Kemenkes Waspadai Virus Hanta di Indonesia, Kasus Meningkat dan Pengawasan Diperketat

Selasa, 12 Mei 2026 | 08:31 WIB
Ilustrasi kewaspadaan virus Hanta di Indonesia Kemenkes RI memperketat pengawasan dan surveilans menyusul meningkatnya temuan kasus HFRS di sejumlah daerah
Ilustrasi kewaspadaan virus Hanta di Indonesia Kemenkes RI memperketat pengawasan dan surveilans menyusul meningkatnya temuan kasus HFRS di sejumlah daerah (Foto: Tim Redaksi Riwara.id)

 

JAKARTA, RIWARA.id  – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus Hanta menyusul meningkatnya temuan kasus di Indonesia serta adanya laporan kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) pada kapal pesiar MV Hondius yang menjadi perhatian otoritas kesehatan internasional.

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr. Andi Saguni menegaskan bahwa hingga saat ini Indonesia belum menemukan kasus HPS.

“Perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Kasus yang terdeteksi merupakan tipe HFRS dan terus kami pantau melalui sistem surveilans nasional,” ujar dr. Andi Saguni dalam konferensi pers daring, Senin (11/5/2026).

Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang 2024 hingga 2026 tercatat sebanyak 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang tersebar di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sumatera Barat hingga Nusa Tenggara Timur.

Tren kasus juga menunjukkan peningkatan dalam dua tahun terakhir. Pada 2024 hanya ditemukan satu kasus terkonfirmasi, meningkat menjadi 17 kasus sepanjang 2025, dan bertambah lima kasus hingga Mei 2026.

Menurut dr. Andi, peningkatan laporan kasus dipengaruhi semakin baiknya sistem deteksi dini dan kapasitas pemeriksaan laboratorium di Indonesia.

“Peningkatan kasus yang terlaporkan menunjukkan sistem kewaspadaan dan deteksi dini kita semakin baik. Karena itu masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus waspada terhadap faktor risiko penularan,” katanya.

Virus Hanta diketahui ditularkan melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk melalui urin, air liur, maupun kotorannya. Risiko penularan meningkat pada lingkungan dengan populasi tikus tinggi seperti gudang tertutup, wilayah banjir, hingga aktivitas luar ruang seperti berkemah dan mendaki.

Selain memantau kasus dalam negeri, Kemenkes juga bergerak cepat merespons notifikasi internasional terkait satu kontak erat kasus HPS dari kapal pesiar MV Hondius yang berada di Indonesia.

Kontak erat tersebut telah menjalani pemeriksaan di RSPI Sulianti Saroso dan hasil laboratorium menunjukkan negatif untuk Hantavirus tipe HPS maupun HFRS.

“Begitu notifikasi diterima, kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi, koordinasi lintas sektor, pemeriksaan laboratorium, hingga pemantauan terhadap kontak erat tersebut,” jelas dr. Andi.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah memperkuat pengawasan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pengamatan visual, serta sistem surveilans pelaku perjalanan internasional.

Kemenkes juga memperkuat jejaring laboratorium dengan kemampuan pemeriksaan PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS), serta meningkatkan kesiapan 198 rumah sakit jejaring pengampuan penyakit infeksi emerging di seluruh Indonesia.

“Kami terus memperkuat kesiapsiagaan nasional mulai dari surveilans, laboratorium, hingga layanan kesehatan agar setiap potensi kasus dapat ditangani secara cepat dan tepat,” ujarnya.

Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya, menyimpan makanan di tempat tertutup, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri badan, batuk, atau sesak napas.

“Masyarakat diharapkan tetap tenang dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan pakai sabun, sebagai langkah utama pencegahan penyakit virus Hanta,” tutup dr. Andi Saguni.*

 

Kemenkes RI meningkatkan kewaspadaan terhadap virus Hanta setelah temuan kasus HFRS meningkat di Indonesia. Pemerintah memastikan belum ada kasus HPS, namun pengawasan dan surveilans diperketat di seluruh wilayah.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories