Rayakan 33 Tahun Hubungan Diplomatik, Indonesia-Belarus Pertegas Transformasi Sektor Kesehatan

Kamis, 02 Juli 2026 | 13:46 WIB
Delegasi Kementerian Kesehatan RI di Belarusia
Delegasi Kementerian Kesehatan RI di Belarusia (Foto: Kemenkes)

RIWARA.id – Pemerintah Republik Indonesia dan Republik Belarus sepakat memperkuat kerja sama bilateral di sektor kesehatan guna menggenjot kapasitas tenaga medis serta ketahanan farmasi kedua negara. Komitmen strategis yang menandai 33 tahun hubungan diplomatik ini akan segera disahkan melalui penandatanganan Memorandum of Cooperation (MoC) yang disaksikan langsung oleh presiden kedua negara di Istana Merdeka.

Kesepakatan tersebut dimatangkan dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, dan Menteri Kesehatan Republik Belarus, Aliaksandr Khajayeu. Pertemuan tingkat tinggi ini berlangsung di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, Jakarta, pada Rabu (1/7/2026).

Menyambut hangat kedatangan delegasi Belarus, Wamenkes Dante menyoroti potensi besar yang dimiliki kedua negara untuk saling melengkapi dalam mengurai tantangan global di sektor medis.

Ia bahkan mengutip pepatah Belarus, 'Dobraye slova lyechyts' yang berarti kata-kata yang baik itu menyembuhkan, sebagai landasan kuat persahabatan kedua negara.

Dante menegaskan bahwa setiap negara memiliki sesuatu untuk diajarkan, dan setiap sistem kesehatan selalu memiliki ruang untuk ditingkatkan secara berkelanjutan. Otoritas kesehatan kedua negara sepakat untuk membahas secara mendalam dua topik utama, yakni penguatan pendidikan kedokteran dan kolaborasi strategis di bidang farmasi.

Dalam hal pendidikan dan peningkatan kapasitas tenaga medis, Indonesia kini sedang gencar menjajaki program fellowship spesifik. Fokus utamanya diarahkan pada penanganan penyakit katastrofik, meliputi kardiologi (jantung), onkologi (kanker), neurologi dan stroke, urologi, nefrologi, serta sektor krusial kesehatan ibu dan anak.

Kementerian Kesehatan RI akan segera mengambil langkah proaktif untuk merealisasikan pertukaran keahlian klinis ini dalam waktu dekat. Perwakilan medis Indonesia dipastikan akan segera bertolak demi meninjau standardisasi kurikulum kepakaran di wilayah Eropa Timur tersebut.

Pemerintah akan mengirimkan delegasi ke Belarus untuk mengevaluasi program-program di sana secara langsung. Di sisi lain, Jakarta juga bakal mendatangkan para dokter ahli dari Belarus ke Indonesia untuk memberikan pelatihan intensif serta transfer pengetahuan kepada dokter-dokter domestik.

Selain urusan kompetensi dokter spesialis, penguatan sektor farmasi dan kemandirian alat kesehatan menjadi prioritas utama yang dibidik dalam pertemuan ini. Langkah taktis ini diambil demi memperluas akses masyarakat terhadap pasokan obat-obatan bermutu tinggi dengan harga yang lebih terjangkau.

Pemerintah membidik perluasan akses dan distribusi alat medis melalui potensi kolaborasi antara perusahaan farmasi milik Belarus, Belpharmprom, dengan industri manufaktur lokal. Sinergi ini diharapkan mampu memangkas ketergantungan impor materi mentah obat-obatan di dalam negeri.

Guna mempercepat realisasi tersebut, korporasi farmasi dari Indonesia dijadwalkan langsung mengadakan pertemuan bisnis dengan rekan-rekan mereka asal Belarus. Kementerian Kesehatan menyatakan komitmen penuh untuk memfasilitasi regulasi dan menjajaki kerja sama teknis antarperusahaan ini.

Menteri Kesehatan Republik Belarus, Aliaksandr Khajayeu, menyambut baik langkah konkret yang diusulkan oleh Pemerintah Indonesia. Dirinya menyoroti bahwa standar regulasi kedua negara, khususnya pada pemanfaatan dan produksi obat generik, sudah memiliki keselarasan yang tinggi.

Aliaksandr mengungkapkan bahwa standar mutu obat kedua negara tidak memiliki perbedaan yang signifikan sehingga mempermudah integrasi pasar. Pihaknya mengaku siap menyambut kedatangan para spesialis dari Indonesia guna mempercepat proses penyelarasan dokumen teknis yang dibutuhkan.

Dirinya meyakini bahwa jalinan komunikasi dan koordinasi langsung antarsistem kesehatan dari kedua negara nantinya akan sangat membantu kelancaran birokrasi. Hal ini mencakup percepatan proses registrasi produk farmasi, izin edar obat, maupun perizinan medis lainnya.

Sebagai wujud nyata komitmen peningkatan kualitas layanan kesehatan di dalam negeri, delegasi Belarus juga diajak meninjau langsung fasilitas mutakhir di RS PON. Kunjungan lapangan ini merupakan representasi dari pilar transformasi sistem kesehatan nasional yang saat ini tengah digenjot oleh kabinet.

RS PON terus memperluas kapasitasnya untuk menyediakan layanan saraf dan otak komprehensif, mulai dari tindakan pembedahan kompleks hingga fase rehabilitasi medis. Fasilitas ini disiapkan untuk melayani kebutuhan pasien lokal maupun skala internasional secara prima.

Sebagai instrumen operasional dari kesepakatan tingkat tinggi ini, Indonesia dan Belarus telah resmi menyusun Operational Road Map 2026–2030.

Peta jalan jangka panjang ini dirancang agar implementasi berbagai program kerja sama dapat segera berjalan secara terukur dan memberikan dampak instan bagi ketahanan kesehatan masyarakat. (*)

 

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories