RIWARA.ID — Peringatan Hari Lupus Sedunia atau World Lupus Day yang jatuh pada 10 Mei 2026 kembali menjadi momentum global untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit lupus yang masih banyak disalahpahami.
Menjelang Hari Lupus Sedunia 2026, World Lupus Federation merilis hasil survei global terbaru yang menunjukkan masih rendahnya tingkat pemahaman masyarakat dunia tentang lupus.
Hasil survei tersebut mengungkap sebanyak 58 persen responden di berbagai negara mengaku hanya sedikit mengetahui atau bahkan sama sekali tidak memahami lupus. Kondisi ini dinilai memicu stigma, keterlambatan diagnosis, hingga kurangnya dukungan terhadap penderita lupus.
Apa Itu Lupus?
Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri.
Penyakit ini dapat menyerang berbagai bagian tubuh seperti:
Kulit
Sendi
Ginjal
Jantung
Paru-paru
Sel darah
Otak
Lupus dikenal sebagai penyakit yang kompleks karena gejalanya sangat beragam dan sering menyerupai penyakit lain. Kondisi tersebut membuat lupus sulit dikenali dan sering terlambat didiagnosis.
Dalam banyak kasus, penderita lupus mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, demam berkepanjangan, rambut rontok, hingga gangguan organ serius.
Survei Global: Kesadaran Lupus Masih Rendah
Survei global yang dilakukan menjelang Hari Lupus Sedunia 2026 melibatkan 1.000 responden dewasa dari Amerika Serikat, Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Selatan.
Hasilnya menunjukkan tingkat pemahaman masyarakat tentang lupus masih sangat rendah, terutama di kawasan Asia dan Eropa.
Data survei mencatat:
68 persen responden di Eropa minim pemahaman tentang lupus
64 persen responden di Asia tidak memahami lupus secara baik
55 persen responden di Amerika Selatan kurang mengetahui lupus
54 persen responden di Afrika masih memiliki pengetahuan rendah
53 persen responden di Amerika Serikat juga belum memahami lupus dengan baik
Temuan tersebut menunjukkan bahwa lupus masih menjadi penyakit yang kurang mendapat perhatian publik secara global.
Banyak Orang Tidak Tahu Lupus Bisa Fatal
Selain rendahnya kesadaran umum, survei juga menemukan masih banyak masyarakat yang tidak memahami tingkat keparahan lupus.
Sebanyak 48 persen responden tidak mengetahui bahwa lupus dapat menyerang hampir seluruh organ tubuh.
Kemudian 46 persen responden tidak sadar bahwa lupus dapat menyebabkan kematian apabila komplikasinya tidak ditangani dengan baik.
Sementara itu, 41 persen responden mengaku tidak mengetahui bahwa gejala lupus bisa berbeda pada setiap penderita.
Padahal variasi gejala inilah yang sering membuat penderita lupus terlambat mendapatkan diagnosis.
Stigma terhadap Penderita Lupus Masih Tinggi
Masalah lain yang disorot dalam survei tersebut adalah masih tingginya stigma dan kesalahpahaman masyarakat terhadap lupus.
Sebanyak 19 persen responden percaya lupus merupakan penyakit menular.
Bahkan:
21 persen responden merasa tidak nyaman berbagi makanan dengan penderita lupus
18 persen responden mengaku ragu memeluk penderita lupus
Padahal lupus bukan penyakit menular.
Federasi Lupus Dunia menilai kesalahpahaman tersebut dapat membuat penderita lupus mengalami tekanan mental, isolasi sosial, dan kesulitan mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar.
Gejala Lupus Mulai Lebih Dikenali
Di tengah masih rendahnya pemahaman masyarakat, survei juga menemukan adanya peningkatan pengenalan terhadap beberapa gejala umum lupus.
Sebanyak:
44 persen responden mengenali kelelahan ekstrem sebagai gejala lupus
43 persen mengetahui ruam kulit berkaitan dengan lupus
41 persen mengenali nyeri dan pembengkakan sendi sebagai tanda lupus
Hal ini menunjukkan edukasi yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir mulai memberikan dampak positif terhadap kesadaran masyarakat.
World Lupus Day 2026 Dorong Kesadaran Global
Presiden dan CEO Lupus Foundation of America, Louise Vetter, mengatakan komunitas lupus global masih menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan pemahaman masyarakat.
Menurutnya, edukasi publik menjadi langkah penting agar masyarakat bisa mengenali gejala lupus lebih dini dan mengurangi stigma terhadap penderita.
“Menjelang Hari Lupus Sedunia, lupus masih banyak disalahpahami di seluruh dunia,” kata Louise Vetter.
Ia menegaskan penderita lupus berhak mendapatkan dukungan, pemahaman, serta akses diagnosis dan pengobatan yang lebih baik.
Cara Memperingati Hari Lupus Sedunia 2026
Dalam kampanye Hari Lupus Sedunia 2026, World Lupus Federation mengajak masyarakat dunia untuk ikut meningkatkan kesadaran lupus melalui berbagai aksi sederhana.
Di antaranya:
Mengenakan pakaian atau aksesori berwarna ungu
Membagikan informasi tentang lupus di media sosial
Menggunakan tagar #WorldLupusDay dan #MakeLupusVisible
Menyalakan lampu ungu di gedung atau landmark
Membagikan kisah perjuangan penderita lupus
Kampanye ini bertujuan agar lupus menjadi lebih terlihat dan dipahami masyarakat luas.
Pentingnya Diagnosis Dini Lupus
Federasi Lupus Dunia juga menyerukan peningkatan pelatihan tenaga kesehatan agar diagnosis lupus dapat dilakukan lebih cepat.
Karena gejalanya sering menyerupai penyakit lain, banyak pasien lupus harus menunggu bertahun-tahun sebelum mendapatkan diagnosis yang tepat.
Diagnosis dini dinilai penting untuk:
Mencegah kerusakan organ
Mengurangi komplikasi serius
Memperbaiki kualitas hidup pasien
Menurunkan risiko kematian akibat lupus
Dukungan Media dan Edukasi Dinilai Sangat Penting
Dalam survei tersebut, responden menyebut kurangnya perhatian media menjadi salah satu penyebab rendahnya kesadaran lupus.
Sebanyak 38 persen responden berharap lebih banyak informasi lupus hadir di media online dan media sosial.
Sementara 34 persen lainnya ingin media tradisional lebih sering mengangkat isu lupus agar masyarakat memahami penyakit tersebut secara benar.
Tentang Survei
Survei dilakukan oleh Lupus Foundation of America sebagai sekretariat World Lupus Federation terhadap 1.000 responden dewasa dari lima wilayah dunia.
Pengumpulan data dilakukan pada 10–20 Maret 2026 dengan margin kesalahan sekitar 3,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.*
Hari Lupus Sedunia 2026 kembali menyoroti rendahnya pemahaman masyarakat dunia terhadap lupus. Survei terbaru World Lupus Federation menemukan 58 persen responden masih minim pengetahuan tentang lupus, termasuk anggapan keliru bahwa penyakit autoimun ini menular. Kampanye global pun digencarkan untuk meningkatkan kesadaran, mengurangi stigma, dan mendorong diagnosis dini lupus.