RIWARA.ID — Nama Muhammad Yamin menempati posisi penting dalam perjalanan sejarah kebangsaan Indonesia. Ia dikenal sebagai sastrawan, pemikir, dan tokoh pergerakan nasional yang turut menyumbangkan gagasan tentang persatuan, bahasa Indonesia, serta identitas bangsa di tengah keberagaman masyarakat Nusantara.
Dalam perbincangan sejarah yang disampaikan sejarawan Anhar Gonggong melalui kanal YouTube Anhar Gonggong Official, pemikiran Muhammad Yamin kembali mendapat perhatian, terutama menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober.
Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan membangun Indonesia tidak hanya berlangsung melalui perlawanan terhadap kolonialisme, tetapi juga melalui pergulatan pemikiran tentang bahasa, kebudayaan, sejarah, dan cita-cita kebangsaan.
Dari Sumatera, Yamin Membawa Gagasan tentang Indonesia
Muhammad Yamin tumbuh dengan kecintaan terhadap tanah kelahirannya, Sumatera. Kecintaan itu tercermin dalam karya-karya puisinya yang menggambarkan ikatan emosional dengan kampung halaman.
Salah satu penggalan sajaknya berbunyi, “Lamun hati terkenang pulang.” Ungkapan tersebut menggambarkan kerinduan seorang perantau terhadap tanah kelahirannya, meskipun ia telah melangkah ke lingkungan yang lebih luas.
Menurut Anhar Gonggong, pengalaman tokoh-tokoh pergerakan yang meninggalkan daerah asal untuk menempuh pendidikan dan berjuang di Jawa menjadi bagian dari proses pembentukan kesadaran kebangsaan.
Mereka berasal dari latar belakang suku, budaya, dan lingkungan kerajaan yang berbeda. Namun, perjumpaan antarpemuda membuka ruang dialog untuk merumuskan identitas bersama yang melampaui ikatan kedaerahan.
Dalam konteks itu, gagasan Indonesia berkembang bukan dengan menghapus identitas daerah, melainkan dengan membangun kesadaran bahwa keberagaman dapat dipersatukan oleh cita-cita kemerdekaan.
Peran Muhammad Yamin dalam Kongres Pemuda
Perjalanan menuju Sumpah Pemuda berlangsung melalui serangkaian pertemuan dan perdebatan di kalangan organisasi kepemudaan.
Kongres Pemuda I pada 1926 menjadi salah satu ruang penting untuk membicarakan persatuan, pendidikan, perempuan, bahasa, dan kesusastraan. Dalam kongres tersebut, Muhammad Yamin menyampaikan pemikiran mengenai kemungkinan perkembangan bahasa-bahasa dan kesusastraan Indonesia pada masa mendatang.
Pembicaraan kemudian berlanjut hingga Kongres Pemuda II yang diselenggarakan pada 27–28 Oktober 1928 di Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta.
Dalam kongres tersebut, Yamin menyampaikan pidato bertema persatuan dan kebangsaan Indonesia. Ia juga tercatat sebagai sekretaris panitia kongres yang dipimpin Sugondo Djojopuspito.
Peran Yamin dalam perumusan ikrar pemuda menjadi salah satu bagian yang menonjol dalam pembahasan Anhar Gonggong.
Mengutip uraian yang dibahas dalam tayangan tersebut, Yamin menyodorkan rumusan resolusi kepada Sugondo. Rumusan itu kemudian mendapat persetujuan dan menjadi bagian dari proses lahirnya keputusan kongres yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa persatuan Indonesia tidak lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dialog, perbedaan pandangan, dan kesediaan para pemuda untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Mengapa Bahasa Indonesia Dipilih sebagai Bahasa Persatuan?
Salah satu pertanyaan penting dalam sejarah Sumpah Pemuda adalah mengapa bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa persatuan, sementara bahasa Jawa digunakan oleh jumlah penduduk yang besar.
Dalam penjelasannya, Anhar Gonggong menyoroti posisi bahasa Melayu yang telah digunakan secara luas sebagai bahasa perhubungan di berbagai wilayah Nusantara.
Bahasa Melayu memiliki fungsi komunikasi lintas daerah sehingga dapat menjembatani pemuda dari latar belakang suku dan bahasa yang berbeda. Penggunaannya memungkinkan gagasan kebangsaan disampaikan tanpa harus menjadikan bahasa salah satu kelompok etnis sebagai bahasa nasional.
Bahasa Indonesia kemudian ditegaskan dalam ikrar ketiga Sumpah Pemuda: menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Pilihan tersebut memiliki arti lebih luas daripada sekadar penetapan bahasa. Bahasa menjadi sarana untuk membangun komunikasi, memperkuat solidaritas, dan membayangkan masa depan bersama sebagai satu bangsa.
Dalam perspektif ini, keputusan para pemuda pada 1928 merupakan langkah penting menuju pembentukan identitas nasional yang tidak bertumpu pada satu suku atau wilayah saja.
Tiga Ikrar yang Menjadi Tonggak Persatuan
Sumpah Pemuda lahir dari Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928. Keputusan kongres memuat tiga ikrar yang menjadi tonggak kesadaran kebangsaan Indonesia.
Pertama, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kedua, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Ketiga, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Namun, pembahasan mengenai keputusan kongres tidak berhenti pada tiga ikrar tersebut. Naskah keputusan juga menyinggung dasar-dasar yang memperkuat persatuan Indonesia, antara lain kemauan, sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kepanduan.
Unsur-unsur itu memperlihatkan bahwa persatuan dipahami sebagai proses yang dibangun melalui kesadaran bersama dan berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Bagi Yamin dan para pemuda sezamannya, Indonesia bukan sekadar nama geografis. Indonesia merupakan cita-cita politik yang berkaitan erat dengan perjuangan menuju kemerdekaan.
Muhammad Yamin dan Pandangan Kontroversial tentang Sejarah Nusantara
Di luar perannya dalam pergerakan nasional, Muhammad Yamin juga dikenal melalui pandangan sejarah yang memancing perdebatan.
Salah satu gagasannya menghubungkan Sriwijaya, Majapahit, dan Republik Indonesia dalam suatu rangkaian sejarah yang ia gambarkan sebagai Indonesia pertama, Indonesia kedua, dan Indonesia ketiga.
Gagasan tersebut mencerminkan upayanya mencari akar sejarah bagi identitas kebangsaan Indonesia. Namun, penyebutan kerajaan-kerajaan masa lampau sebagai bagian dari rangkaian Indonesia perlu dipahami sebagai interpretasi Yamin, bukan fakta sejarah yang diterima secara universal.
Negara Indonesia modern terbentuk melalui proses sejarah yang berbeda dari kerajaan-kerajaan terdahulu. Karena itu, hubungan antara Sriwijaya, Majapahit, dan Indonesia perlu dikaji dengan memperhatikan konteks politik, wilayah, masyarakat, serta sumber sejarah masing-masing zaman.
Anhar Gonggong juga menekankan pentingnya pembelajaran sejarah yang berangkat dari sudut pandang Indonesia, tanpa mengabaikan ketepatan fakta dan objektivitas penelitian.
Dalam contoh yang disampaikan, Perang Diponegoro tidak cukup dipahami hanya melalui perspektif pemerintah kolonial Belanda yang menggambarkannya sebagai pemberontakan. Peristiwa itu juga perlu dipelajari dari konteks perlawanan terhadap kekuasaan kolonial dan perjuangan masyarakat pada masanya.
Meski demikian, penggunaan perspektif Indonesia tidak berarti mengabaikan bukti yang bertentangan dengan suatu penafsiran. Sejarah tetap membutuhkan kritik sumber, verifikasi, dan pembacaan yang cermat.
Warisan Yamin bagi Generasi Muda
Pemikiran Muhammad Yamin tentang bahasa, kebangsaan, dan sejarah kembali relevan ketika generasi muda menghadapi perubahan budaya dan arus informasi yang semakin cepat.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda dapat menjadi kesempatan untuk mengingat bahwa identitas Indonesia dibangun melalui perjuangan panjang. Persatuan tidak terbentuk hanya karena kesamaan asal-usul, melainkan melalui kesediaan untuk menerima perbedaan dan membangun tujuan bersama.
Bahasa Indonesia menjadi salah satu wujud nyata dari proses tersebut. Bahasa ini memungkinkan masyarakat dari berbagai daerah berkomunikasi dalam ruang kebangsaan yang sama, tanpa harus kehilangan bahasa dan tradisi lokalnya.
Pada saat yang sama, warisan pemikiran Yamin juga mengingatkan pentingnya membaca sejarah secara kritis. Menghargai tokoh bangsa bukan berarti menerima seluruh pendapatnya tanpa pemeriksaan, melainkan memahami kontribusi, konteks pemikiran, dan perdebatan yang menyertainya.
Melalui pembahasan Anhar Gonggong, Muhammad Yamin tampil sebagai tokoh yang pemikirannya patut dipelajari secara menyeluruh: seorang sastrawan yang mencintai tanah kelahirannya, seorang pemuda yang memperjuangkan persatuan, dan seorang pemikir yang berusaha menemukan hubungan antara sejarah Nusantara dan identitas Indonesia.
Pada akhirnya, pelajaran penting dari Sumpah Pemuda bukan hanya mengulang tiga ikrar, tetapi memahami proses panjang yang membuat para pemuda dari berbagai latar belakang bersedia menyebut diri mereka sebagai satu bangsa: Indonesia.***
Sejarawan Anhar Gonggong mengulas peran Muhammad Yamin dalam Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia, persatuan, dan kontroversi sejarah Nusantara.