RIWARA.id – Pengepungan kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melumpuhkan aktivitas penerbangan di Sumatra usai ribuan titik panas (hotspot) melonjak drastis, Kamis (8/10/2026).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 4.845 titik panas bertebaran di seluruh wilayah Sumatra pada Kamis pagi.
Provinsi Sumatra Selatan menjadi kontributor hotspot terbesar dengan sumbangan mencapai 3.847 titik, disusul Jambi 384 titik, Kepulauan Bangka Belitung 316 titik, Lampung 251 titik, serta Riau 19 titik.
Dampak kepungan asap tebal dari Sumatra Selatan berimbas fatal terhadap operasional Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang.
Pihak otoritas Bandara SMB II Palembang mencatat sedikitnya 15 jadwal penerbangan terpaksa menunda keberangkatan hingga pukul 13.00 WIB.
Gaya pandang atau visibility di landasan pacu Bandara SMB II Palembang merosot tajam hingga menyisakan jarak pandang sejauh 400 meter.
General Manager Bandara Internasional SMB II Palembang, Ahmad Syaugi Shahab, menegaskan penundaan terpaksa diambil lantaran jarak pandang telah berada jauh di bawah standar keselamatan penerbangan minimum yakni 600 meter.
Syaugi mencatat gangguan operasional penerbangan akibat bencana kabut asap karhutla di Palembang ini merupakan kali ke-8 yang terjadi secara berturut-turut.
Sementara itu, kondisi mencekam juga sempat mewarnai ruang udara Provinsi Riau akibat jarak pandang terbatas sekitar 1.000 meter.
Tiga pesawat rute domestik dan internasional menuju Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru terpaksa melakukan holding atau berputar-putar di udara sebelum berhasil mendarat.
Ketiga armada penerbangan tersebut yakni Citilink QG936 (Jakarta–Pekanbaru), Lion Air JT292 (Jakarta–Pekanbaru), dan penerbangan internasional Malaysia Airlines MH841 (Kuala Lumpur–Pekanbaru).
General Manager Bandara SSK II Pekanbaru, Achmad, memastikan ketiga pesawat akhirnya sukses mendarat secara berurutan dalam rentang waktu 15 menit setelah menunggu momentum pendaratan yang aman.
Di sisi lain, kualitas udara Kota Pekanbaru terus memburuk hingga masuk kategori sangat tidak sehat dengan konsentrasi partikulat halus PM2.5 menembus angka 176,8 µg/m³ hingga titik tertinggi 215,5 µg/m³.
Forecaster BMKG Pekanbaru, Yasir Prayuna, memprakirakan potensi kekaburan udara akibat asap tebal di wilayah Riau masih akan berlangsung panjang sejak pagi hingga dini hari.
Guna meredam potensi bahaya kesehatan dan penerbangan, BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau kualitas udara serta mengencangkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat disertai petir di sejumlah daerah. (*)
Ribuan titik panas karhutla lumpuhkan penerbangan di Palembang & Pekanbaru. Udara Pekanbaru masuk kategori sangat tidak sehat.