SOLO, RIWARA.ID– Melangkah ke Kota Surakarta rasanya kurang lengkap bila belum memanjakan lidah dengan ragam sajian kulinernya yang kaya cita rasa. Di tengah gempuran kafe modern dan kuliner kekinian, pesona tempat makan legendaris di Solo justru tak pernah pudar. Mengunjungi warung-warung makan ini bukan sekadar urusan mengenyangkan perut, melainkan meresapi jejak sejarah resep kuno yang dirawat bertahun-tahun.
Jika Anda sedang merancang agenda liburan atau wisata kuliner ke Solo, ada empat destinasi kuliner wajib yang menyuguhkan keaslian rasa dan pengalaman bertutur lewat piring saji.
Selat Solo Mbak Lies: Perpaduan Rasa dan Estetika Antik
Dua elemen yang langsung menyapa saat Anda melangkah ke Warung Selat Solo Mbak Lies adalah aroma kuah rempah yang harum serta ruang makan yang dipenuhi ornamen piring porselen dan barang antik bernuansa warna-warni. Berlokasi di Jalan Yudhistira No. 9, Serengan, Surakarta, tempat ini menjadi tempat terbaik untuk mengenali olahan bistik gaya Solo.
Menu andalannya, Selat Bistik, memadukan irisan daging sapi empuk, telur pindang, kentang, wortel, buncis, dan acar segar yang disiram kuah manis, asam, sekaligus gurih. Bagi yang ingin ragam lain, tersedia pula Selat Galantin, Sop Matahari, hingga Timlo Solo. Ditemani aneka kudapan tradisional, sepiring kelezatan di sini dibanderol berkisar Rp22.000 hingga Rp28.000.
Timlo Sastro: Kehangatan Kuah Bening Sejak 1952
Bagi pencinta hidangan berkuah segar, Timlo Sastro yang tersohor di area Pasar Gede (Jalan Abdul Muis No. 32A, Kepatihan Kulon) adalah pemberhentian wajib. Mengudara sejak tahun 1952, warung ini konsisten menyajikan racikan timlo komplit yang memikat.
Semangkuk Timlo Komplit berisi suwiran daging ayam, potongan sosis Solo homemade, telur pindang, ati ampela, jamur, serta bihun yang disiram kuah kaldu bening nan gurih. Sosis Solo di sini punya kekhasan tersendiri karena dibuat seperti gulungan adonan yang digoreng garing. Buka sejak jam 06.00 pagi, sajian seharga Rp18.000 hingga Rp35.000 ini kerap ludes sebelum sore menjelang.
Nasi Liwet Wongso Lemu: Keaslian Cita Rasa dalam Pincuk Daun Pisang
Guruh gurih olahan santan dan kaldu ayam menyatu sempurna dalam seporos Nasi Liwet Wongso Lemu. Berdiri sejak era 1950-an di Jalan Teuku Umar, Keprabon, tempat makan ini mempertahankan cara penyajian tradisional dengan alas pincuk daun pisang yang menguatkan aroma wangi hidangan.
Nasi gurih ini disajikan bersama sayur labu siam pedas-gurih, opor ayam suwir, telur, dan sentuhan areh (santan kental gurih). Buka hingga dini hari (pukul 16.00–01.00 WIB), Anda bisa menambahkan aneka lauk pendamping seperti tahu kuning, jeroan, hingga telur kukus dengan kisaran harga Rp15.000 sampai Rp50.000 per porsi.
Sate Kambing Bu Hj. Bejo: Sensasi Juicy Sate Buntel Favorit
Petualangan rasa di Solo akan semakin berkesan dengan menyambangi Sate Kambing Bu Hj. Bejo di Jalan Sungai Sebakung No. 10, Kedung Lumbu, Pasar Kliwon. Buka mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB, warung ini menjadi muara bagi para pencinta olahan daging kambing.
Bintang utamanya adalah sate buntel—daging kambing cincang berbumbu gurih yang dibungkus balutan lemak tipis lalu dibakar di atas bara arang. Saat digigit, tekstur dagingnya begitu empuk dan juicy. Selain sate buntel dan sate potong, tersedia pula tengkleng, tongseng, dan gulai jeroan. Sajian sate buntel dibanderol di kisaran Rp25.000 hingga Rp40.000 per porsi.
Itulah empat lokasi legendaris yang menyuguhkan ragam karakter kuliner Solo yang begitu kaya, dari kuah asam-manis selat, kehangatan timlo, gurihnya nasi liwet, hingga kelezatan sate kambing yang legendaris. ***
Mau berburu kuliner Solo? Simak ulasan empat tempat makan legendaris seperti Selat Mbak Lies, Timlo Sastro, Nasi Liwet Wongso Lemu, dan Sate Bu Hj. Bejo lengkap dengan lokasi dan harganya