Amazon Tembus Kapitalisasi Pasar US$3 Triliun, Jadi Perusahaan Kelima di Dunia yang Capai Rekor Ini

Rabu, 05 Agustus 2026 | 06:42 WIB
Amazon ditampilkan di depan latar grafik pergerakan saham Amazon resmi menembus kapitalisasi pasar US3 triliun setelah lonjakan saham yang dipicu pertumbuhan kuat bisnis cloud Amazon Web Services AWS
Amazon ditampilkan di depan latar grafik pergerakan saham Amazon resmi menembus kapitalisasi pasar US3 triliun setelah lonjakan saham yang dipicu pertumbuhan kuat bisnis cloud Amazon Web Services AWS (Foto: Ilustrasi/Riwara.id)

 

RIWARA.id – Amazon.com Inc. mencetak sejarah baru setelah untuk pertama kalinya menembus kapitalisasi pasar (market capitalization) sebesar US$3 triliun atau sekitar Rp54,06 kuadriliun. Pencapaian tersebut menjadikan Amazon sebagai perusahaan kelima di dunia yang berhasil mencapai valuasi tersebut.

Kenaikan tersebut terjadi setelah saham Amazon melonjak hingga 5,3% pada perdagangan Senin pagi waktu Amerika Serikat. Reli ini memperpanjang penguatan yang telah dimulai sejak pekan lalu usai perusahaan merilis laporan keuangan kuartal II yang menunjukkan pertumbuhan kuat pada bisnis komputasi awan melalui Amazon Web Services (AWS).

Dengan pencapaian itu, Amazon kini bergabung dalam kelompok eksklusif perusahaan bernilai lebih dari US$3 triliun bersama Nvidia, Microsoft, Apple, dan Alphabet, induk perusahaan Google.

AWS Jadi Mesin Penggerak Kenaikan Saham

Kebangkitan Amazon didorong oleh laporan kinerja yang melampaui ekspektasi pasar. Perusahaan melaporkan bahwa pendapatan Amazon Web Services (AWS) mencatat pertumbuhan tercepat sejak 2021.

Respons investor pun sangat positif. Harga saham Amazon melonjak lebih dari 15% dalam satu hari perdagangan, menjadi kenaikan harian terbesar dalam lebih dari 14 tahun. Lonjakan tersebut turut menambah nilai pasar perusahaan hampir US$400 miliar hanya dalam sehari.

Sempat Tertekan karena Belanja AI

Sebelum reli terbaru, Amazon sempat mengalami tekanan cukup besar. Saham perusahaan merosot hampir 18% dari rekor tertinggi yang dicapai pada 6 Mei hingga menyentuh titik terendah dalam tiga bulan pada bulan lalu.

Penurunan tersebut dipicu kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja modal perusahaan-perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Namun, laporan keuangan terbaru berhasil meredakan kekhawatiran tersebut setelah bisnis cloud Amazon menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih kuat dari perkiraan analis.

Kembali Jadi Bintang "Magnificent Seven"

Penguatan saham terbaru juga mengembalikan Amazon sebagai emiten dengan kinerja terbaik di kelompok Magnificent Seven, yaitu tujuh perusahaan teknologi terbesar di Amerika Serikat yang mendominasi pasar saham global.

Di saat beberapa saham teknologi besar hanya mencatat kenaikan terbatas sepanjang tahun ini, Amazon justru mampu memimpin penguatan berkat optimisme terhadap prospek bisnis cloud dan AI.

Meski demikian, valuasi Amazon masih dinilai relatif menarik dibandingkan sejarahnya. Rasio Price to Earnings (P/E) perusahaan saat ini berada di kisaran 25 kali laba yang diproyeksikan dalam 12 bulan ke depan, sekitar 44% lebih rendah dibandingkan rata-rata valuasinya selama satu dekade terakhir.

Lebih Cepat Mencapai US$3 Triliun

Amazon hanya membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk meningkatkan kapitalisasi pasarnya dari US$2 triliun, yang pertama kali dicapai pada Juni 2024, menjadi US$3 triliun.

Laju tersebut jauh lebih cepat dibandingkan perjalanan perusahaan dari kapitalisasi pasar US$1 triliun ke US$2 triliun, yang memakan waktu lebih dari enam tahun sejak Amazon pertama kali menembus valuasi US$1 triliun pada akhir 2018.

Pencapaian ini memperkuat posisi Amazon sebagai salah satu perusahaan teknologi paling bernilai di dunia sekaligus menunjukkan bahwa investasi besar perusahaan di bidang komputasi awan dan kecerdasan buatan mulai memberikan hasil yang signifikan.*

Amazon resmi menembus kapitalisasi pasar US$3 triliun setelah sahamnya melonjak berkat pertumbuhan AWS. Amazon menjadi perusahaan kelima di dunia yang mencapai valuasi tersebut.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories