Serangan Siber Berbasis AI Menggila, 89 Persen Perusahaan di Indonesia Dinilai Belum Siap

Selasa, 12 Mei 2026 | 06:09 WIB
Ilustrasi ancaman serangan siber berbasis AI yang kian meningkat dan mengancam keamanan data digital di Indonesia
Ilustrasi ancaman serangan siber berbasis AI yang kian meningkat dan mengancam keamanan data digital di Indonesia (Foto: Ilustrasi: AI Generated / Tim Redaksi Riwara.id)

 

JAKARTA, RIWARA.id – Ancaman serangan siber berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diprediksi terus meningkat dan menjadi tantangan serius bagi perusahaan di Indonesia. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya tingkat kesiapan keamanan siber atau cyber maturity di mayoritas perusahaan nasional.

Deputy Headmaster IT Program Swiss German University, Charles Lim mengatakan, perkembangan AI generatif yang semakin canggih membuat pola serangan siber kini lebih sulit dideteksi dan semakin berbahaya.

“Kalau kita lihat memang serangan siber belakangan ini yang paling tinggi tetap ransomware. Ketika kena ransomware, sistem terkunci dan tidak bisa berfungsi. Namun sekarang serangan siber berbasis AI pun sudah mulai naik,” kata Charles dalam peluncuran whitepaper bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience bersama Indosat Ooredoo Hutchison di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Menurut Charles, AI kini telah dimanfaatkan para pelaku kejahatan digital untuk menemukan celah keamanan baru yang sebelumnya sulit diidentifikasi manusia. Teknologi tersebut juga mempercepat proses serangan siber dalam skala besar.

Ia mengungkapkan, berdasarkan Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025, sebanyak 89 persen perusahaan di Indonesia dinilai belum memiliki tingkat kematangan keamanan siber yang memadai untuk menghadapi ancaman digital modern.

Dalam laporan yang sama, hanya sekitar 11 persen organisasi yang dianggap telah memiliki cyber maturity yang cukup baik. Bahkan, sekitar 54 persen perusahaan masih belum memiliki kapabilitas keamanan IT yang memadai.

“Keadaan perusahaan enterprise di negara kita ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Artinya mereka juga selalu diserang,” ujarnya.

Charles menyebut pertumbuhan transformasi digital di Indonesia berjalan jauh lebih cepat dibanding kesiapan keamanan siber perusahaan. Padahal, pasar enterprise ICT Indonesia diproyeksikan melampaui Rp203,5 triliun pada 2025 dengan pertumbuhan CAGR mencapai 14,4 persen.

“Banyak perusahaan itu tidak siap. Kalau kita lihat di sini, 89 persen itu tidak siap, berarti mayoritas,” katanya.

Menurut dia, konsep ketahanan siber atau cyber resilience kini menjadi sangat penting di tengah meningkatnya ancaman AI. Perusahaan tidak hanya dituntut mencegah serangan, tetapi juga harus mampu bertahan dan tetap beroperasi ketika serangan terjadi.

“Ketahanan itu artinya kalau pun terjadi sesuatu, dia masih bisa terus berlangsung. Nah, ini gap yang cukup besar kalau kita lihat dari statistiknya,” jelas Charles.

Di sisi lain, implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi atau UU PDP turut mendorong perusahaan memperkuat sistem monitoring keamanan siber secara real-time. Organisasi juga diwajibkan melaporkan insiden kebocoran data dalam waktu maksimal 72 jam.

Charles menilai AI saat ini menjadi “pedang bermata dua” dalam industri keamanan siber. Di satu sisi membantu perusahaan mendeteksi ancaman lebih cepat, tetapi di sisi lain juga dimanfaatkan attacker untuk melancarkan serangan yang lebih canggih.

“Serangan yang menggunakan AI tidak mungkin turun, justru akan naik,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap maraknya konten manipulatif berbasis AI seperti video deepfake yang kini semakin sulit dibedakan dari konten asli.

“Nah banyak video yang diviralkan ternyata dibuat dari AI juga. Ini yang harus hati-hati,” lanjut dia.

Tak hanya itu, AI disebut mulai dimanfaatkan dalam kejahatan sektor keuangan digital, termasuk pembukaan rekening bank palsu menggunakan identitas sintetis atau fake identity.

“Banyak bank digital yang buka akun hanya tinggal foto dan KTP saja. Nah, beberapa pihak bank sudah menyampaikan sekitar 50 persen transaksi pembukaan rekening itu fake atau palsu,” ungkap Charles.

Sementara itu, laporan perusahaan keamanan siber Kaspersky mencatat lebih dari 1 juta akun perbankan online diretas sepanjang 2025. Modus yang digunakan kini semakin sederhana, yakni mencuri username dan password pengguna, bukan lagi membobol sistem bank secara langsung.

Kaspersky juga mencatat kawasan Asia Pasifik mengalami lonjakan signifikan serangan infostealer hingga 132 persen. Secara global, deteksi malware jenis tersebut meningkat sekitar 59 persen, menunjukkan perubahan strategi utama dalam kejahatan siber modern.

Lonjakan ancaman digital berbasis AI ini menjadi alarm serius bagi perusahaan maupun masyarakat Indonesia agar segera meningkatkan literasi digital dan ketahanan keamanan siber sebelum dampaknya semakin meluas.*

Ancaman serangan siber berbasis AI terus meningkat di Indonesia. Swiss German University mengungkap 89 persen perusahaan belum siap menghadapi serangan digital modern, mulai dari ransomware, deepfake, hingga pencurian data perbankan.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories