Layanan Psikologi Masuk Posyandu, Surakarta Perkuat Kampanye Kesehatan Mental dari Akar Rumput

Sabtu, 25 April 2026 | 16:49 WIB
Kampanye kesehatan mental digencarkan melalui Jambore Kader di Pasar Kliwon Surakarta dengan menghadirkan layanan psikologi langsung di Posyandu
Kampanye kesehatan mental digencarkan melalui Jambore Kader di Pasar Kliwon Surakarta dengan menghadirkan layanan psikologi langsung di Posyandu (Foto: Riwara.id)

 

RIWARA.id, Surakarta — Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental di Kota Surakarta mulai meningkat. Namun, di balik itu, tantangan stigma dan akses layanan masih menjadi persoalan nyata di tingkat akar rumput.

Upaya mendekatkan layanan itu terlihat dalam kegiatan Jambore Kader Kesehatan di wilayah Puskesmas Gajahan, Kecamatan Pasar Kliwon, Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan yang melibatkan lebih dari 300 kader ini tak hanya menjadi seremoni, tetapi juga bagian dari strategi membawa layanan kesehatan mental langsung ke lingkungan masyarakat melalui  kampanye dan peningkatan terus posyandu.

Istri Wali Kota Surakarta periode 2025–2030 sekaligus Ketua TP Posyandu tingkat Kota, Vanessa Winastasia, S.E., MBA, menegaskan bahwa pendekatan kesehatan saat ini tidak bisa lagi hanya berfokus pada aspek fisik.

“Selama ini masyarakat lebih fokus pada kesehatan fisik, padahal kesehatan mental sama pentingnya. Sekarang kita dorong supaya layanan ini bisa diakses lebih dekat, termasuk melalui Posyandu,” ujarnya kepada riwara.id di Kecamatan Pasar Kliwon, Sabtu (25/4/2026).

Layanan Psikologi Turun ke Kampung

Ketua TP Posyandu tingkat Kota Surakarta Vanessa Winastasia bersama Kepala Puskesmas Gajahan dr Farahdilla Mirshanti MPH mendatangi Posyandu
Ketua TP Posyandu tingkat Kota Surakarta Vanessa Winastasia bersama Kepala Puskesmas Gajahan dr Farahdilla Mirshanti MPH mendatangi Posyandu

Transformasi Posyandu menjadi salah satu langkah konkret yang kini dijalankan. Tak lagi hanya melayani ibu dan anak, Posyandu mulai menjangkau seluruh kelompok usia, sekaligus menghadirkan layanan kesehatan mental.

Kepala Puskesmas Gajahan, dr. Farahdilla Mirshanti, MPH, menyebut integrasi layanan ini sebagai bagian dari perubahan sistem kesehatan yang lebih inklusif.

“Posyandu sekarang melayani seluruh siklus hidup, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja, hingga lansia. Termasuk juga layanan psikologi yang mulai kita hadirkan,” jelasnya, Sabtu (25/4/2026).

Langkah ini dinilai penting untuk mendorong deteksi dini sekaligus membuka akses konsultasi yang lebih mudah bagi masyarakat.

Dari Meja Pencatatan, Kader Jadi Garda Depan Edukasi

Di lapangan, peran kader Posyandu menjadi kunci utama. Mereka tidak hanya membantu layanan teknis, tetapi juga menjadi penghubung langsung antara masyarakat dan sistem kesehatan.

Salah satunya disampaikan oleh Vivi (39), kader Posyandu di wilayah Gajahan yang bertugas di bagian pencatatan.

“Tugas saya mencatat hasil penimbangan, tapi sekaligus juga memberi arahan ke warga,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).

Menurut Vivi, pendekatan kepada masyarakat dilakukan secara langsung dan sederhana, sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok usia.

“Kalau remaja, kami tanyakan apakah sudah dapat tablet tambah darah. Itu penting untuk persiapan kesehatan mereka ke depan. Kalau lansia, kami arahkan ke layanan pemeriksaan berikutnya,” jelasnya.

Peran kecil di meja pencatatan itu, kata dia, justru menjadi pintu masuk edukasi kesehatan yang lebih luas.

Posyandu Tak Lagi Sekadar Timbang Balita

Hal serupa disampaikan Ibu Rubi, kader Posyandu dari RW 01 Joyosuran. Ia menuturkan bahwa layanan Posyandu kini semakin lengkap dan diminati masyarakat.

“Sekarang warga bisa cek gula darah, tensi, dan pemeriksaan lain. Bahkan ada pemeriksaan rutin enam bulanan, seperti kolesterol, asam urat, dan tes sederhana lainnya,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).

Menurutnya, perubahan paling terasa adalah hadirnya layanan psikologi langsung di Posyandu.

“Yang paling menarik, sekarang ada psikolog yang datang langsung. Warga bisa menyampaikan keluh kesah atau masalah yang dihadapi,” katanya.

Ia menambahkan, setiap keluhan warga tidak berhenti di Posyandu, tetapi diteruskan melalui sistem koordinasi berjenjang.

“Masukan dari warga kami catat, lalu disampaikan ke tim pembina di kelurahan, diteruskan ke kecamatan sampai ke tingkat kota,” jelasnya.

Stigma Masih Ada

Meski layanan semakin terbuka, tantangan di lapangan belum sepenuhnya hilang. Stigma terhadap kesehatan mental masih menjadi hambatan bagi sebagian masyarakat.

dr. Farahdilla meng a kui hal tersebut dan menekankan pentingnya peran kader dalam mengubah pola pikir masyarakat.

“Masih ada yang merasa malu atau menganggap ini hal tabu. Padahal kesehatan mental itu bagian dari kesehatan secara keseluruhan,” tegasnya.

Karena itu, pendekatan berbasis komunitas melalui kader dinilai sebagai cara paling efektif untuk membangun kepercayaan masyarakat.

300 Kader Digerakkan, Perkuat Gerakan dari Akar Rumput

Dalam Jambore ini, lebih dari 300 kader dikonsolidasikan untuk memperkuat peran mereka sebagai agen perubahan.

Vanessa menilai, keberhasilan program kesehatan sangat bergantung pada kedekatan kader dengan masyarakat.

“Kader ini yang paling dekat dengan warga. Mereka yang bisa menyampaikan bahwa sekarang layanan kesehatan mental sudah ada dan bisa diakses,” ujarnya.

Momentum Perubahan Layanan Kesehatan

Jambore Kader Kesehatan ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi menjadi momentum penting dalam memperkuat transformasi layanan kesehatan di tingkat komunitas.

dr. Farahdilla berharap semangat kader terus terjaga dalam menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks.

“Kami ingin kader tetap semangat, terus berkontribusi, dan menjadi penggerak utama di masyarakat,” katanya.

Menuju Masyarakat yang Lebih Sehat Secara Menyeluruh

Dorong Layanan Kesehatan Mental dari Akar Rumput, Ketua TP Posyandu Surakarta Bagikan Mainan ke Anak di Posyandu Pasar Kliwon
Dorong Layanan Kesehatan Mental dari Akar Rumput, Ketua TP Posyandu Surakarta Bagikan Mainan ke Anak di Posyandu Pasar Kliwon (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Dengan semakin dekatnya layanan kesehatan mental ke masyarakat, Surakarta optimistis mampu membangun sistem kesehatan yang lebih inklusif.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga mental. Ini bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh,” pungkas Vanessa.*

Kampanye kesehatan mental di Surakarta diperkuat melalui Jambore Kader di Pasar Kliwon. Layanan psikologi kini hadir di Posyandu, libatkan 300 kader untuk edukasi masyarakat.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories