RIWARA.ID, MAKASSAR – Mohammad Yamin dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia. Namun, di balik perannya dalam Kongres Pemuda II dan lahirnya Sumpah Pemuda, terdapat sisi personal yang menarik untuk ditelusuri: keteguhan prinsip, kemampuan menulis, dan kecintaannya terhadap buku.
Hal tersebut diungkapkan Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, akademikus dan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, dalam wawancara eksklusif bersama Riwara.id di Makassar, Rabu (28/10/2026).
Putri sulung Proklamator Kemerdekaan RI Mohammad Hatta atau Bung Hatta dan Siti Rahmiati Hatta itu membagikan ingatannya mengenai Yamin berdasarkan pengalaman masa kecil serta cerita yang didengarnya dari sang ayah.
Dalam pemantauan Riwara.id di lokasi kegiatan peringatan satu tahun Sekolah Rakyat dan Hari Sumpah Pemuda tersebut, Meutia Hatta juga terlihat bersama KPH Roy Rahajasa Yamin, yang merupakan cucu Mohammad Yamin sekaligus cucu Mangkunegara VIII.
Kehadiran keduanya menghadirkan pertemuan dua jalur keluarga tokoh yang memiliki tempat penting dalam sejarah Indonesia. Momen ini sekaligus menjadi latar menarik bagi pembicaraan mengenai warisan pemikiran dan perjuangan generasi terdahulu.
Meutia Hatta: Mohammad Yamin Memiliki Prinsip Kuat
Dalam wawancara tersebut, Meutia mengakui bahwa dirinya pernah bertatap muka dengan Mohammad Yamin ketika masih kecil. Namun, ingatannya mengenai sosok Yamin lebih banyak terbentuk dari cerita Bung Hatta.
“Pak Yamin, beliau tidak terlalu jauh dari saya dalam konteks tatap muka, tetapi saat itu saya masih terlalu kecil. Saya lebih banyak mendengar cerita dari ayah saya bahwa Pak Yamin memiliki prinsip-prinsip yang kuat. Beliau juga pandai menulis, dengan susunan kalimat yang bagus,” ungkap Meutia kepada Riwara.id.
Menurut Meutia, Yamin merupakan sosok yang memiliki pandangan kuat dan mempertahankan pendapatnya.
“Beliau memang orang Sumatera dan memiliki pendapat yang selalu beliau pertahankan. Hal itulah yang saya pahami tentang sosok beliau,” lanjutnya.
Kesaksian tersebut memberikan gambaran personal mengenai Yamin di luar catatan formal sejarah. Ia tidak hanya dikenal melalui perannya dalam pergerakan nasional, tetapi juga melalui karakter dan cara mengembangkan pemikiran.
Bagi sejarah kebangsaan, kemampuan menyusun gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa merupakan bagian penting dari perjuangan. Pemikiran mengenai persatuan membutuhkan rumusan yang dapat dipahami dan diterima oleh masyarakat dengan latar belakang berbeda.
Perpustakaan Pribadi Yamin yang Membekas dalam Ingatan
Selain keteguhan prinsip dan kepiawaiannya menulis, Meutia juga mengungkap sisi Yamin yang paling berkesan baginya, yakni kecintaan terhadap buku.
Ia mengenang Yamin memiliki banyak buku di rumah, bahkan perpustakaan pribadi dengan koleksi yang luar biasa.
“Saya juga menyaksikan bahwa beliau memiliki sangat banyak buku di rumah, bahkan perpustakaan pribadi dengan koleksi yang luar biasa. Itu menjadi sesuatu yang istimewa, karena tidak banyak tokoh atau pejabat pada masa itu yang memiliki kecintaan begitu besar terhadap buku dan perpustakaan,” tutur Meutia.
Pengalaman tersebut memperlihatkan sisi intelektual Yamin yang lekat dengan tradisi membaca dan pengumpulan pengetahuan.
Perpustakaan pribadi bukan sekadar tempat menyimpan buku. Bagi seorang pemikir, ruang tersebut dapat menjadi tempat untuk menelusuri sejarah, membandingkan gagasan, memperluas wawasan, dan merumuskan pandangan mengenai masa depan bangsa.
Kesaksian Meutia memberikan dimensi tambahan dalam mengenang Yamin pada Hari Sumpah Pemuda 2026. Di balik perannya dalam sejarah, terdapat kebiasaan intelektual yang relevan untuk diperkenalkan kepada generasi muda.
Pertemuan Meutia Hatta dan KPH Roy Rahajasa Yamin
Dalam kegiatan di Makassar tersebut, Meutia Hatta terlihat bersama KPH Roy Rahajasa Yamin, cucu Mohammad Yamin sekaligus cucu Mangkunegara VIII, berdasarkan pemantauan Riwara.id di lapangan.
Pertemuan ini menjadi salah satu sisi menarik dari kegiatan yang berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Meutia merupakan putri sulung Mohammad Hatta, sedangkan Roy Rahajasa Yamin merupakan cucu Mohammad Yamin. Kedua tokoh pendahulu tersebut sama-sama memiliki nama depan Mohammad dan tercatat dalam perjalanan sejarah Indonesia melalui peran serta kontribusi masing-masing.
Mohammad Hatta dikenal sebagai salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, Mohammad Yamin memiliki peran penting dalam pergerakan kebangsaan dan Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928.
Kesamaan nama depan itu bukan penanda hubungan keluarga, melainkan titik pengantar untuk mengingat dua tokoh yang sama-sama menjadi bagian dari sejarah kebangsaan Indonesia.
Kehadiran Meutia dan Roy Rahajasa Yamin dalam satu kegiatan juga memberikan konteks bagi upaya mengenalkan kembali warisan sejarah melalui cerita keluarga, ingatan personal, dan dokumentasi masa lalu.
Mohammad Yamin dan Lahirnya Sumpah Pemuda
Nama Mohammad Yamin tidak dapat dipisahkan dari Kongres Pemuda II yang diselenggarakan pada 27–28 Oktober 1928 di Jakarta.
Yamin saat itu menjabat sebagai sekretaris kongres dan mewakili Jong Sumatranen Bond. Dalam salah satu pembahasannya, ia menguraikan lima faktor yang dapat memperkuat persatuan Indonesia, yakni sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Kongres tersebut melibatkan berbagai organisasi pemuda dari beragam latar belakang daerah. Mereka berkumpul untuk memperkuat kesadaran kebangsaan dan mencari landasan bersama bagi perjuangan Indonesia.
Keputusan kongres yang dirumuskan Yamin kemudian dibacakan oleh Ketua Kongres, Sugondo Djojopuspito. Isinya menegaskan tiga ikrar: satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Ikrar tersebut kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda dan menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan persatuan Indonesia.
Merawat Warisan Sejarah melalui Budaya Membaca
Kesaksian Meutia Hatta mengenai Mohammad Yamin memberikan pesan yang relevan bagi generasi muda. Semangat kebangsaan tidak hanya diwariskan melalui upacara dan peringatan sejarah, tetapi juga melalui kebiasaan membaca, menulis, mengembangkan pengetahuan, dan berani menyampaikan gagasan.
Keteguhan prinsip yang dikenang Meutia menunjukkan pentingnya pendirian. Kemampuan menulis menegaskan arti bahasa sebagai sarana menyampaikan pemikiran, sedangkan perpustakaan pribadi Yamin menjadi gambaran kecintaannya terhadap pengetahuan.
Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026, cerita tersebut menjadi pengingat bahwa persatuan bangsa membutuhkan generasi yang tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga terus belajar dari tokoh-tokoh yang membentuknya.
Melalui wawancara eksklusif ini, Riwara.id menghadirkan sisi lain Mohammad Yamin: bukan hanya tokoh yang namanya tercatat dalam ikrar kebangsaan, melainkan juga sosok yang dikenang karena prinsip, kemampuan menulis, dan kecintaannya terhadap buku.*
Meutia Hatta mengungkap sosok Mohammad Yamin yang teguh pada prinsip dan pecinta buku saat wawancara eksklusif Riwara.id di Makassar.