Freeport Gelontorkan Rp25 Triliun untuk Tambang Kucing Liar, Cadangan Tembaga dan Emas Makin Jumbo

Rabu, 05 Agustus 2026 | 05:43 WIB
Suasana area operasional tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia di kawasan mineral Grasberg Papua Freeport-McMoRan telah menginvestasikan sekitar US14 miliar atau setara Rp2518 triliun
Suasana area operasional tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia di kawasan mineral Grasberg Papua Freeport-McMoRan telah menginvestasikan sekitar US14 miliar atau setara Rp2518 triliun (Foto: Ilustrasi/Riwara.id)

 

RIWARA.id – Raksasa pertambangan asal Amerika Serikat, Freeport-McMoRan Inc. (FCX), terus mempercepat pengembangan tambang bawah tanah Kucing Liar yang dikelola PT Freeport Indonesia (PTFI) di kawasan mineral Grasberg, Papua. Hingga pertengahan 2026, perusahaan telah menggelontorkan investasi sekitar US$1,4 miliar atau setara Rp25,18 triliun (kurs sekitar Rp17.990 per dolar AS).

Nilai investasi tersebut dipastikan masih akan terus bertambah. FCX memperkirakan kebutuhan modal tambahan mencapai US$4 miliar atau sekitar Rp72 triliun hingga 2033 guna menyelesaikan pengembangan salah satu tambang bawah tanah terbesar di dunia tersebut.

Dalam laporan keuangan terbaru yang dikutip Rabu (5/8/2026), manajemen FCX menyatakan proyek Kucing Liar telah dikembangkan sejak 2022 dan menjadi salah satu proyek strategis perusahaan untuk menjaga keberlanjutan produksi tembaga dan emas di Indonesia.

"Hingga 30 Juni 2026, PTFI telah mengeluarkan sekitar US$1,4 miliar untuk pengembangan Kucing Liar. Selain itu, investasi modal tambahan diperkirakan mencapai sekitar US$4 miliar hingga 2033, atau rata-rata sekitar US$500 juta per tahun," tulis manajemen FCX.

Produksi Mulai Meningkat pada 2030

Freeport menargetkan proses ramp-up atau peningkatan produksi Tambang Kucing Liar dimulai sekitar 2030.

Ketika beroperasi penuh, tambang tersebut diproyeksikan mampu mengolah hingga 130.000 metrik ton bijih per hari, meningkat signifikan dibandingkan rancangan awal sebesar 90.000 ton per hari.

Pada kapasitas maksimal, Kucing Liar diperkirakan menghasilkan rata-rata:

750 juta pon tembaga per tahun
735.000 ons emas per tahun

Produksi tersebut akan menjadi tulang punggung baru operasional PT Freeport Indonesia sekaligus menopang keberlanjutan produksi kawasan mineral Grasberg dalam jangka panjang.

"Serta akan mendukung keberlanjutan produksi skala besar di kawasan mineral Grasberg," tulis FCX.

Cadangan Mineral Naik Signifikan

Tak hanya meningkatkan kapasitas produksi, hasil eksplorasi terbaru juga menunjukkan lonjakan cadangan mineral di Tambang Kucing Liar.

Freeport memperkirakan hingga 2041 tambang tersebut memiliki cadangan yang dapat ditambang sebesar:

8 miliar pon tembaga, naik dari estimasi sebelumnya 7 miliar pon.
8 juta ons emas, meningkat dari perkiraan awal sebesar 6 juta ons.

Dengan peningkatan cadangan tersebut, potensi produksi tambang diperkirakan naik sekitar 35% dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Studi Perluasan Tambang Berhasil Tingkatkan Kapasitas

Dalam laporan kinerja perusahaan, FCX menjelaskan bahwa sepanjang 2025 PTFI telah menyelesaikan studi teknis untuk mengevaluasi potensi perluasan area tambang.

Hasil studi menunjukkan adanya peluang peningkatan kapasitas dengan biaya relatif rendah.

"Studi tersebut mengidentifikasi peluang perluasan biaya rendah untuk meningkatkan kapasitas desain Kucing Liar menjadi 130.000 ton bijih per hari dan meningkatkan cadangan Kucing Liar sekitar 20%," tulis manajemen FCX.

Perluasan ini dinilai akan memperpanjang umur operasi tambang sekaligus meningkatkan efisiensi produksi dalam jangka panjang.

Pengganti DMLZ yang Mulai Menurun

Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas sebelumnya menjelaskan bahwa Tambang Kucing Liar dipersiapkan untuk menggantikan kontribusi Deep Mill Level Zone (DMLZ) yang secara bertahap mengalami penurunan tonase.

Menurut Tony, mulai 2029 Kucing Liar akan menjadi penopang utama produksi perusahaan agar kapasitas penambangan tetap terjaga.

"Pada 2029 direncanakan tambang Kucing Liar akan mulai bisa kita tambang untuk menggantikan DMLZ yang mulai merendah tonasenya, sehingga kelangsungan penambangan sekitar 220.000 ton bijih per hari dapat dilanjutkan," ujar Tony Wenas dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada 14 Juli 2026.

Dengan mulai beroperasinya Kucing Liar, Freeport optimistis produksi logam akan terus meningkat sepanjang dekade berikutnya seiring bertambahnya volume bijih yang ditambang dan tercapainya kapasitas penuh operasi tambang bawah tanah tersebut.

Pengembangan Tambang Kucing Liar juga menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang Freeport Indonesia untuk mempertahankan posisi Grasberg sebagai salah satu kawasan penghasil tembaga dan emas terbesar di dunia.*

 

Freeport telah menginvestasikan Rp25,18 triliun untuk pengembangan tambang bawah tanah Kucing Liar di Papua. Produksi tembaga dan emas ditargetkan melonjak mulai 2030.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories