Tuberkulosis: Dari ‘King’s Evil’ Abad Pertengahan hingga Ancaman Global 2026

  • Inung R Sulistyo
  • Selasa, 31 Maret 2026 | 16:50 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo

RIWARA.id - Pernahkah Anda mendengar istilah “king’s evil”? Di Inggris dan Prancis pada Abad Pertengahan, penyakit ini dianggap bisa sembuh hanya dengan sentuhan raja. Hari ini, kita tahu itu adalah salah satu bentuk tuberkulosis (TB), penyakit menular akibat Mycobacterium tuberculosis yang telah membayangi umat manusia selama ribuan tahun.

Sebagaimana dilansir riwara.id pada hari ini, Selasa, 31 Maret 2026, dari PubMed Central (PMC), sebuah arsip digital gratis dan terbuka yang dikelola oleh National Center for Biotechnology Information (NCBI) di bawah Perpustakaan Kedokteran Nasional AS (National Library of Medicine/NLM), TB tetap menjadi ancaman global meski ilmu pengetahuan dan pengobatan modern telah berkembang pesat.

TB adalah penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan, namun lebih dari 10 juta orang jatuh sakit dan 1 juta orang meninggal setiap tahunnya, menjadikannya salah satu penyakit menular paling mematikan setelah HIV. Situasi ini menuntut tindakan mendesak dan komprehensif untuk mengakhiri epidemi TB global pada 2030, target yang telah disepakati oleh seluruh negara anggota PBB dan WHO.

 

Jejak TB Sejak Ribuan Tahun Lalu

Penyakit TB bukanlah fenomena modern. Bukti paling awal ditemukan pada mumi Mesir 2400 SM, yang menunjukkan deformitas tulang khas TB, termasuk lesi tulang belakang yang kini dikenal sebagai Pott’s disease. Catatan tertulis dari India dan Cina ribuan tahun lalu juga menegaskan bahwa TB sudah dikenal oleh peradaban kuno, jauh sebelum ilmu kedokteran modern berkembang.

Di Yunani Kuno, Hippocrates menulis tentang Phtisis, penyakit paru-paru yang sering mematikan, terutama bagi orang muda. Gejala seperti batuk berdarah, demam berkepanjangan, dan penurunan berat badan drastis digambarkan dengan cermat. Pemikir seperti Isocrates dan Aristoteles mulai menduga penyakit ini dapat menular, meski metode pengobatan efektif belum ditemukan.

Selain Yunani, bukti TB juga ditemukan di wilayah Andean, melalui mumi Peru yang menunjukkan lesi tulang khas TB, mengindikasikan bahwa penyakit ini sudah ada di benua Amerika jauh sebelum kedatangan penjelajah Eropa. Sementara itu, istilah TB tercatat dalam kitab suci Ibrani, menggunakan kata “schachepheth” untuk menggambarkan penyakit ini, menunjukkan kesadaran manusia kuno terhadap TB.

Abad Pertengahan: “King’s Evil” dan Scrofula

Pada Abad Pertengahan, TB sering muncul sebagai pembengkakan kelenjar leher, dikenal sebagai scrofula. Di Inggris dan Prancis, masyarakat percaya hanya raja yang bisa menyembuhkan. Praktik “king’s touch” ini berlangsung berabad-abad. Queen Anne tercatat sebagai raja terakhir yang melakukan praktik ini di Inggris (1712), sementara di Prancis, tradisi ini bertahan hingga 1825.

Selain kepercayaan, perkembangan ilmiah mulai mencatat sifat penyakit ini. Girolamo Fracastoro pada abad ke-16 menulis bahwa TB bersifat menular. Bahkan pada akhir abad ke-17, Republik Lucca di Italia mengeluarkan edik kesehatan yang mewajibkan isolasi pasien TB, menandai awal kesadaran publik akan pencegahan penularan penyakit menular.

Penemuan yang Mengubah Dunia

Baru pada 1720, Benjamin Marten, seorang dokter Inggris, menyatakan bahwa TB mungkin disebabkan oleh infeksi. Abad berikutnya, para ilmuwan mulai mempelajari penyakit ini secara sistematis.

Hermann Brehmer (1854) memperkenalkan sanatorium cure, memulihkan pasien lewat udara pegunungan, nutrisi sehat, dan perawatan jangka panjang. Institusi ini menjadi model bagi sanatorium lain di Eropa.
Jean-Antoine Villemin (1865) membuktikan TB menular lewat eksperimen pada kelinci, menegaskan hipotesis infeksi TB.

Puncak era modern terjadi pada 24 Maret 1882, ketika Robert Koch berhasil mengisolasi Mycobacterium tuberculosis. Penemuan ini membuka era baru penanggulangan TB, termasuk tes kulit tuberkulin, vaksin BCG, dan obat-obatan seperti streptomisin. Koch kemudian dianugerahi Nobel Kedokteran 1905 atas kontribusinya.

Tantangan Global dan Upaya Pencegahan

TB adalah penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan, tetapi tantangannya tetap besar. Tanpa pengobatan, tingkat kematian TB dapat mencapai 50%, sedangkan pengobatan standar WHO (4–6 bulan) dapat menyembuhkan ±90% pasien. Regimen pengobatan bervariasi antara 1–6 bulan tergantung jenis TB dan kondisi pasien.

Selain pengobatan, upaya pencegahan perlu dilakukan melalui Cakupan Kesehatan Universal (UHC) agar semua pasien dapat mengakses diagnosis dan terapi tepat waktu. Faktor risiko seperti kemiskinan, kekurangan gizi, infeksi HIV, merokok, dan diabetes juga harus ditangani melalui pendekatan multisektoral.

Di Indonesia, TB tetap menjadi tantangan serius. Menurut Global Tuberculosis Report (GTR) 2025, Indonesia berada di urutan kedua dengan beban TB tertinggi dunia setelah India, dengan estimasi 1.080.000 kasus baru setiap tahun. Pemerintah menargetkan penurunan angka insidensi TB menjadi 190 per 100.000 pendud uk pada tahun 2030. Upaya ini menuntut akses diagnosis dini, pengobatan tepat, dan kesadaran masyarakat.

Selain itu, Hari TB Sedunia (24 Maret) menjadi momen penting untuk meningkatkan perhatian publik dan komunitas kesehatan terhadap penyakit yang masih mematikan, termasuk kasus TB resisten obat dan stigma sosial terhadap pasien. Meski sejak penemuan Koch pada 1882 telah terjadi kemajuan signifikan dalam pengobatan, diagnosis, dan vaksinasi, ancaman TB masih nyata, terutama di negara dengan sistem kesehatan yang belum merata.

Sejak ribuan tahun lalu, TB telah menjadi penyakit yang menakutkan bagi umat manusia. Dari “king’s evil” di Eropa abad pertengahan hingga penemuan ilmiah modern, sejarah TB menunjukkan bahwa penyakit ini tidak hanya masalah medis, tetapi juga sosial, ekonomi, dan politik.

Saat ini, TB masih menjadi ancaman global yang menuntut tindakan kolektif, baik dari pemerintah, tenaga kesehatan, maupun masyarakat luas. Dengan pengobatan efektif, pencegahan, dan kesadaran publik, target eliminasi TB pada 2030 bisa dicapai. Namun, perjuangan untuk menaklukkan “tuberculosis” belum berakhir.*

 

Sejak ribuan tahun lalu, tuberkulosis (TB) telah menjadi penyakit menular mematikan. Dari "king’s evil" abad pertengahan hingga pengobatan modern, simak sejarah, fakta terkini, dan upaya global menanggulangi TB.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News