RIWARA.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memakan korban. Kali ini terjadi di sebuah pesantren di Sidoarjo. Akibatnya, banyak siswa yang harus dirawat di rumah sakit akibat keracunan makanan.
Terkait kasus itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengungkapkan permintaan maafnya kepada para penerima manfaat. Hingga saat ini BGN terus memantau kondisi kesehatan para siswa yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
“Kami minta maaf atas kejadian ini, dan kami terus memantau kondisi para siswa di rumah sakit. Kami juga melakukan penyisiran siapa tahu ada siswa yang sakit tetapi tidak ke puskesmas atau rumah sakit,” ujarnya dikutip Riwara.id dari video di akun Instagram @indonesiago.id, Kamis 3 September 2026.
Sudaryono menyebut BGN telah mengecek kronologisnya dan di Radar MBG. Ternyata, ahli gizi dan kepala dapur tidak melabeli semua ompreng yang berisi keterangan jam aman konsumsi. Jadi, hanya 1 ompreng yang diberi label jam makan untuk 1 PIC.
“Dari pengecekan di lapangan, dapur MBG hanya menempel 1 label jam makan untuk 1 PIC. Misalnya dapur mengirim 400 ompreng ke sekolah, label yang ditempel hanya 1. Untuk saat ini dan selanjutnya, saya wajibkan setiap ompreng harus ada labelnya. Label harus diisi dengan jam makan yang sesuai,” jelasnya.
Ia juga menyatakan dari penelusuran sementara, keracunan massal di Sidoarjo diduga terjadi karena MBG dimakan tidak sesuai jam aman konsumsi. Di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut, makanan matang pukul 05.00 dan seharusnya dikonsumsi sebelum pukul 09.00.
Tapi, di label tertulis matang pukul 08.00, dikonsumsi maksimal pukul 10.00. Kenyataannya ompreng dikirim ke sekolah sekitar pukul 11.30 atau 11.40, lalu dimakan siswa di atas pukul 12.00. Maka terjadilah keracunan massal.
“Kejadian di Sidoarjo ini adalah kelalaian yang disengaja. Aturan dan tata cara sudah diberikan, tetapi mengapa tidak dilaksanakan. Bukan hanya dicopot atau dipecat, kalau diindentifikasi ada kelalaian dan unsur pidana, maka kami tidak bisa bantu,” tegas Sudaryono.
Menurut Kepala BGN, dari data statistik kasus keracunan MBG, mayoritas penyebabnya karena masakan yang tidak bagus atau dimakan melebihi jam aman untuk konsumsi yaitu 4 jam. Ia pun mengimbau SPPG lainnya yang tidak ada masalah dalam penyaluran MBG untuk tidak terpengaruh oleh SPPG lain yang bermasalah.
Kepala BGN berharap keamanan pangan bukan sekadar soal makanan yang enak, tetapi juga tentang ketepatan proses, standar pengolahan, dan tanggung jawab. Sebab, di balik setiap makanan yang disajikan, ada anak-anak yang mengonsumsinya dan ada tanggung jawab negara untuk memastikan makanan yang diberikan benar-benar aman.
Sudaryono menambahkan lebih baik melakukan pengawasan dan perbaikan sejak awal, meski membutuhkan usaha lebih, daripada menunggu terjadi masalah dan baru mengambil tindakan setelah ada korban. Keselamatan para penerima manfaat harus selalu menjadi prioritas.
Kepala BGN Sudaryono menyebut jika keracunan MBG di Sidoarjo adalah kelalaian yang disengaja. Penyaluran MBG melebihi jam aman konsumsi.