Simulasi Siber Keris Woomera 2026: TNI dan ADF Uji Ketahanan Sistem Tempur Digital

Jumat, 16 Oktober 2026 | 18:59 WIB
Latihan gabungan Keris Woomera 2026
Latihan gabungan Keris Woomera 2026 (Foto: Puspen TNI)


RIWARA.id – TNI bersama Angkatan Bersenjata Australia (Australian Defence Force/ADF) menggelar simulasi pertahanan siber dalam Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Keris Woomera 2026 di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) 5 Marinir, Baluran, Jawa Timur, Jumat (16/10/2026). Simulasi ini dirancang untuk menguji ketahanan infrastruktur digital militer dari ancaman serangan siber yang kian kompleks.

Skenario latihan difokuskan pada eksploitasi kerentanan sistem operasi Windows dalam jaringan militer. Penyesuaian ini diambil untuk mengukur kesiapsiagaan prajurit kedua negara dalam menghadapi perang informasi modern.

Dalam simulasi tempur digital tersebut, tim siber TNI yang tergabung dalam TNI Red Team bertindak sebagai pihak penyerang (agresor). Tugas utama mereka adalah menguji celah dan menembus pertahanan sistem.

TNI Red Team menjalankan pengujian keamanan jaringan yang dimulai dari identifikasi kerentanan sistem. Mereka mempraktikkan simulasi peningkatan hak akses hingga berupaya menguasai direktori jaringan utama.

Di sisi lain, ADF Blue Team menempati posisi sebagai unsur pertahanan jaringan. Tim militer Australia ini memikul tanggung jawab mendeteksi, menahan, dan merespons setiap ancaman yang masuk.

Menghadapi gempuran serangan siber TNI, ADF Blue Team menerapkan prosedur Digital Forensics and Incident Response (DFIR). Penanganan dilakukan secara presisi menggunakan analisis log keamanan secara real-time.

Tim pertahanan turut melakukan identifikasi Indicator of Compromise (IoC) untuk menemukan jejak digital serangan. Pelacakan aktivitas mencurigakan di dalam jaringan dilakukan guna memetakan pergerakan penyusup.

Selain deteksi dini, latihan ini menguji ketangkasan personel dalam melakukan isolasi jaringan. Prosedur penghentian sistem secara terkendali diterapkan demi membatasi dampak insiden dan mencegah kerusakan meluas.

Seluruh rangkaian simulasi tempur siber ini berada di bawah pengawasan dan evaluasi Joint Cyber Command/Exercise Control (JFCyC/EXCON). Tim penilai independen ini menggunakan kriteria tolok ukur standar GO/NO-GO.

Evaluasi tersebut bertujuan untuk mengukur secara terukur pencapaian sasaran latihan serta kesiapan operasional tim siber kedua negara. Keberhasilan kriteria penilaian menjadi penentu tingkat interoperabilitas prajurit di lapangan.

Melalui simulasi terpadu Keris Woomera 2026, TNI dan ADF berhasil memperkuat kemampuan deteksi, respons, hingga pemulihan pascaserangan siber. Sinergi ini sekaligus memantapkan koordinasi taktis menghadapi risiko kejahatan digital global.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen kerja sama pertahanan siber antara Indonesia dan Australia. Penguatan interoperabilitas ini menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas serta keamanan kawasan Indo-Pasifik.(*)

TNI dan ADF gelar simulasi pertahanan siber Latgabma Keris Woomera 2026 di Baluran. Ketahanan infrastruktur digital diuji ketat.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories