JAKARTA, RIWARA.id – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus memperkuat kesiapsiagaan nasional menghadapi potensi penyebaran Hantavirus di Indonesia.
Langkah antisipasi dilakukan melalui penguatan sumber daya manusia kesehatan (SDM), penyiapan rumah sakit rujukan, hingga peningkatan kapasitas laboratorium untuk mendeteksi penyakit infeksi emerging (PIE).
Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan pemerintah saat ini fokus memperkuat sistem layanan kesehatan agar mampu merespons cepat apabila terjadi peningkatan kasus Hantavirus di berbagai daerah.
“Kemenkes melakukan penguatan sumber daya manusia kesehatan (SDM), penyiapan rumah sakit rujukan dalam jejaring layanan pengampuan PIE, pelatihan tenaga kesehatan, serta penyediaan pedoman pencegahan dan pengendalian Hantavirus.
Kami juga terus melakukan komunikasi risiko kepada masyarakat,” ujar Andi dalam konferensi pers daring, Senin (11/5/2026).
Kemenkes Siapkan 198 Rumah Sakit Pengampuan PIE
Pemerintah telah menyiapkan sebanyak 198 rumah sakit jejaring pengampuan PIE di berbagai wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut, terdapat 21 rumah sakit sentinel yang tersebar di 20 provinsi dan disiapkan sebagai pusat pemantauan utama kasus penyakit infeksi emerging, termasuk Hantavirus.
Menurut Andi, rumah sakit sentinel memiliki fungsi strategis dalam mendeteksi dini potensi kejadian luar biasa (KLB), melakukan pemantauan kasus, serta memperkuat sistem pencegahan penyebaran penyakit menular di Indonesia.
“Artinya rumah sakit ini dipersiapkan untuk menjadi rumah sakit yang ditunjuk untuk melakukan pemantauan, termasuk juga untuk mendapatkan pemantauan kasus dan juga untuk mencegah KLB dan hal-hal terkait dengan sentinel,” katanya.
Berikut daftar rumah sakit pengampuan PIE yang disiapkan pemerintah:
- RSUP H. Adam Malik
- RSUP Dr M Djamil
- RSUP Dr M Hoesin
- RSP Prof Dr Sulianti Saroso
- RSUP Hasan Sadikin
- RSUP Dr Sardjito
- RSUP Ngoerah
- RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo
- RSUD Dr Soetomo
- RSUP Kariadi
- RSUP Fatmawati
- RSUP Persahabatan
- RSUP Kandou
Kapasitas PCR dan Deteksi Dini Diperkuat
Selain kesiapan rumah sakit, Kemenkes juga memastikan kapasitas pemeriksaan laboratorium nasional terus ditingkatkan. Saat ini Indonesia telah memiliki 21 alat PCR yang dapat digunakan untuk mendukung pemeriksaan PIE, termasuk deteksi Hantavirus.
Pemerintah menilai penguatan laboratorium menjadi bagian penting dalam sistem kewaspadaan dini terhadap potensi penyebaran penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat.
Andi menjelaskan gejala Hantavirus secara umum memiliki kemiripan dengan beberapa penyakit lain yang juga berasal dari tikus, seperti leptospirosis. Beberapa gejala yang sering muncul di antaranya demam, tubuh menguning, gangguan ginjal, dan keluhan kesehatan lainnya.
“Penyakit ini sebenarnya dengan gejala yang rata-rata ditanggung BPJS, seperti demam, menguning dan sebagainya, serupa kejadian penyakit leptospira, dari tikus juga vektornya, tapi kalau Hanta kan dari virus,” jelasnya.
Pasien BPJS Bisa Gunakan Layanan Pembiayaan
Kemenkes memastikan masyarakat yang terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan dapat memanfaatkan layanan pembiayaan kesehatan sesuai prosedur yang berlaku. Sementara pasien non-BPJS tetap dapat menjalani pemeriksaan dan pengobatan dengan mekanisme pembayaran mandiri.
Pemerintah juga meminta masyarakat tidak panik menghadapi isu Hantavirus, namun tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala yang muncul agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Selain itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan tikus maupun kotorannya yang berpotensi menjadi media penyebaran virus.
Kemenkes menegaskan hingga saat ini situasi Hantavirus di Indonesia masih terkendali dan terus dipantau melalui sistem surveilans kesehatan nasional.*
Hantavirus dengan menyiapkan 198 rumah sakit rujukan, penguatan SDM kesehatan, hingga kapasitas laboratorium PCR. Pemerintah memastikan sistem deteksi dini dan pengendalian penyakit infeksi emerging terus diperkuat di seluruh Indonesia.