PROBOLINGGO, RIWARA.id - Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali berduka. Si jago merah yang sempat membakar tebing-tebing terjal di Gunung Bromo kini kian meluas dan melahap area savana dan puncak B29. Tak main-main, Balai Besar TNBTS mencatat total area terdampak kebakaran kini telah melonjak drastis mencapai 520 hektare—bertambah sekitar 176 hektare dari pendataan sebelumnya.
Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, mengonfirmasi bahwa meluasnya kobaran api dipicu oleh munculnya kembali titik api (flare-up) pada Sabtu (8/8) malam. Angin kencang yang berembus sejak siang hari membuat api dengan sangat cepat meluncur dari atas tebing ke arah bawah.
"Api dengan cepat menjalar dan membakar vegetasi rumput serta tanaman yang memang sudah mengering. Ditambah lagi dampak dari fenomena frost (embun upas) yang membuat vegetasi makin mudah terbakar, hingga api akhirnya menyeberangi Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) dan membakar area savana," terang Rudijanta dikutip Senin, 10 Agustus 2026.
Pemerintah All Out, Akses Wisata Ditutup Total
Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan di tengah ancaman puncak El Nino, Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni memantau langsung proses penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bromo pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Kedatangan Menhut disambut langsung oleh jajaran pimpinan daerah, mulai dari Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris, hingga Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin.
Demi mengutamakan keselamatan dan memfokuskan proses pemadaman, pemerintah mengambil keputusan tegas: seluruh kawasan wisata TNBTS ditutup total untuk sementara waktu.
"Kami meminta untuk menutup sementara secara total Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Tujuannya cuma satu, agar semua personel bisa fokus memadamkan api sekaligus mengantisipasi kebakaran di titik lain. Faktor keselamatan adalah prioritas utama, safety first," tegas Menhut Raja Juli Antoni dalam rapat koordinasi penanganan karhutla dilansir laman resmi Pemkab Probolinggo.
30 Kali Operasi Water Bombing Diterjunkan
Menghadapi medan kelerengan Bromo yang terjal dan sulit dijangkau pasukan darat, pemerintah mengerahkan strategi udara. Tiga unit helikopter pemadam dikerahkan untuk melakukan operasi penyiraman air (water bombing).
Pemerintah menargetkan hingga 30 kali penyiraman udara untuk menggempur titik-titik api yang terisolasi. Selain gempuran dari udara, para petugas di lapangan juga berjibaku membuat sekat bakar (firebreak) dan pemadaman manual di jalur darat.
Mengingat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum bisa dilakukan dalam beberapa hari ke depan, kombinasi taktik darat dan udara ini menjadi tumpuan utama. Seluruh kekuatan gabungan kini disatukan dalam wadah Incident Command System (ICS) agar koordinasi dan suplai logistik di lapangan dapat berjalan presisi hingga potensi kemarau berakhir di bulan Oktober.
Peringatan Keras: Jangan Main-Main dengan Api!
Di tengah kondisi cuaca ekstrem yang kering, Menhut membeberkan bahwa pemerintah pusat telah menyiagakan seluruh unsur kementerian, TNI, Polri, BMKG, hingga BNPB untuk menghadapi fenomena cuaca yang kerap dijuluki El Nino Godzilla ini.
Menhut juga melayangkan peringatan keras kepada siapapun agar tidak melakukan tindakan konyol yang memicu bencana, seperti membuang puntung rokok sembarangan atau sengaja membakar lahan.
"Tindakan pembakaran hutan dan lahan pasti berujung pada proses hukum. Jangan ada lagi yang bermain api, baik itu dari puntung rokok atau land clearing. Siapapun yang melakukan pembakaran akan mendapat hukuman yang setimpal!" pungkas Menhut dengan nada tegas. ***
Diperparah angin kencang dan embusan frost, kebakaran Gunung Bromo meluas hingga 520 hektare. Wisata TNBTS ditutup total, helikopter dikerahkan