RIWARA.id – Empat pilot militer tewas setelah dua pesawat latih tipe SF-260 milik Angkatan Udara Filipina (Philippine Air Force) jatuh saat menjalani sesi latihan penerbangan di Pangkalan Udara Fernando, Provinsi Batangas, sebelah selatan ibu kota Manila.
Tragedi penerbangan militer tersebut terjadi pada Jumat, sebagaimana dikonfirmasi oleh pihak militer Filipina pada Sabtu (24/10/2026), dilansir dari laporan Channel News Asia.
Berdasarkan laporan media lokal di Filipina, kedua pesawat latih tersebut diduga kuat mengalami tabrakan di udara (midair collision) sebelum akhirnya terhempas ke tanah.
Insiden maut ini terjadi sepenuhnya di dalam area kompleks pangkalan udara, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan pada pemukiman warga di sekitar lokasi.
Menanggapi musibah ini, Angkatan Udara Filipina bergerak cepat menghentikan sementara operasional (grounding) seluruh armada pesawat latih SF-260 milik mereka hingga proses investigasi penyebab kecelakaan selesai dilakukan.
Tragedi di Pangkalan Udara Fernando menambah daftar panjang catatan kelam dan rentetan kecelakaan fatal yang melibatkan armada armada latih tipe SF-260 di Filipina.
Sebelumnya pada Mei lalu, dua pilot militer Filipina juga gugur setelah pesawat SF-260 yang mereka kemudikan jatuh di kawasan pegunungan utara Filipina.
Insiden serupa melanda penerbangan militer Filipina pada 2023, ketika satu unit pesawat SF-260 TP Marchetti jatuh saat latihan dan menewaskan dua pilot di dalamnya.
Pesawat SF-260 sendiri memiliki rekam jejak operasional panjang dan peran vital dalam sejarah operasi militer militer Filipina.
Salah satunya, armada ini diandalkan saat menggencarkan serangan udara intensif selama berbulan-bulan di Kota Marawi pada 2017 silam, usai wilayah tersebut dikuasai milisi yang beraliansi dengan kelompok ISIS.
Meskipun tergolong pesawat latih ringan, ketangguhan SF-260 membuatnya kerap diterjunkan untuk misi penyerangan darat jarak dekat (close air support) dan patroli keamanan wilayah.
SF-260 adalah pesawat latih aerobatik ringan berteknologi baling-baling (piston/turboprop) buatan Italia (SIAI-Marchetti/Leonardo). Dirancang untuk latihan dasar/lanjutan pilot militer serta sanggup diemban misi penyerangan darat ringan (light attack). Memiliki kapasitas 2–3 kru/penumpang dengan kecepatan jelajah hingga 330–420 km/jam.
Angkatan Udara Filipina tercatat mengoperasikan sekitar 20 hingga 30 unit armada keluarga SF-260 (varian SF-260FH/M/TP) sebelum adanya penghentian sementara (grounding) pasca-insiden ini.
Kini, tim penyidik independen Angkatan Udara Filipina diterjunkan ke lokasi kejadian untuk mengumpulkan bukti fisik serta mengidentifikasi faktor teknis maupun cuaca yang memicu tabrakan dua pesawat tersebut. (*)
Dua pesawat SF-260 Filipina jatuh di pangkalan udara Batangas, 4 pilot tewas. Seluruh armada di-grounding pascamusibah.