Penyebaran Campak Meluas, Wakil Gubernur Jateng Sebut Hal Ini Dampak Pandemi Covid 19, Ini Penjelasannya

  • Ayu Abriyani
  • Selasa, 31 Maret 2026 | 21:54 WIB
  • Default Publisher Publish by: Ayu Abriyani
Ilustrasi - Penyebaran Campak Meluas, Jateng Tingkatkan Kewaspadaan
Ilustrasi - Penyebaran Campak Meluas, Jateng Tingkatkan Kewaspadaan (Foto: Dibuat dengan Meta AI)

RIWARA.id - Meluasnya penyebaran penyakit campak di Indonesia membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan kasus ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Sesuai data di Kemenkes hingga Maret 2026, ada 39 kabupaten/kota di 14 provinsi yang ditetapkan KLB.

Salah satu provinsi dengan temuan KLB adalah Jawa Tengah. Sesuai data yang tercatat, KLB campak terjadi di tiga kabupaten yakni Cilacap, Klaten dan Pati.

Selain itu, juga terdapat dua daerah dengan status suspek, yaitu Brebes dan Kudus. Meski sebagian besar wilayah kondisinya masih terkendali, potensi penyebarannya tetap menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng).

Terkait kondisi tersebut, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan tingginya kasus campak merupakan dampak dari terganggunya layanan imunisasi saat pandemi Covid-19.

Untuk itu, Pemprov Jateng mendorong percepatan pemulihan cakupan imunisasi di seluruh wilayah di Jawa Tengah.

"Penguatan imunisasi menjadi kunci penting. Tidak hanya untuk campak tetapi juga penyakit menular lainnya seperti TBC,” ujarnya dikutip Riwara.id dari laman jatengprov.go.id, Selasa 31 Maret 2026.

Ia pun menyebut kewaspadaan terhadap campak perlu ditingkatkan karena daya tularnya yang sangat tinggi.

Langkah pencegahan dan penanggulangan KLB penyakit tersebut melalui penguatan imunisasi dan edukasi.

“Ini menjadi momentum untuk mengejar ketertinggalan di masa sebelumnya. Kami terus menggerakkan kembali imunisasi dan memperkuat edukasi kesehatan kepada masyarakat,” jelasnya.

Taj Yasin mengungkapkan saat ini capaian imunisasi di Jawa Tengah cukup baik. Di tahun 2025, cakupan vaksinasi MR bayi di Jawa Tengah mencapai 106,7 persen atau melampaui target.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah wilayah dengan cakupan imunisasi yang rendah sehingga berpotensi menjadi titik penularan.

Taj Yasin memberikan penjelasannya tersebut seusai menerima Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IX DPR RI di Gedung Merah Putih, Kompleks Kantor Gubernur Jateng, pada Senin 30 Maret 2026.

Capaian Imunisasi

Sementara itu, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, mengapresiasi kinerja Pemprov Jateng dalam menjaga cakupan imunisasi di Jawa Tengah.

“Jawa Tengah ini populasinya besar, cakupan imunisasi di bawah 95 persen hanya ada di beberapa sedikit kabupaten kota. Jadi berhasil mengedukasi masyara kat,” jelasnya.

Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene menilai upaya Pemprov Jateng sudah berjalan baik, namun perlu diperkuat lagi melalui edukasi publik yang lebih masif.

“Edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan. Bisa melibatkan berbagai pihak seperti guru, orang tua, hingga influencer,” ujarnya.

Felly juga menyoroti masih adanya penolakan imunisasi oleh sebagian orang tua, yang berpotensi memperluas penularan penyakit campak di masyarakat.

Maka, peran sekolah dan tenaga pendidik dinilai sangat penting dalam memberikan pemahaman pentingnya pencegahan penyakit campak, kepada orang tua siswa.

Sejumlah wilayah di Jawa Tengah dinyatakan KLB Campak. Wakil Gubernur Jawa Tengah sebut hal ini dampak terganggunya layanan imunisasi karena Pandemi Covid 19.

Foto Editor
Author : Ayu Abriyani

Jurnalis dari Kota Solo yang fokus pada isu pendidikan, sosial dan kemasyarakatan.

Topic News