SURABAYA, RIWARA.ID – Sebuah rumah di kawasan Dharmahusada Permai, Surabaya, mendadak jadi sorotan dalam persidangan kasus sindikat penipuan daring lintas negara (online scamming). Bukan sekadar rumah tinggal biasa, pengadilan mengungkap fakta mengejutkan terkait kondisi bagian dalam rumah yang disulap menjadi markas operasi digital.
Saat penggeledahan, petugas menemukan dinding berperedam suara, meja bersekat, tulisan berhuruf Mandarin, perangkat komunikasi khusus, hingga tiga bilik berbahan triplek yang dilapisi spons peredam.
Fakta tersebut terungkap dalam sidang pemeriksaan saksi di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Damang Anubowo menghadirkan pemilik rumah, Gunawan Poernomo, serta Ketua RW setempat, Wiyono, sebagai saksi.
Kasus ini menjerat puluhan warga negara asing (WNA) serta tiga warga negara Indonesia (WNI), yakni Ahmad Pauji, Endang Sumarna, dan Jun Meou.
Izin Usaha Cuci Sarang Burung yang Ternyata Fiktif
Gunawan Poernomo selaku pemilik rumah di Jalan Dharmahusada Permai VII/Blok N 318, Surabaya, mengaku menyewakan propertinya kepada Endang Sumarna selama dua tahun (29 September 2024 hingga 2026) melalui perantara broker dan notaris.
Saat proses sewa-menyewa, penyewa berdalih akan menggunakan rumah tersebut untuk usaha pencucian sarang burung walet. Namun, Gunawan mengaku tidak pernah melakukan pengecekan berkala selama masa sewa berlangsung.
Keterangan senada disampaikan Ketua RW setempat, Wiyono. Ia menegaskan tidak pernah melihat aktivitas usaha sarang burung di rumah tersebut. Sehari-hari, kondisi rumah justru cenderung tertutup dan sepi.
"Sekitar bulan April pernah terdengar orang marah-marah menggunakan bahasa Mandarin," ujar Wiyono di hadapan majelis hakim.
Dinding Kedap Suara hingga Perangkat Komunikasi Khusus
Wiyono yang hadir saat penggeledahan oleh Polrestabes Surabaya menyaksikan langsung interior rumah yang sudah dimodifikasi layaknya kantor operasional terselubung.
"Dindingnya dilengkapi kedap suara dari papan dan busa. Ada meja yang disekat-sekat, tulisan huruf China di dinding, serta perangkat komunikasi unicom berwarna abu-abu," jelas Wiyono.
Di dalam lokasi, petugas mengamankan tujuh orang yang terdiri dari lima laki-laki dan dua perempuan. Temuan tata ruang ini menguatkan dugaan penyidik bahwa rumah di Surabaya tersebut difungsikan sebagai markas sindikat scamming internasional.
Incar Korban Luar Negeri dan Aset Kripto
Sindikat penipuan berbasis digital ini diduga dipimpin oleh Zhuqilin alias A Xiong dan Zhang Kaixuan. Kelompok ini menyasar korban di luar negeri dengan modus investasi serta penipuan aset kripto.
Aksi ilegal yang berjalan sejak Maret 2026 ini terbongkar setelah dua warga negara Jepang melaporkan kasus penipuan yang mereka alami pada 20 April 2026. Penyelidikan Polrestabes Surabaya kemudian mengarah pada dua lokasi utama: rumah di Dharmahusada Surabaya dan sebuah rumah di Surakarta, Jawa Tengah.
Puluhan Smartphone, iPad, hingga Uang Asing Disita
Sebagai barang bukti, Kejaksaan Negeri Surabaya menyita ratusan perangkat elektronik yang digunakan untuk melancarkan aksi penipuan, di antaranya:
- Perangkat Komunikasi: Puluhan smartphone (iPhone, Samsung, Xiaomi, Huawei, Oppo, Vivo, Poco), belasan iPad generasi 8 & 9, serta laptop kelas atas (MSI, Dell).
- Fasilitas Operasional: Puluhan kartu perdana Telkomsel & XL, modem, headset, perangkat HT, serta 3 bilik kedap suara berbahan triplek-spons.
- Barang Bukti Finansial: Uang tunai Rp11,5 juta, buku rekening dan ATM BCA, serta mata uang asing berupa Dolar AS, Yuan China, dan Baht Thailand.
Dijerat Pasal Berlapis
Atas perbuatannya, puluhan terdakwa dijerat dengan pasal berlapis, yakni Pasal 492 UU RI Nomor 1 Tahun 2023 (KUHP Baru) jo. Pasal 20 huruf c, serta Pasal 28 ayat (1) UU ITE jo. UU Nomor 1 Tahun 2024 tentang Transaksi Elektronik.
Proses hukum perkara penipuan online lintas negara ini masih terus bergulir di PN Surabaya untuk menguji seluruh keterangan saksi dan alat bukti sebelum majelis hakim menjatuhkan putusan akhir. ***
Fakta persidangan di PN Surabaya mengungkap rumah kontrakan di Dharmahusada disulap jadi markas scamming internasional lengkap dengan dinding kedap suara dan bilik khusus.