RIWARA.ID, JAKARTA – Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober tidak seharusnya hanya menjadi kegiatan seremonial dengan upacara dan pembacaan ikrar. Generasi muda perlu memahami sejarah perjuangan bangsa sekaligus mengambil peran nyata dalam menjaga persatuan Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Rania Yamin, cicit tokoh pergerakan nasional Muhammad Yamin, kepada Riwara.id dalam perbincangan yang mengangkat pemikiran dan warisan sejarah leluhurnya, Rabu (28/10/2026).
Menurut Rania, semangat Sumpah Pemuda dapat diwujudkan melalui berbagai cara yang relevan dengan perkembangan zaman, termasuk memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan pengetahuan sejarah dan membangun kesadaran kebangsaan.
"Kalau ingin merayakan atau memperingati Hari Sumpah Pemuda itu tidak hanya dengan sekadar upacara. Terus ada yang membacakan ikrarnya," ungkap Rania.
Ia menilai generasi muda dapat mengambil bagian dalam menjaga semangat persatuan dengan menghasilkan konten-konten positif, termasuk membicarakan sejarah Indonesia melalui platform digital.
Rania sendiri mengaku kerap membuat konten sederhana mengenai sejarah. Baginya, berbagi pengetahuan tidak harus selalu dimulai dengan pembahasan besar. Hal-hal kecil tentang sejarah pun dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan perjalanan bangsa kepada generasi seusianya.
Tumbuh di Tengah Buku dan Arsip Muhammad Yamin
Kecintaan Rania terhadap sejarah tidak muncul begitu saja. Lingkungan keluarga menjadi salah satu faktor yang membentuk ketertarikannya terhadap dunia literasi dan pemikiran Muhammad Yamin.
Ia bercerita bahwa sejak kecil tumbuh di lingkungan rumah yang menyimpan banyak buku peninggalan leluhurnya. Perpustakaan kecil Muhammad Yamin menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya.
Bahkan, Rania mengingat masa kecilnya ketika tidur bersama ayah dan ibunya di sebuah kamar yang dipenuhi tumpukan buku.
"Aku seumur hidup itu kalau misalnya main komputer itu di antara buku-buku yang sudah enggak pernah tersentuh dari tahun 2000 itu kali ya," tuturnya.
Dari kebiasaan membaca itulah, Rania mulai mengenal berbagai pemikiran dan arsip sejarah. Ketertarikannya terhadap buku bahkan sudah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Rania mengaku pernah membaca karya Pramoedya Ananta Toer sejak kelas dua SD. Kebiasaan tersebut semakin memperluas wawasannya mengenai sastra, sejarah, dan perjalanan bangsa.
Rania juga menyebut ayahnya, Rharian Yamin, sebagai salah satu sosok yang memperkenalkannya kepada sejarah keluarga dan Muhammad Yamin.
Baginya, keberadaan perpustakaan keluarga bukan sekadar menyimpan buku-buku lama, melainkan juga menjadi ruang untuk mewariskan pengetahuan antargenerasi.
Puisi Muhammad Yamin Menggambarkan Perjalanan Pemikiran Kebangsaan
Salah satu hal yang menarik perhatian Rania adalah karya sastra Muhammad Yamin, khususnya soneta dan puisi yang menggambarkan kecintaannya terhadap tanah air.
Rania melihat adanya perkembangan pemikiran dalam karya-karya Yamin. Pada masa awal, puisi-puisinya banyak menggambarkan keindahan alam dan kerinduan terhadap tanah kelahiran di Sumatera.
Namun, setelah menempuh pendidikan dan berinteraksi dengan berbagai kalangan dari daerah berbeda, cakrawala pemikiran Yamin semakin berkembang.
Rania mencontohkan puisi Indonesia, Tumpah Darahku yang menggambarkan perubahan cara pandang Muhammad Yamin mengenai tanah air.
Menurutnya, jika dalam karya-karya awal tanah air masih digambarkan dalam lingkup kampung halaman dan Sumatera, pada perkembangan berikutnya pemaknaan tersebut meluas menjadi Indonesia secara utuh.
"Yang disebut tanah air olehnya itu sudah jadi Indonesia Raya seutuhnya," jelas Rania.
Ia juga menilai kecintaan Muhammad Yamin terhadap Indonesia berawal dari kekagumannya terhadap kekayaan alam Nusantara. Pengalaman melihat bentang alam, perbukitan, sawah, dan lingkungan tanah kelahirannya menjadi bagian dari tumbuhnya rasa cinta terhadap tanah air.
Melalui sastra, Yamin kemudian mengembangkan pemikiran yang lebih luas mengenai bahasa, kebangsaan, dan persatuan.
Bahasa Indonesia Menjadi Jembatan Persatuan Nusantara
Rania juga menyoroti pentingnya bahasa Indonesia dalam perjalanan sejarah Sumpah Pemuda.
Rania menjelaskan bahwa proses penentuan bahasa persatuan tidak berlangsung secara instan. Dalam Kongres Pemuda I tahun 1926, persoalan bahasa masih menjadi bahan perdebatan di antara para pemuda.
Muhammad Yamin pada masa itu masih mendorong penggunaan bahasa Melayu. Perdebatan kemudian berkembang hingga Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928, ketika bahasa Indonesia akhirnya ditegaskan sebagai bahasa persatuan.
Rania menilai latar belakang Muhammad Yamin sebagai penyair dan kecintaannya terhadap bahasa menjadi salah satu bekal penting dalam proses tersebut.
Sebagai sekretaris Kongres Pemuda II, Yamin memiliki kesempatan untuk mengikuti pembahasan dan perdebatan secara langsung.
Menurut Rania, posisi tersebut membuat Yamin dapat menyimak berbagai gagasan yang berkembang di antara peserta kongres.
Ia juga melihat bahasa sebagai sarana komunikasi yang sangat penting untuk menyatukan masyarakat dari berbagai suku dan daerah.
"Untuk menyatukan ribuan pulau dan berbagai macam, cuma satu ya. Harus dari komunikasi yang sama," ujarnya.
Karena itu, Rania mengajak masyarakat untuk tetap menjaga penggunaan bahasa Indonesia di tengah derasnya pengaruh bahasa asing.
Menurutnya, mencintai bahasa Indonesia tidak berarti harus meninggalkan bahasa daerah, tetapi menempatkan bahasa persatuan sebagai salah satu pengikat kebangsaan.
Anak Muda Harus Belajar Sejarah untuk Merancang Masa Depan
Rania memandang generasi muda memiliki tanggung jawab untuk memahami perjalanan panjang Indonesia.
Ia menilai pengetahuan sejarah dapat menjadi bekal bagi anak muda dalam melihat persoalan bangsa dan merancang masa depan.
Menurutnya, perjuangan menuju kemerdekaan tidak hanya berlangsung melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui kekuatan pemikiran dan gerakan intelektual.
Ia menyinggung perjalanan pergerakan nasional sejak 1908 hingga Proklamasi Kemerdekaan 1945 sebagai bukti bahwa perjuangan melalui pendidikan, pemikiran, dan persatuan memiliki peranan penting.
Rania juga mengingatkan bahwa tantangan menjaga persatuan pada masa sekarang berbeda dengan masa perjuangan melawan penjajahan.
"Karena tantangan masa kini ya justru lawannya kita itu bukan penjajah, tapi bangsa kita sendiri. Jadi ya kita harus memperbaiki diri kita sendiri," katanya.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi bahwa persatuan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui sikap saling menghargai, kesediaan belajar, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Merawat Warisan Muhammad Yamin di Era Digital
Bagi Rania, mewarisi pemikiran Muhammad Yamin bukan berarti hanya mengenang nama besar leluhurnya. Warisan tersebut harus diteruskan melalui tindakan nyata yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Rania mengajak anak muda untuk tidak takut memulai kegiatan positif, termasuk membuat konten sejarah di media sosial.
Menurutnya, siapa pun dapat ikut menyebarkan pengetahuan, bahkan melalui pembahasan sejarah sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Semangat tersebut sekaligus menjadi cara baru memperingati Sumpah Pemuda. Jika dahulu para pemuda berkumpul dan berdiskusi untuk merumuskan persatuan, generasi sekarang memiliki ruang komunikasi yang jauh lebih luas melalui teknologi digital.
Rania berharap anak muda tidak kehilangan ketertarikan terhadap sejarah bangsanya sendiri.
Sebab, memahami masa lalu bukan sekadar mengingat peristiwa dan tokoh, melainkan juga belajar dari proses panjang yang membentuk Indonesia.
Pesan Rania menjadi pengingat pada peringatan 28 Oktober 2026 bahwa semangat Sumpah Pemuda harus terus hidup dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga bahasa Indonesia, membaca sejarah, dan menggunakan media sosial secara positif merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan generasi muda untuk merawat persatuan bangsa.*
Rania Yamin, cicit Muhammad Yamin, mengajak generasi muda belajar sejarah, menjaga bahasa Indonesia, dan memaknai Sumpah Pemuda.