RIWARA.ID – Demam, nyeri sendi, dan rasa lemas sering dianggap sebagai gejala flu ringan yang akan sembuh dengan sendirinya. Namun siapa sangka, kondisi yang tampak sepele ini bisa menjadi awal dari penyakit langka yang mematikan.
Dalam hitungan hari, tubuh bisa mengalami reaksi ekstrem. Kulit terasa seperti terbakar, muncul bercak kemerahan, lalu berkembang menjadi lepuhan yang mengelupas layaknya luka bakar. Kondisi ini dikenal sebagai Stevens-Johnson Syndrome (SJS), penyakit serius yang dapat mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.
Meski tergolong jarang, tingkat kematian akibat SJS cukup tinggi, yakni sekitar 5 hingga 12 persen. Dalam dunia medis, kondisi ini dikategorikan sebagai darurat karena dapat berkembang cepat dan menyerang berbagai organ tubuh.
Dokter spesialis kulit dan kelamin konsultan alergi imunologi dermatologi RSUD Dr. Moewardi, Dr. dr. Muhammad Eko Irawanto, Sp.D.V.E., Subsp.D.A.I., FINSDV, FAADV, menegaskan bahwa keterlambatan mengenali gejala awal sering menjadi penyebab kondisi memburuk.
“SJS adalah kondisi akut yang menyerang kulit dan membran mukosa seperti mulut, mata, dan organ genital. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada usia di atas 40 tahun,” jelasnya, Rabu (22/4/2026).
Gejala Awal yang Sering Dianggap Sepele
Salah satu hal yang membuat SJS berbahaya adalah gejalanya yang menyerupai penyakit umum.
Pada tahap awal, pasien biasanya mengalami demam, nyeri sendi, lemas, hingga tidak enak badan selama 1 hingga 3 hari. Banyak yang mengira ini hanya flu biasa, padahal fase ini adalah tanda awal reaksi serius dalam tubuh.
“Setelah itu, kulit mulai terasa nyeri seperti terbakar. Dalam beberapa hari muncul bercak kemerahan yang berkembang menjadi lepuhan,” ungkap Dr. Eko.
Bercak ini umumnya muncul di wajah, lengan, dan tungkai. Dalam kasus tertentu, kulit bisa mengelupas meski luasnya kurang dari 10 persen dari permukaan tubuh.
Yang paling khas, SJS hampir selalu melibatkan selaput lendir. Luka dapat muncul di bibir, bagian dalam mulut, mata, hingga organ genital.
“Keluhan pada mukosa ini sangat nyeri, bahkan bisa mengganggu makan, penglihatan, dan aktivitas dasar lainnya,” tambahnya.
Dipicu Obat yang Sering Digunakan
Fakta yang mengejutkan, SJS paling sering dipicu oleh obat-obatan yang umum dikonsumsi masyarakat.
Beberapa di antaranya adalah obat asam urat seperti alopurinol, obat antikejang seperti karbamazepin, fenitoin, dan fenobarbital, serta antibiotik seperti penisilin, sefalosporin, kuinolon, siklin, dan makrolid.
Selain itu, obat antiinflamasi seperti diklofenak dan golongan oksikam juga termasuk yang perlu diwaspadai.
Gejala biasanya muncul dalam 1 hingga 3 minggu setelah konsumsi pertama. Namun pada penggunaan ulang, reaksi bisa terjadi jauh lebih cepat.
“Jika pasien mengonsumsi beberapa obat, biasanya yang dicurigai adalah obat yang baru ditambahkan,” jelas Dr. Eko.
Di tengah kebiasaan masyarakat yang masih sering mengonsumsi obat tanpa resep, risiko ini menjadi semakin nyata dan perlu diwaspadai.
Kondisi Darurat, Bisa Berujung Fatal
SJS bukan sekadar penyakit kulit. Dalam kondisi berat, pasien harus dirawat intensif, bahkan di ruang perawatan luka bakar.
Langkah paling penting adalah menghentikan obat pemicu sesegera mungkin. Tanpa itu, kondisi dapat berkembang menjadi infeksi berat hingga kegagalan organ.
“Setelah penghentian obat dan terapi suportif, kulit baru biasanya mulai tumbuh dalam beberapa hari. Namun proses penyembuhan bisa memakan waktu lebih dari tiga minggu,” jelasnya.
Penanganan meliputi pemberian cairan infus, nutrisi, obat pereda nyeri, serta pencegahan infeksi. Dalam kasus tertentu, terapi tambahan seperti kortikosteroid atau imunoglobulin intravena juga diperlukan.
Jangan Anggap Remeh Reaksi Tubuh
Kasus Stevens-Johnson Syndrome menjadi pengingat bahwa gejala ringan tidak selalu berarti penyakit ringan.
Edukasi menjadi kunci utama pencegahan. Pasien yang pernah mengalami SJS harus menghindari obat pemicu dan selalu memberi tahu riwayatnya kepada tenaga medis.
“Reaksi berulang bisa jauh lebih berat dan berisiko fatal,” tegas Dr. Eko.
Jika mengalami demam disertai ruam kulit yang terasa nyeri atau muncul lepuhan, jangan menunda untuk mencari pertolongan medis.
Karena dalam kasus SJS, keterlambatan satu langkah saja bisa menjadi penentu antara hidup dan mati.*
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan wawancara langsung dengan narasumber ahli serta referensi medis terpercaya. Informasi yang disajikan bertujuan untuk edukasi kesehatan masyarakat dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional.
Pembaca diimbau untuk tidak melakukan diagnosis atau pengobatan mandiri tanpa arahan dokter, terutama terkait penggunaan obat-obatan yang berisiko memicu reaksi serius seperti Stevens-Johnson Syndrome.*

Sering dianggap flu biasa, gejala awal Stevens-Johnson Syndrome bisa berujung fatal. Kenali tanda, penyebab, dan cara mencegahnya sebelum terlambat.