Surakarta, Riwara.id – Karaton Surakarta Hadiningrat akan secara resmi membuka rangkaian Sekaten Tahun Be 1960/2026 pada Minggu (2/8/2026) pukul 15.30 WIB di Kompleks Pakelaran Karaton Surakarta Hadiningrat. Pembukaan diawali dengan prosesi selamatan sebagai ungkapan rasa syukur, kemudian dilanjutkan seremoni pembukaan yang menandai dimulainya seluruh rangkaian Sekaten selama satu bulan penuh.
Ketua Harian Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, KPH Dr. Eddy Wirabhumi, mengatakan pelaksanaan Sekaten tahun ini merupakan dawuh Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana XIV, sebagai upaya menjaga keberlanjutan tradisi adiluhung Karaton Surakarta Hadiningrat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
"Pembukaan Sekaten dilaksanakan hari Minggu pukul 15.30 WIB di Pakelaran. Diawali dengan selamatan, kemudian dilanjutkan seremoni pembukaan sebagai tanda dimulainya rangkaian Sekaten," ujar KPH Dr. Eddy Wirabhumi, Jumat, 31 Juli 2026.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa Sekaten bukan hanya identik dengan pasar malam atau hiburan rakyat. Di balik kemeriahan tersebut terdapat rangkaian prosesi adat yang menjadi inti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat.
"Sekaten itu mesti dipahami, tidak hanya perayaan Sekaten, tetapi juga ada acara inti berupa Miyos Gangsa Sekaten, termasuk rangkaian Gunungan Sekaten," katanya.
Ia menjelaskan, tradisi Sekaten merupakan warisan budaya yang memadukan nilai religius, sejarah, seni, dan adat istiadat Jawa. Oleh karena itu, setiap tahapan prosesi tetap dilaksanakan sesuai pakem sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus menjaga kelestarian budaya bangsa.
Rangkaian Prosesi Adat
Sekaten Surakarta 2026 akan berlangsung sepanjang 1–30 Agustus 2026 dengan rangkaian prosesi adat yang menjadi ciri khas perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Karaton Surakarta Hadiningrat.
Rangkaian diawali dengan Jamasan Kyai Guntursari dan Kyai Gunturmadu pada 12 Agustus 2026, yakni prosesi penyucian gamelan pusaka Sekaten sebagai persiapan pelaksanaan upacara inti.
Selanjutnya pada 19 Agustus 2026 dilaksanakan Miyosaken Gangsa Sekaten, yaitu prosesi mengiring gamelan pusaka dari Karaton menuju Bangsal Pagongan Masjid Agung Surakarta.
Selama 19–25 Agustus 2026, dua perangkat gamelan pusaka, Kyai Guntursari dan Kyai Gunturmadu, akan dibunyikan setiap hari di Bangsal Pagongan Masjid Agung sebagai bagian dari tradisi syiar Islam melalui media budaya.
Memasuki 26 Agustus 2026, gamelan pusaka akan dikembalikan ke Karaton melalui prosesi Ngonduraken Gangsa Sekaten. Pada hari yang sama juga digelar Hajad Dalem Grebeg Maulud (Gunungan Sekaten), yaitu iring-iringan gunungan dari Karaton menuju Masjid Agung Surakarta sebagai simbol rasa syukur, keberkahan, dan kebersamaan.
Sementara itu, Pasar Malam Sekaten berlangsung mulai 1 hingga 30 Agustus 2026 di kawasan Alun-Alun Utara dan Halaman Masjid Agung Surakarta. Kawasan tersebut ditata sebagai ruang budaya terpadu yang menghadirkan wahana permainan, UMKM, kuliner, perdagangan tradisional, serta berbagai aktivitas ekonomi kreatif.
Sekaten Art Festival Hadirkan Seniman dari Berbagai Daerah
Untuk memperluas syiar budaya sekaligus memberikan ruang apresiasi kepada para pelaku seni, Karaton Surakarta Hadiningrat juga menyelenggarakan Sekaten Art Festival 2026 di kawasan Siti Hinggil.
Festival ini menghadirkan beragam pertunjukan seni tradisional yang melibatkan sanggar seni, komunitas budaya, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Tidak hanya berasal dari Solo Raya, sejumlah kelompok seni dari Jawa Timur dan Jawa Barat juga turut ambil bagian sebagai wujud kolaborasi budaya antardaerah.
Dalam proposal penyelenggaraan, kawasan Siti Hinggil diposisikan sebagai panggung utama ekspresi seni dan budaya masyarakat yang menjadi bagian penting dari rangkaian Sekaten.
Melalui kolaborasi tersebut, Karaton Surakarta berharap Sekaten tidak hanya menjadi tradisi yang terus lestari, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan budaya Nusantara sekaligus memperkenalkan nilai-nilai sejarah, spiritualitas, dan kearifan budaya Jawa kepada masyarakat luas.
Warisan Syiar Islam Melalui Budaya
Sekaten merupakan salah satu tradisi terpenting Karaton Surakarta Hadiningrat yang diwariskan secara turun-temurun sebagai media syiar Islam melalui pendekatan budaya. Perayaan ini memadukan prosesi sakral, adat keraton, gamelan pusaka, Grebeg Maulud, pertunjukan seni, hingga aktivitas ekonomi masyarakat dalam satu rangkaian yang saling melengkapi.
Pada penyelenggaraan tahun ini, konsep Sekaten dikembangkan sebagai festival budaya terpadu yang mengintegrasikan ruang tradisi, hiburan, edukasi, kuliner, perdagangan, dan ekonomi kreatif sehingga mampu menghadirkan pengalaman budaya yang lebih tertata, nyaman, dan berkesan bagi masyarakat.
Karaton Surakarta Hadiningrat berharap seluruh rangkaian Sekaten Tahun Be 1960/2026 dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan khidmat serta semakin memperkuat posisi Sekaten sebagai warisan budaya yang hidup, menjadi media syiar Islam, sekaligus memperkokoh identitas budaya bangsa Indonesia.*
Karaton Surakarta Hadiningrat resmi membuka Sekaten 2026 pada 2 Agustus. Simak jadwal lengkap prosesi Jamasan, Miyos Gangsa, Grebeg Maulud, hingga Sekaten Art Festival.