Polri Terbangkan 10 Anjing Pelacak K9 dan 3,4 Ton Logistik ke Flores, Cari Korban Tertimbun Gempa NTT

Senin, 17 Agustus 2026 | 12:27 WIB
Anjing pelacak Polri dalam salah satu bencana alam
Anjing pelacak Polri dalam salah satu bencana alam (Foto: Humas Polri)

RIWARA.id – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengerahkan 10 anjing pelacak (K9) Search and Rescue (SAR) berpengalaman dari Direktorat Polisi Satwa (Ditpolsatwa) Korsabhara Baharkam Polri guna memperkuat pencarian korban pascagempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (16/8/2026).

Tim khusus yang terdiri dari 10 ekor K9 dan 21 personel pendukung tersebut diterbangkan langsung menggunakan pesawat angkut khusus CN-295 Polri P-4501 dari Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, menuju Labuan Bajo, NTT.

Penerbangan khusus yang dipimpin Kapten Penerbang Kp M. Rahman dan Kp Hendri S. ini dilakukan untuk memotong waktu tempuh pergeseran pasukan, sehingga operasi pencarian dan pertolongan korban di lokasi bencana dapat segera bergerak cepat.

Selain menerbangkan personel dan anjing pelacak, pesawat angkut militer Polri itu turut membawa total muatan logistik dan perlengkapan operasional seberat 3.411 kilogram atau sekitar 3,4 ton.

Bantuan tersebut mencakup 10 unit kennel box K9, empat kotak perlengkapan tim dan pakan anjing, 45 dus makanan siap saji, 10 unit Wontech, 409 kilogram obat-obatan medis, serta perlengkapan pendukung operasional lapangan lainnya.

Operasi lapangan Ditpolsatwa dipimpin oleh Iptu Erasmus selaku Ketua Tim (Katim) K9, dengan dukungan tim medis veteriner Ipda drh. Linda dan Aipda Triyo, serta sejumlah handler dan pelindung armada.

Adapun 10 anjing pelacak K9 tangguh yang diterjunkan ke area gempa NTT meliputi Walet, Ari, Rubin, Dasa, Gyra, Sita, Koni, Kyara, Gejlon, dan Gizi.

Seluruh K9 tersebut dibekali keahlian khusus Canine Search and Rescue (CSAR) untuk menemukan korban hidup di balik reruntuhan serta kemampuan cadaver guna merunut aroma jenazah korban yang tertimbun material bangungan maupun tanah longsor.

Keahlian khusus K9 ini sangat krusial di lokasi bencana gempa bumi Flores, terutama pada titik-titik area terdampak parah yang tertutup puing ketebalan tinggi dan sulit dijangkau penglihatan visual tim SAR gabungan.

Rekam jejak jam terbang unit SAR Ditpolsatwa Polri ini sebelumnya teruji saat penanganan bencana skala besar di Sumatera Utara pada Desember 2025 lalu.

Kala itu, empat K9—yakni Walet, Ari, Rubin, dan Dasa—sukses menyisir bantaran sungai serta area tertimbun material tebal hingga memberikan indikasi presisi yang berhasil menuntun tim gabungan menemukan posisi korban.

Setibanya di Bandara Labuan Bajo, tim K9 Polri membagi kekuatan menjadi tiga regu BKO (Bantuan Kendali Operasi) untuk langsung bergerak menyisir area hukum Polda NTT.

Fokus area pencarian awal diprioritaskan pada tiga wilayah terdampak utama, yakni Kabupaten Sikka, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Timur, dengan opsi fleksibilitas pergeseran regu sesuai dinamika kondisi lapangan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko menegaskan bahwa kecepatan evakuasi merupakan prioritas tertinggi Polri dalam menanggulangi dampak gempa Flores.

"Kecepatan merupakan salah satu hal yang paling utama. Pagi ini kami kembali memberangkatkan tim tersebut. Nantinya pembagian tugas akan dilakukan melalui koordinasi dan komunikasi dengan Polda NTT," ujar Trunoyudo dalam keterangan resminya.

Ia menambahkan, Polri berkomitmen memberikan dukungan penuh atas nama kemanusiaan untuk menyelamatkan warga yang masih terjebak di area reruntuhan.

"Kami memahami betul dan sama-sama berempati bahwa proses pencarian sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita di sana. Yang paling utama adalah bagaimana Polri dapat memberikan evakuasi dan penyelamatan bagi korban yang masih selamat," pungkas Trunoyudo. (*)

 

Polri mengerahkan 10 anjing pelacak K9 SAR berpengalaman dan 3,4 ton bantuan ke Flores untuk percepat pencarian korban gempa NTT.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories