Ancaman Serangan Siber di Indonesia Meningkat Tajam, Data BSSN dan Polri Ungkap Bahaya AI hingga Phishing

Selasa, 12 Mei 2026 | 08:20 WIB
Ilustrasi ancaman serangan siber modern berbasis AI yang kini semakin mengancam keamanan data sistem digital dan identitas pengguna internet di Indonesia
Ilustrasi ancaman serangan siber modern berbasis AI yang kini semakin mengancam keamanan data sistem digital dan identitas pengguna internet di Indonesia (Foto: Ilustrasi: AI Generated / Tim Redaksi Riwara.id)

 

SURABAYA, RIWARA.id – Ancaman serangan siber di Indonesia terus meningkat seiring pesatnya perkembangan teknologi digital, artificial intelligence (AI), hingga internet of things (IoT).

Di tengah transformasi digital yang semakin masif, masyarakat kini dihadapkan pada risiko baru mulai dari ransomware, phishing, pencurian data, hingga perang siber.

Dilansir Riwara.id dari laman resmi Polri pada hari ini Selasa, 12 Mei 2026, peningkatan penggunaan internet global turut memicu lonjakan ancaman cyber attack yang semakin kompleks dan berbahaya.

Berdasarkan data International Telecommunication Union (ITU) yang dikutip World Bank, pengguna internet dunia mencapai sekitar 49 persen populasi pada 2017. Angka tersebut melonjak signifikan dibanding tahun 2000 yang hanya sekitar 6,7 persen.

Sementara itu, Internet World Stats memperkirakan pengguna internet global telah mencapai lebih dari 5 miliar orang pada kuartal pertama 2021 atau sekitar 64,2 persen populasi dunia.

Di Indonesia sendiri, ancaman siber juga menunjukkan tren mengkhawatirkan. Data Badan Siber dan Sandi Negara mencatat terdapat 12,8 juta serangan siber pada 2018. Jumlah tersebut melonjak drastis menjadi 98,2 juta serangan pada 2019, sebelum berada di angka 74,2 juta serangan pada 2020 berdasarkan laporan Honeynet Project BSSN.

AI dan Teknologi Digital Jadi Pedang Bermata Dua

Perkembangan teknologi digital seperti AI dan cloud computing dinilai menjadi “pedang bermata dua”. Di satu sisi mempermudah aktivitas manusia dan transformasi bisnis, namun di sisi lain membuka celah baru bagi pelaku kejahatan siber.

Serangan siber kini tidak lagi menyasar perusahaan besar saja, tetapi juga pengguna internet biasa, pelaku UMKM, hingga lembaga pemerintahan.

Cybersecurity atau keamanan siber menjadi aspek penting untuk melindungi sistem komputer, jaringan, dan data dari akses ilegal maupun penyalahgunaan.

Menurut standar ISO/IEC 27032:2012, cybersecurity merupakan upaya menjaga kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan informasi di cyberspace atau ruang siber.

Sementara Cisco mendefinisikan cybersecurity sebagai praktik melindungi sistem, jaringan, dan program dari serangan digital yang bertujuan mencuri, mengubah, atau menghancurkan data sensitif.

Jenis Serangan Siber Paling Berbahaya

Dalam laporan tersebut dijelaskan, terdapat sejumlah ancaman siber yang saat ini paling sering digunakan pelaku kejahatan digital.

1. Malware dan Ransomware

Malware menjadi ancaman siber paling umum yang dapat merusak sistem komputer pengguna. Salah satu bentuk paling berbahaya adalah ransomware yang mengunci data korban dan meminta tebusan.

Kasus WannaCry menjadi salah satu serangan ransomware terbesar di dunia. Berdasarkan data Kaspersky, serangan tersebut menginfeksi lebih dari 230 ribu perangkat di 150 negara dan menyebabkan kerugian global hingga 4 miliar dolar AS.

2. Phishing dan Penipuan Digital

Phishing dilakukan dengan mengelabui korban melalui email atau situs palsu yang menyerupai layanan resmi. Modus ini bertujuan mencuri password, OTP, hingga data kartu kredit.

Saat ini phishing berkembang semakin canggih dengan bantuan AI dan deepfake sehingga sulit dibedakan dari konten asli.

3. Social Engineering

Social engineering memanfaatkan kelemahan psikologis manusia untuk memperoleh akses terhadap akun atau data penting. Salah satu modus yang marak terjadi di Indonesia adalah penipuan kode OTP terhadap pengguna layanan digital.

4. Serangan Domain dan Typosquatting

Pelaku siber juga memanfaatkan nama domain palsu atau typo domain untuk menjebak pengguna internet. Modus ini dikenal sebagai cybersquatting dan typosquatting.

Contohnya seperti domain palsu yang menyerupai situs resmi perusahaan besar guna menyebarkan malware atau melakukan pencurian data.

5. Cyber Warfare dan Cyber Terrorism

Ancaman lain yang semakin menjadi perhatian dunia adalah cyber warfare atau perang siber dan cyber terrorism.

Perang siber dilakukan dengan menyerang sistem digital suatu negara tanpa kontak fisik. Salah satu contoh terkenal adalah dugaan serangan siber terhadap fasilitas nuklir Iran pada 2008.

Sementara cyber terrorism memanfaatkan teknologi internet untuk mengganggu stabilitas sosial, ekonomi, dan keamanan negara melalui serangan terhadap sistem strategis.

Indonesia Berpotensi Rugi Ratusan Triliun

Ancaman siber juga berdampak besar terhadap ekonomi nasional. Penelitian Frost & Sullivan yang diprakarsai Microsoft pada 2018 menyebut cyber attack berpotensi menyebabkan kerugian ekonomi Indonesia mencapai Rp478,8 triliun atau sekitar 34,2 miliar dolar AS.

Nilai tersebut setara lebih dari 3 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada saat itu.

Karena itu, penerapan cybersecurity dinilai menjadi kebutuhan mendesak bagi perusahaan, pemerintahan, maupun masyarakat.

Selain memperkuat infrastruktur digital, organisasi juga perlu memiliki sumber daya manusia yang kompeten serta standar keamanan internasional seperti ISO/IEC 27001 untuk melindungi data dan sistem informasi dari ancaman siber modern.

Di era AI dan transformasi digital saat ini, keamanan siber bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan utama untuk menjaga stabilitas ekonomi, bisnis, hingga keamanan nasional.*

Ancaman serangan siber di Indonesia meningkat tajam seiring perkembangan AI dan transformasi digital. Data BSSN dan Polri mengungkap bahaya ransomware, phishing, hingga perang siber yang mengancam masyarakat dan perusahaan.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories