cita Generasi Pergerakan
Dalam perbincangan tersebut, Anhar turut menjelaskan bahwa para pemuda pergerakan memiliki kesepahaman mengenai pentingnya membangun negara yang demokratis setelah kemerdekaan.
Gagasan tersebut berkembang melalui pengalaman pendidikan dan interaksi dengan pemikiran politik dunia.
Pada masa itu, sosialisme juga menjadi salah satu arus pemikiran yang berkembang di kalangan pergerakan. Namun, sosialisme sendiri memiliki beragam aliran, termasuk sosialisme demokrat dan komunisme.
Perbedaan pemikiran tersebut kemudian mewarnai perkembangan organisasi dan partai politik di Indonesia.
Pengalaman para tokoh yang belajar di luar negeri, seperti Hatta, turut memperluas pemahaman mengenai sistem politik dan pemerintahan.
Namun, perjalanan menuju kemerdekaan tidak selalu berlangsung dalam satu garis pemikiran.
Perbedaan strategi, orientasi ideologi, dan cara menghadapi pemerintah kolonial membuat para tokoh pergerakan terkadang mengambil keputusan yang saling bertentangan.
Hal tersebut menjadi bagian dari kompleksitas sejarah Indonesia.
Sumpah Pemuda dan Makna Indonesia Hari Ini
Penjelasan Anhar Gonggong memberikan perspektif bahwa Indonesia tidak dibangun hanya melalui satu peristiwa atau keputusan politik.
Negara ini tumbuh melalui proses panjang yang melibatkan pendidikan, kesadaran sosial, pengalaman ketidakadilan, pergaulan lintas daerah, serta pergulatan pemikiran politik.
Sumpah Pemuda 1928 menjadi salah satu momentum ketika berbagai identitas kedaerahan menemukan titik temu dalam sebuah identitas kebangsaan.
Karena itu, memperingati Hari Sumpah Pemuda tidak cukup hanya dengan mengulang ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.
Lebih jauh, generasi sekarang perlu memahami bagaimana persatuan tersebut dirumuskan oleh anak-anak muda yang berani melampaui batas identitas daerah dan kepentingan kelompok.
Bagi Anhar, sejarah memiliki arti penting dalam membangun pemahaman mengenai jati diri bangsa.
Di tengah perkembangan zaman, pendidikan sejarah tidak seharusnya dipandang sebagai sekadar mata pelajaran yang menghafalkan nama tokoh dan tanggal peristiwa.
Sejarah justru menjadi ruang untuk memahami bagaimana sebuah bangsa terbentuk, mengapa perbedaan muncul, dan bagaimana generasi sebelumnya mencari jalan keluar dari berbagai persoalan.
Hampir satu abad setelah Sumpah Pemuda, pesan tersebut tetap relevan: Indonesia tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari keberanian untuk menyatukan perbedaan melalui gagasan dan kesadaran bersama.*
Sejarawan Anhar Gonggong mengungkap peran pendidikan, organisasi pemuda, dan perdebatan ideologi dalam proses lahirnya Indonesia.