RIWARA.id – Sensasi perih, kering, atau pandangan samar yang muncul usai menatap layar perangkat digital selama berjam-jam bukan sekadar kelelahan biasa. Kondisi tersebut menandakan gejala Computer Vision Syndrome (CVS) atau sindrom kelelahan mata akibat paparan layar komputer, laptop, maupun ponsel pintar yang kian marak terjadi di era kerja modern.
Dilansir dari Kementerian Kesehatan, CVS atau digital eye strain merupakan sekumpulan gangguan pada penglihatan, mata, leher, hingga bahu. Masalah ini dipicu oleh penggunaan media digital dalam durasi panjang, terutama jika tidak didukung posisi kerja yang ergonomis, pencahayaan yang pas, serta waktu istirahat yang cukup.
Risiko gangguan ini dapat menimpa siapa saja yang saban hari beraktivitas di depan layar digital. Pekerja kantor, programmer, desainer grafis, analis data, hingga tenaga pengajar dan mahasiswa rentan mengalami masalah kesehatan ini.
Riset di berbagai negara menunjukkan setidaknya dua dari tiga pengguna perangkat digital mengeluhkan satu atau lebih gejala CVS. Meski tidak mengakibatkan kerusakan penglihatan permanen, gangguan ini berpotensi menurunkan kenyamanan, fokus, serta produktivitas harian secara signifikan jika terus dibiarkan.
Mata bekerja ekstra keras saat membaca teks, menangkap gambar, dan menyesuaikan pencahayaan maupun kontras di layar digital. Situasi ini diperparah oleh penurunan frekuensi berkedip, padahal refleks berkedip sangat krusial untuk menjaga kelembapan alami selaput mata.
Terdapat sejumlah faktor penentu yang mempercepat munculnya CVS. Durasi kerja tanpa jeda, jarak mata ke layar yang terlalu dekat atau jauh, serta letak monitor yang kurang sejajar dengan pandangan mata menjadi pemicu utamanya.
Selain itu, kondisi pencahayaan ruangan yang terlalu redup atau menyilaukan, ukuran huruf font yang terlalu kecil, hingga adanya gangguan refraksi mata—seperti minus, plus, atau silinder yang belum dikoreksi kacamata—turut memperberat beban kerja mata.
Gejala yang kerap dilaporkan meliputi mata lelah, kering, perih, atau berpasir, pandangan kabur, hingga keluhan sulit memfokuskan objek. Pada beberapa kasus, penderita juga mengeluhkan mata merah, sensitif cahaya, sakit kepala berulang, hingga rasa pegal di leher, bahu, dan punggung.
Penanganan awal CVS pada dasarnya cukup mudah dengan memperbaiki kebiasaan harian dan merapikan area kerja. Namun, penderita disarankan segera mendatangi dokter atau fasilitas medis jika timbul nyeri mata yang hebat, rasa merah yang tak kunjung hilang, pandangan kabur secara terus-menerus, atau sakit kepala yang makin berat.
Untuk pencegahan harian, masyarakat diimbau menerapkan rumus 20-20-20. Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik untuk mengendurkan otot mata yang tegang.
Langkah pencegahan lain meliputi pembiasaan berkedip secara sadar, penggunaan kacamata resep yang sesuai dari dokter, penyetelan ukuran huruf agar nyaman dibaca, serta pengaturan posisi monitor sekitar 50–70 cm dari mata dengan sudut kemiringan 15–20 derajat ke bawah.
Di sisi lain, lingkungan kerja atau instansi juga memegang peranan penting dalam menekan angka kasus CVS. Penyediaan sarana meja-kursi ergonomis, pengaturan tata cahaya ruang yang bebas pantulan silau, edukasi posisi duduk ideal, hingga penyediaan program pemeriksaan kesehatan mata berkala bagi para pekerja dapat menjadi solusi jangka panjang guna menjaga produktivitas kerja tetap optimal. (*)
Waspadai Computer Vision Syndrome (CVS) akibat kerja di depan layar. Kenali gejala, pemicu, dan langkah pencegahannya dari Kemenkes.