Indonesia Peringkat Kedua Dunia Kasus TBC, Ancaman Nyata yang Masih Diabaikan

  • Inung R Sulistyo
  • Selasa, 31 Maret 2026 | 15:49 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo

RIWARA.id, Surakarta – Penyakit tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Dalam sosialisasi yang digelar Puskesmas Purwosari, tenaga kesehatan mengingatkan bahwa penularan TBC masih terjadi luas di tengah masyarakat dan kerap terlambat terdeteksi.

Indonesia hingga kini masih menempati peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus TBC tertinggi. Data tersebut sejalan dengan laporan World Health Organization (WHO) yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan beban TBC terbesar kedua di dunia.

Sementara itu, dilansir riwara.id dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Indonesia mencatat estimasi sekitar 1,08 juta kasus baru TBC. Angka ini menunjukkan bahwa TBC masih menjadi tantangan besar dalam sistem kesehatan nasional.

Ancaman Nyata di Tingkat Lokal

Dalam kegiatan penyuluhan yang digelar pada 31 Maret 2026, tenaga kesehatan Mei Indah Irawati, Amd.Kep menegaskan bahwa TBC bukan sekadar penyakit biasa, melainkan penyakit menular yang masih aktif menyebar di masyarakat.

“Kasus TBC masih tinggi dan banyak yang terlambat terdeteksi. Ini yang membuat penularan terus terjadi di masyarakat,” ujar Mei Indah Irawati dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk mengenali gejala dan memeriksakan diri sejak dini masih menjadi tantangan utama di lapangan.

Penyakit Menular Lewat Udara

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyerang paru-paru, namun juga dapat menyebar ke organ lain.

Penularan terjadi melalui udara saat penderita batuk atau bersin. Dalam satu kali batuk, ribuan percikan droplet dapat tersebar dan berpotensi menginfeksi orang lain di sekitarnya.

“Bahkan paparan kuman dalam jumlah kecil sudah bisa menyebabkan infeksi, terutama pada orang dengan daya tahan tubuh rendah,” jelas Mei Indah Irawati.

Faktor lingkungan seperti ventilasi buruk, kepadatan hunian, serta kurangnya paparan sinar matahari memperbesar risiko penularan.

Beban Global dan Tantangan Pengendalian

TBC sebenarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan. Namun secara global, lebih dari 10 juta orang jatuh sakit setiap tahun dan sekitar 1 juta orang meninggal dunia akibat penyakit ini.

Tanpa pengobatan, tingkat kematian akibat TBC dapat mencapai hampir 50 persen. Sebaliknya, dengan pengobatan standar selama 4 hingga 6 bulan sesuai rekomendasi WHO, sekitar 90 persen pasien dapat disembuhkan.

Meski demikian, berbagai tantangan masih dihadapi, mulai dari keterlambatan diagnosis, ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, hingga meningkatnya kasus TBC resisten obat.

Gejala yang Kerap Dianggap Sepele

Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap gejala TBC yang sering diabaikan.

Gejala utama meliputi:

Batuk lebih dari dua minggu
Batuk berdahak atau bercampur darah
Nyeri dada dan sesak napas
Demam berkepanjangan
Keringat di malam hari
Penurunan berat badan tanpa sebab jelas

“Banyak pasien datang dalam kondisi sudah cukup berat karena menganggap batuk biasa. Padahal itu bisa menjadi tanda awal TBC,” ujarnya.

Pengobatan Harus Tuntas

Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan dilakukan melalui evaluasi gejala, tes dahak, hingga rontgen paru.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, TBC dapat disembuhkan jika pasien menjalani pengobatan secara disiplin dan tidak terputus.

Pengobatan TBC sensitif obat berlangsung minimal enam bulan. Sementara pada kasus TBC resisten obat, durasi pengobatan bisa mencapai 9 hingga 20 bulan dengan kombinasi obat yang lebih kompleks.

“Kalau pengobatan tidak tuntas, kuman bisa menjadi kebal obat. Ini yang membuat penanganan menjadi jauh lebih sulit,” kata Mei Indah Irawati.

Pencegahan dan Peran Masyarakat

Upaya pencegahan TBC dapat dilakukan melalui langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat diimbau untuk menerapkan etika batuk, tidak meludah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan rumah memiliki ventilasi yang baik.

Selain itu, pola hidup sehat seperti mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga, dan tidak merokok juga penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Imunisasi BCG pada bayi menjadi salah satu langkah perlindungan dini terhadap TBC berat.

Pemerintah juga terus mendorong skrining aktif pada kelompok berisiko, investigasi kontak erat pasien, serta terapi pencegahan untuk memutus rantai penularan.

Target Eliminasi 2030

Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia setiap 24 Maret menjadi momentum global untuk meningkatkan kesadaran terhadap penyakit ini. Peringatan ini merujuk pada penemuan bakteri penyebab TBC oleh Robert Koch.

Indonesia bersama negara lain menargetkan eliminasi TBC pada tahun 2030, dengan penurunan angka insidensi menjadi 190 kasus per 100.000 penduduk.

Namun, pencapaian target tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk rendahnya kesadaran masyarakat dan keterbatasan akses layanan kesehatan di beberapa wilayah.

Ajakan Periksa Dini

Sosialiasi Penyakit TBC yang digelar Puskesmas Purwosari, Surakarta pada 31 Maret 2026
Sosialiasi Penyakit TBC yang digelar Puskesmas Purwosari, Surakarta pada 31 Maret 2026 (Foto: Mei Indah Irawati, Amd.Kep)

 

 

Melalui kegiatan sosialisasi ini, masyarakat diharapkan tidak lagi takut atau ragu untuk memeriksakan diri.

“Kalau batuk lebih dari dua minggu, segera periksa ke fasilitas kesehatan. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang sembuh,” tutup Mei Indah Irawati.

Dengan keterlibatan semua pihak, mulai dari tenaga kesehatan hingga masyarakat, upaya eliminasi TBC pada 2030 diharapkan dapat tercapai.*

 

Indonesia masih berada di peringkat kedua dunia kasus TBC dengan lebih dari 1 juta kasus baru. Pemerintah menargetkan eliminasi pada 2030.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News