Sebelum Jadi Monumen Pers, Gedung Ini Bernama Societeit Sasana Soeka

Rabu, 12 Agustus 2026 | 03:51 WIB
Societeit Sasana Soeka sekarang menjadi Monumen Pers
Societeit Sasana Soeka sekarang menjadi Monumen Pers (Foto: Dok. KRT. Sulistyo Wartonagoro)

 

SURAKARTA, RIWARA.id – Sebuah bangunan di Kota Solo menyimpan perjalanan panjang sejarah pers dan kehidupan sosial masyarakat Jawa. Bangunan yang kini dikenal sebagai Monumen Pers Nasional itu pada awalnya bukan museum pers, melainkan sebuah balai perkumpulan bernama Societeit Sasana Soeka.

Gedung tersebut dibangun pada 1918 atas prakarsa KGPAA Sri Mangkunegara VII, salah satu tokoh penting dalam sejarah modernisasi Mangkunegaran.

Jauh sebelum menjadi tempat penyimpanan berbagai koleksi sejarah pers nasional, bangunan itu dirancang sebagai ruang pertemuan dan tempat berkumpul.

Perubahan fungsi selama lebih dari satu abad membuat gedung tersebut menjadi salah satu saksi perjalanan panjang Kota Surakarta, dari kehidupan sosial masyarakat pada masa kolonial, perkembangan organisasi dan pers nasional, hingga menjadi bagian dari sejarah Indonesia setelah kemerdekaan.

Berawal dari Societeit Sasana Soeka

Societeit  Sasana Soeka
Societeit  Sasana Soeka
Societeit Sasana Soeka (Foto: Societeit mangkunegaran Solo)

 

 

Pada awalnya, Societeit Sasana Soeka didirikan sebagai balai perkumpulan dan ruang pertemuan.

Gagasan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba.

Sekitar 1917, sebuah perkumpulan sederhana telah terbentuk dan dipimpin oleh Hardjasoepoetra. Para anggotanya biasa mengadakan pertemuan sekitar pukul tujuh malam di sebuah rumah kontrakan yang berada di sebelah barat Kampung Tumenggungan, Surakarta.

Dari perkumpulan sederhana tersebut kemudian muncul kebutuhan untuk memiliki rumah soos atau societeit sendiri.

Mangkunegara VII kemudian mengambil prakarsa untuk mendukung pembangunan gedung baru.

Pada tahap awal, bangunan tersebut disebut dengan nama Ngesusan atau Ngesus, sebelum kemudian dikenal sebagai Societeit Sasana Soeka.

KGPAA Sri Mangkunegara VII bersama bersama dengan Gusti Ratu Timoer dan Gusti Nurul
KGPAA Sri Mangkunegara VII bersama bersama dengan Gusti Ratu Timoer dan Gusti Nurul (Foto: dok. Keluarga Gusti Nurul)

 

Rancangan bangunannya bahkan telah dibuat sebelum pembangunan fisi k dimulai.

Menurut keterangan yang dihimpun, gambar rancangan gedung telah dibuat dan diserahkan kepada Mangkunegara VII pada 1917.

Perancangan tersebut diprakarsai oleh arsitek asal Wonosobo bernama Mas Aboekasan Atmodirono.

Setahun kemudian, bangunan tersebut berdiri dan digunakan sebagai rumah societeit.

Peresmian dengan Musik, Gamelan, dan Ratusan Tamu

Pembukaan Societeit Sasana Soeka berlangsung meriah.

Acara dihadiri sekitar 200 orang yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anggota societeit, priyayi bumiputra, putra-putri kerajaan, hingga perwakilan masyarakat Tionghoa.

Kelompok murid perempuan dari sekolah Tionghoa juga hadir dengan mengenakan pakaian noni.

Perayaan berlangsung pada malam hari.

Setelah sambutan presiden perserikatan, Mangkunegara VII turut memberikan sambutan dan kemudian menyematkan nama Sasana Soeka.

Hiburan menjadi bagian penting dari acara.

Alunan gamelan Jawa mengiringi suasana malam, sementara musik Barat juga hadir dalam perayaan tersebut.

Sekitar pukul sembilan malam, sebuah kelompok Strijk Orkest dari Keraton Kasunanan datang.

Tiga perempuan muda turut menyanyikan lagu-lagu Barat dengan iringan yang berpadu dengan tabuhan gamelan Jawa.

Perayaan berlangsung hingga tengah malam dan ditutup dengan sorak para tamu:

“Hiduplah Societeit Sasana Soeka!”

Peristiwa tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana ruang sosial masyarakat Surakarta pada awal abad ke-20 mulai mempertemukan berbagai unsur budaya.

Baca juga: Dua Pekan Jadi Buron, DPO Pembacokan Ambyar Superclub Surabaya, Akhirnya Serahkan Diri ke Polrestabes

Dari Balai Perkumpulan Menjadi Bagian dari Sejarah Pers

Perjalanan gedung tersebut kemudian mengalami perubahan besar setelah Indonesia merdeka.

Pada 1956, sekitar satu dekade setelah berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946, sejumlah wartawan kenamaan Indonesia menggagas pembentukan sebuah yayasan yang dapat menaungi pers nasional.

Yayasan tersebut kemudian diresmikan pada 22 Mei 1956.

Dalam perkembangannya, gedung bekas Societeit Sasana Soeka mulai diarahkan menjadi tempat yang memiliki kaitan erat dengan sejarah pers Indonesia.

Sebagian besar koleksi awal museum disebut berasal dari sumbangan Soedarjo Tjokrosisworo, yang menjadi salah satu tokoh penting dalam pengumpulan benda-benda bersejarah pers.

Dari sinilah fungsi gedung perlahan bergeser.

Bangunan yang dahulu menjadi tempat pertemuan dan hiburan masyarakat berubah menjadi tempat yang menyimpan memori perjalanan pers Indonesia.

Nama Monumen Pers Nasional Muncul pada 1973

Perubahan nama kembali terjadi pada 1973.

Nama Monumen Pers Nasional dicetuskan dalam rangkaian kongres yang berlangsung di Tretes.

Usulan perubahan tersebut juga mendapat dorongan dari PWI Cabang Surakarta.

Perubahan nama itu menunjukkan semakin kuatnya posisi bangunan tersebut sebagai simbol perjalanan pers nasional, bukan lagi sekadar gedung perkumpulan.

Seiring waktu, koleksi yang tersimpan di dalamnya juga berkembang.

Berbagai benda yang berkaitan dengan perjalanan pers Indonesia dikumpulkan dan dirawat sebagai bagian dari warisan sej arah.

D iserahkan kepada Pemerintah pada 1977

Babak penting berikutnya terjadi pada 1977.

Lahan dan bangunan bekas Societeit tersebut kemudian disumbangkan kepada pemerintah.

Penyerahan tersebut didasarkan pada Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Tengah Nomor HK.128/1977 tertanggal 31 Desember 1977.

Dalam keputusan tersebut, tanah dan gedung “Societeit” diserahkan kepada Panitia Pembangunan Monumen Pers Nasional di bawah Departemen Penerangan RI.

Penyerahan itu menjadi tonggak penting karena pengelolaan bangunan kemudian masuk ke dalam struktur pemerintah dan secara resmi diarahkan sebagai monumen yang berkaitan dengan sejarah pers nasional.

Diresmikan Presiden Soeharto pada 1978

Presiden Soeharto meresmikan Monumen Pers Nasional pada 9 Februari 1978
Presiden Soeharto meresmikan Monumen Pers Nasional pada 9 Februari 1978 (Foto: Kolesi Pribadi R Surojo)

Setelah proses pembangunan dan penataan, Monumen Pers Nasional akhirnya diresmikan.

Presiden Soeharto meresmikan Monumen Pers Nasional pada 9 Februari 1978.

Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan sekaligus membuka bangunan tersebut untuk masyarakat um um.

Ta nggal 9 Februari sendiri memiliki makna khusus karena bertepatan dengan hari lahir PWI pada 9 Februari 1946.

Sejak saat itu, Monumen Pers Nasional tidak hanya menjadi bangunan bersejarah, tetapi juga tempat masyarakat mengenal perjalanan panjang pers Indonesia.

Dari Gedung Societeit hingga Museum Pers

Jika dilihat dari sejarahnya, perubahan fungsi gedung ini berlangsung dalam beberapa tahap.

Pada 1918, bangunan didirikan sebagai Societeit Sasana Soeka untuk menjadi balai perkumpulan dan ruang pertemuan.

Pada 1956, gagasan mengenai yayasan yang menaungi pers nasional mulai memperkuat fungsi gedung sebagai tempat yang berkaitan dengan sejarah pers.

Pada 1973, nama Monumen Pers Nasional mulai digunakan.

Pada 1977, lahan dan bangunan diserahkan kepada pemerintah.

Kemudian 9 Februari 1978, Monumen Pers Nasional diresmikan Presiden Soeharto dan dibuka untuk masyarakat.

Transformasi tersebut memperlihatkan bagaimana satu bangunan dapat mengalami perubahan fungsi mengikuti perjalanan sejarah bangsa.

Dari tempat berkumpulnya masyarakat pada masa Mangkunegara VII, menjadi salah satu pusat penyimpanan memori sejarah pers Indonesia.

Menjadi Saksi Perubahan Zaman

Monumen Pers
Monumen Pers (Foto: komdigi, Riwara.id)

 

Kini, Monumen Pers Nasional bukan sekadar bangunan tua di tengah Kota Solo.

Bangunan tersebut merupakan salah satu saksi perjalanan sejarah Indonesia.

Dinding dan ruangnya menyimpan jejak dari masa ketika masyarakat Surakarta mulai mengenal bentuk-bentuk perkumpulan modern, ketika musik Barat bertemu gamelan Jawa, hingga ketika pers Indonesia berkembang menjadi salah satu unsur penting dalam kehidupan berbangsa.

Lebih dari itu, sejarah gedung tersebut menunjukkan hubungan erat antara kebudayaan, kekuasaan, masyarakat perkotaan, dan perkembangan pers.

Prakarsa Mangkunegara VII pada awal abad ke-20 akhirnya melahirkan sebuah bangunan yang memiliki perjalanan jauh melampaui fungsi awalnya.

Dari Societeit Sasana Soeka, gedung tersebut kemudian berubah menjadi Monumen Pers Nasional.

Sebuah nama yang hari ini mengingatkan publik bahwa sejarah pers Indonesia tidak lahir dalam ruang kosong.

Ia tumbuh bersama perubahan masyarakat, kebudayaan, pendidikan, organisasi, dan kehidupan kota—termasuk di Surakarta.

Baca juga: BMKG Operasikan Radar Cuaca C-Band di Kalimantan, Alat Ini Diklaim Sebagai Pendukung Penanganan Karhutla, Bagaimana Cara Kerjanya?

Pengelolaan dari Kominfo ke Komdigi

Dalam perkembangannya, Monumen Pers Nasional juga mengalami perubahan kelembagaan.

Pada periode 2005 hingga 2024, pengelolaannya berada di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo).

Sejak Oktober 2024, kelembagaan tersebut berubah mengikuti restrukturisasi kementerian dan Monumen Pers Nasional berada di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indones ia (Ko mdigi).

Dengan demikian, bangunan yang lebih dari satu abad lalu didirikan sebagai rumah perkumpulan masyarakat itu kini memiliki kedudukan sebagai bagian dari warisan sejarah pers nasional.

Dari Sasana Soeka ke Monumen Pers Nasional, satu bangunan di Solo telah melewati lebih dari satu abad perubahan zaman, dan tetap berdiri sebagai saksi perjalanan masyarakat, kebudayaan, serta pers Indonesia.*

Monumen Pers Nasional di Surakarta memiliki sejarah panjang. Sebelum menjadi museum pers, bangunan ini dikenal sebagai Societeit Sasana Soeka dan dibangun pada 1918 atas prakarsa Mangkunegara VII. Monumen Pers Nasional kemudian diresmikan Presiden Soeharto pada 9 Februari 1978.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories