SURAKARTA, RIWARA.ID — Presiden Soekarno pernah duduk di ruangan ini bersama Susuhunan Pakubuwana XII. Puluhan tahun kemudian, api hampir menghapusnya dari sejarah.
Sasana Handrawina, salah satu bangunan bersejarah di kompleks Keraton Surakarta Hadiningrat, bukan sekadar ruang jamuan kerajaan. Di tempat ini tersimpan jejak pertemuan antara penguasa Keraton dan pemimpin Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Namun sejarah bangunan ini tidak selalu berjalan dalam suasana megah. Pada Jumat Wage, 31 Januari 1985, Sasana Handrawina menjadi salah satu bangunan yang luluh dalam kebakaran besar Keraton Surakarta.
Bangunan itu kemudian dibangun kembali dengan konstruksi tradisional kayu jati, melalui proses panjang yang dalam catatan sejarah bahkan menyerupai pekerjaan forensik.
Dan puluhan tahun setelah dibangun kembali, Sasana Handrawina kembali menjadi saksi salah satu babak penting perjalanan Keraton Surakarta.
Ketika Soekarno Datang ke Sasana Handrawina
Salah satu dokumentasi sejarah yang dihimpun Riwara.id memperlihatkan Susuhunan Pakubuwana XII menerima kunjungan Presiden Soekarno bersama sejumlah pejabat Pemerintah Republik Indonesia di Sasana Handrawina sekitar awal 1946.
Dalam dokumentasi tersebut tampak Adipati Mangkunegara VIII dan R.P. Soeroso duduk di sebelah Susuhunan.
Momen tersebut memiliki arti penting karena berlangsung pada periode ketika Republik Indonesia masih berada pada masa awal setelah Proklamasi Kemerdekaan.
Sasana Handrawina pada masa itu bukan sekadar bangunan dengan arsitektur indah.
Bangunan tersebut merupakan salah satu ruang penting Keraton yang digunakan untuk menerima tamu kehormatan, menggelar perjamuan serta berbagai kegiatan resmi kerajaan.
Kehadiran Presiden Soekarno dan pejabat Republik di Sasana Handrawina memperlihatkan bahwa ruang kerajaan tersebut juga menjadi bagian dari perjumpaan antara lingkungan tradisional Jawa dan pemerintahan Republik Indonesia.
Foto itu kini menjadi bagian penting dari jejak sejarah bangunan tersebut.
Sebab, hampir empat dekade kemudian, Sasana Handrawina menghadapi salah satu malam paling kelam dalam sejarah Keraton Surakarta.
Jumat Wage, 31 Januari 1985, Api Meluluhlantakkan Keraton
Kenangan memilukan itu terjadi pada Jumat Wage, 31 Januari 1985 sekitar pukul 21.15 WIB.
Kebakaran besar melanda kompleks Keraton Surakarta Hadiningrat.
Sejumlah bangunan utama ikut terbakar, antara lain Ndalem Ageng Prabasuyasa, Paringgitan, Sasana Parasdya, Sasana Sewaka, Bangsal Paningrat, Bangsal Malige, Sasana Handrawina, Ndalem Paku Buwanan dan Sanggar Singan.
Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi kobaran api.
Dalam catatan Jejak Sejarah Mataram yang dihimpun Riwara.id, salah satu upaya yang dilakukan adalah menabuh Kempul Pusaka Kanjeng Kyai Becak.
Namun kobaran api tidak kunjung dapat dihalau.
Di tengah keadaan tersebut, Susuhunan Paku Buwono XII nekat menerobos kobaran api dan memasuki Ndalem Ageng Prabasuyasa bersama beberapa putra, sentana dan abdi dalem.
Tujuannya adalah menyelamatkan pusaka-pusaka Keraton serta berbagai barang berharga lainnya.
Malam itu, Sasana Handrawina ikut menjadi korban.
Bangunan yang pernah menjadi tempat berlangsungnya perjamuan dan pertemuan penting tersebut luluh terbakar.
Soeharto Memimpin Rapat Pembangunan Kembali
Musibah tersebut mendapatkan perhatian pemerintah Republik Indonesia.
Pada 5 Februari 1985, Presiden Soeharto memimpin rapat panitia pembangunan kembali Keraton Surakarta di Bina Graha.
Dalam catatan yang dihimpun Riwara.id, Soeharto memberikan dukungan terhadap pembangunan kembali Keraton sebagai bagian penting dari pelestarian kebudayaan.
Ia juga disebut memberikan sumbangan pribadi sebesar 50 persen gajinya selama lima bulan untuk membantu mempercepat proses pemugaran.
Soeharto kemudian menugaskan Jenderal Surono untuk menangani pembangunan kembali bangunan yang terbakar.
Surono membentuk Panitia Swasta Pembangunan Kembali Karaton Surakarta yang melibatkan unsur Markas Besar TNI AD, Departemen Pekerjaan Umum, pihak Keraton Surakarta dan pihak swasta.
Namun tantangan terbesar bukan sekadar mengumpulkan dana dan tenaga.
Pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana membangun kembali bangunan yang hampir tidak lagi memiliki bentuk fisik?
Beton dan Baja atau Kembali ke Kayu Jati?
Menurut catatan Ir. Sri Adhyaksa, panitia saat itu menghadapi pilihan penting.
Bangunan dapat dibangun menggunakan konstruksi beton dan baja yang relatif lebih cepat.
Pilihan lainnya adalah mempertahankan konstruksi tradisional dengan kayu jati, sebagaimana bentuk dan kaidah bangunan sebelumnya.
Akhirnya diputuskan untuk mempertahankan konstruksi tradisional.
Pertimbangannya bukan semata-mata soal bentuk.
Bangunan tersebut merupakan bagian dari sejarah Keraton dan juga dapat menjadi rujukan bagi studi mengenai konstruksi tradisional Jawa pada masa mendatang.
Keputusan tersebut membuat proses pembangunan kembali menjadi pekerjaan yang jauh lebih kompleks.
Membangun Kembali dengan Cara seperti Kerja Forensik
Dalam catatan Ir. Sri Adhyaksa, proses perencanaan rekonstruksi Sasana Handrawina bahkan diibaratkan seperti kerja forensik.
Bangunan telah rata dengan tanah.
Tim harus mencari petunjuk dari berbagai sumber yang tersisa.
Di antaranya adalah umpak batu yang masih berada di tempatnya, Kawruh Kalang, material dan bentuk bangunan pembanding, foto-foto lama serta berbagai petunjuk lainnya.
Salah satu sumber penting adalah Serat Kawruh Kalang dan Kawruh Kalang, yang berkaitan dengan tata cara membangun bangunan Jawa.
Pada masa itu, Sasana Pustaka Keraton Surakarta baru menyelesaikan alih aksara karya tersebut dari aksara Jawa ke huruf Latin, sementara bahasanya tetap Jawa kuno.
Alih aksara dilakukan oleh Dra. Sri Sulistyawati (Lies Andis) dan Dra. Endang Tri Winarni.
Pengetahuan tersebut kemudian menjadi salah satu referensi dalam proses rekonstruksi.
Dari Pemilihan Kayu hingga Saka Guru
Membangun kembali Sasana Handrawina berarti menghidupkan kembali teknik konstruksi yang semakin langka.
Prosesnya mencakup pemilihan material, teknik sambungan kayu hingga teknik mendirikan rangkaian portal kayu.
Dokumentasi yang dihimpun Riwara.id juga memperlihatkan KPH Eddy Wirabhumi bersama PB XIII mengecek kayu yang akan digunakan sebagai saka guru Sasana Handrawina.
Dokumentasi lainnya memperlihatkan GKR Koes Moertiyah Wandansari menebang kayu di Alas Krendowahono yang kemudian digunakan dalam pembangunan Sasana Handrawina.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa proses rekonstruksi tidak berhenti pada pekerjaan arsitektur.
Pemilihan kayu dan pembangunan kembali struktur utama menjadi bagian dari upaya mengembalikan karakter bangunan tradisional.
Rekonstruksi Tidak Hanya Soal Teknik
Menurut catatan Ir. Sri Adhyaksa, aspek tradisi dan tata cara juga diperhatikan selama proses pembangunan.
Karena bangunan dan kompleks Keraton dianggap memiliki nilai sakral, pelaksanaan konstruksi mengikuti tata cara dan tahapan tertentu.
Salah satu rujukannya adalah tulisan tangan Jenderal Soedjono Hoemardani, Mulyakaké-ngluhuraké budaya leluhur bangsa.
Dengan demikian, pembangunan kembali Sasana Handrawina mempertemukan aspek teknik konstruksi dengan pengetahuan dan tata cara tradisional.
November 1986 hingga Desember 1987
Proses pembangunan kembali berlangsung dalam periode November 1986 hingga Desember 1987.
Dalam catatan Ir. Sri Adhyaksa, sejumlah nama tercatat dalam pelaksanaan pembangunan, antara lain Kol. CZI Soemarno, Ir. Soewito, Lettu CZI Ir. Argunadi, Ir. Sri Adhyaksa, Lettu CZI Ir. Imam Sardjono, Lettu CZI Ir. Bambang Irawan dan Ir. Ali Syaifullah.
Pekerjaan juga melibatkan tim teknis dari PT Pembangunan Perumahan (PP).
Hasil pembangunan kembali kemudian dinilai oleh budayawan dan sastrawan KRT Hardjonagoro atau Go Tik Swan.
Dalam catatan tersebut, hasil rekonstruksi dinilai sebagai replika yang “cèples” atau persis, serta “nunggak semi” sebagai pengganti dari bangunan yang telah hilang.
Dengan konstruksi kayu jati dan berbagai sumber sejarah sebagai dasar, Sasana Handrawina kembali berdiri.
Kembali Menjadi Bagian dari Kehidupan Keraton
Setelah pembangunan kembali, Sasana Handrawina kembali digunakan dalam berbagai kegiatan Keraton.
Bangunan tersebut memiliki sejarah pemanfaatan yang panjang, mulai dari perjamuan makan agung, penerimaan tamu kehormatan, kegiatan internal kerajaan hingga berbagai kegiatan adat.
Sasana Handrawina juga digunakan untuk upacara ngabekten, yakni prosesi sungkeman keluarga Keraton kepada raja saat Idulfitri.
Fungsi tersebut membuat Sasana Handrawina kembali menjadi ruang yang hidup, bukan sekadar bangunan hasil rekonstruksi.
Empat Dekade Kemudian, Sejarah Kembali Bergerak
Sejarah Sasana Handrawina kembali memasuki babak baru pada 2025.
Sri Susuhunan Paku Buwono XIII meninggal dunia pada Minggu, 2 November 2025, dalam usia 77 tahun.
Jenazah PB XIII kemudian dimakamkan pada Rabu, 5 November 2025, di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Delapan hari kemudian, pada 13 November 2025, KGPH Hangabehi, yang sebelumnya dikenal sebagai KGPH Mangkubumi dan merupakan putra tertua PB XIII, mendeklarasikan diri sebagai Sahandap Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono XIV.
Peristiwa tersebut berlangsung di Sasana Handrawina.
Dengan demikian, bangunan yang pernah menjadi tempat pertemuan tokoh-tokoh pada masa awal Republik, kemudian luluh dalam kebakaran dan dibangun kembali dengan kayu jati, kembali menjadi saksi dinamika sejarah Keraton Surakarta.
Satu Bangunan, Banyak Babak Sejarah
Jika perjalanan Sasana Handrawina dirangkai, bangunan tersebut menyimpan sejumlah titik penting dalam perjalanan sejarah.
Awal 1946: Presiden Soekarno dan sejumlah pejabat Republik Indonesia berkunjung ke Sasana Handrawina dan diterima Susuhunan Pakubuwana XII.
31 Januari 1985: kebakaran besar melanda Keraton Surakarta dan menghancurkan sejumlah bangunan utama, termasuk Sasana Handrawina.
5 Februari 1985: Presiden Soeharto memimpin rapat pembangunan kembali Keraton Surakarta di Bina Graha.
November 1986–Desember 1987: pembangunan kembali berlangsung dengan mempertahankan konstruksi tradisional kayu jati.
13 November 2025: Sasana Handrawina menjadi lokasi deklarasi KGPH Hangabehi sebagai Pakubuwono XIV oleh pihak yang mendukungnya.
Rentang sejarah tersebut memperlihatkan bahwa Sasana Handrawina bukan sekadar bangunan tua.
Ia adalah ruang yang terus menjadi saksi perubahan zaman.
Sejarah yang Tidak Berakhir ketika Bangunan Terbakar
Kebakaran 1985 pernah mengancam hilangnya salah satu bagian penting dari warisan arsitektur Keraton Surakarta.
Namun pembangunan kembali membuktikan bahwa warisan budaya tidak selalu berhenti ketika bangunan fisiknya musnah.
Pengetahuan tentang konstruksi, foto lama, sisa bangunan, Kawruh Kalang, material dan ingatan para pelaku sejarah menjadi bagian dari proses mengembalikan Sasana Handrawina.
Karena itu, kisah Sasana Handrawina bukan hanya tentang kebakaran dan pembangunan kembali.
Ini adalah kisah mengenai bagaimana sebuah masyarakat berusaha mempertahankan pengetahuan dan identitas budaya ketika warisan fisiknya mengalami kehancuran.
Dari ruang pertemuan Soekarno dan PB XII, kobaran api 1985, kayu jati dalam proses rekonstruksi, hingga dinamika Keraton pada 2025, Sasana Handrawina terus berdiri sebagai saksi perjalanan sejarah Surakarta.
Bangunan itu pernah terbakar.
Tetapi sejarah yang melekat di dalamnya tidak ikut padam.*
Sasana Handrawina menyimpan jejak sejarah dari pertemuan Soekarno dan PB XII, kebakaran besar 1985, rekonstruksi kayu jati hingga peristiwa Keraton 2025.