Adu Perkasa Fregat Merah Putih Indonesia vs Maharaja Lela Malaysia: Antara Lompatan Teknologi dan Prahara Proyek

Rabu, 27 Mei 2026 | 20:57 WIB
Ilustrasi dibuat dengan bantuan Gemini AI
Ilustrasi dibuat dengan bantuan Gemini AI

RIWARA.id – Persaingan kekuatan matra laut di Asia Tenggara semakin memanas seiring langkah Indonesia dan Malaysia yang sama-sama berambisi membangun kapal perang jenis fregat siluman (stealth frigate) di dalam negeri.

Indonesia kini tengah memacu pembangunan Fregat Merah Putih (Kelas Balaputradewa) melalui PT PAL, sementara Malaysia terseok-seok merampungkan armada Littoral Combat Ship (LCS) Kelas Maharaja Lela lewat galangan Lumut Naval Shipyard.

Kedua proyek ini kerap dibanding-bandingkan oleh pengamat militer regional karena merepresentasikan gengsi industri pertahanan masing-masing negara. Namun, pendekatan manajemen proyek, pemilihan basis desain, serta realisasi di lapangan menunjukkan jurang pemisah yang sangat lebar antara Jakarta dan Kuala Lumpur.

Dari segi dimensi dan desain dasar, Fregat Merah Putih milik TNI Angkatan Laut mengadopsi basis kapal perang Inggris, Arrowhead 140 (Tipe 31), yang memiliki spesifikasi tempur lautan dalam (blue-water navy). Kapal perang andalan masa depan Indonesia ini dirancang dengan panjang 140 meter dan memiliki berat benaman muatan penuh mencapai 6.626 ton.

Ukuran raksasa Fregat Merah Putih jauh melampaui Fregat Kelas Maharaja Lela Malaysia yang menggunakan basis desain korvet Gowind-2500 buatan Naval Group Prancis yang diperbesar. Kapal perang Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) tersebut hanya memiliki panjang 111 meter dengan berat benaman muatan penuh di kisaran 3.100 ton.

Perbedaan ukuran ini secara otomatis memengaruhi kapasitas tampung persenjataan serta daya tahan operasional di laut lepas. Fregat Merah Putih mampu membawa sistem peluncur rudal vertikal (VLS) buatan Roketsan MİDLAS sebanyak 64 sel untuk mengusung rudal pertahanan udara jarak menengah hingga jauh.

Sebaliknya, keterbatasan ruang pada lambung Kelas Maharaja Lela membuatnya hanya dikonfigurasi untuk membawa 16 sel VLS jenis Sylver guna meluncurkan rudal anti-pesawat Mica. Di sektor ofensif, kedua kapal sama-sama dipersenjatai rudal anti-kapal modern, di mana Indonesia mengandalkan rudal Atmaca sedangkan Malaysia memilih rudal Naval Strike Missile (NSM).

Urusan biaya pembuatan menjadi pembeda paling kontras yang menyoroti efisiensi anggaran kedua negara tetangga ini. Indonesia mengucurkan dana kontrak sekitar US$ 1,1 miliar (sekitar Rp 17,6 triliun) untuk pengadaan dua unit awal Fregat Merah Putih yang dibangun sepenuhnya di galangan PT PAL Surabaya.

Anggaran tersebut terhitung efisien jika dibandingkan dengan megaproyek LCS Malaysia yang dibayangi skandal korupsi masif penyelewengan dana pertahanan. Nilai kontrak proyek Kelas Maharaja Lela membengkak hebat hingga menembus RM 9 miliar atau setara US$ 2,8 miliaran (lebih dari Rp 40 triliun).

Ironisnya, meski Pemerintah Malaysia telah menggelontorkan dana lebih dari 6 miliar ringgit ke pihak kontraktor, hingga tahun 2026 ini belum ada satu pun unit kapal yang resmi diserahkan ke pihak militer. Padahal, proyek ini sudah dimulai sejak tahun 2011 silam dengan peluncuran lambung pertama yang bersifat seremonial pada 2017.

Pihak Komite Akuntabilitas Publik (PAC) Malaysia bahkan melaporkan adanya salah urus, penyalahgunaan wewenang, hingga komponen usang senilai miliaran ringgit akibat kapal yang dibiarkan mangkrak di galangan. Akibat prahara finansial dan keterlambatan akut ini, Pemerintah Malaysia akhirnya terpaksa memangkas rencana pengembangan dari semula enam unit kapal menjadi hanya lima unit saja.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan dinamika rencana pengembangan kekuatan armada laut Indonesia yang terus berekspansi. PT PAL Indonesia saat ini tengah fokus menyelesaikan dua unit pertama Fregat Merah Putih dengan target penyelesaian konstruksi blok bangunan yang berjalan sesuai jadwal.

Tidak berhenti di situ, Kementerian Pertahanan RI memproyeksikan total pemesanan armada ini akan bertambah hingga mencapai empat unit dalam rencana jangka panjang (Minimum Essential Force). Skema transfer teknologi (ToT) dari Inggris berjalan mulus tanpa kendala teknis berarti, yang sekaligus mengerek kapasitas rekayasa engineering para teknisi domestik.

Dengan keunggulan tonase, daya gempur persenjataan yang lebih masif, serta manajemen proyek yang jauh lebih bersih dan terukur, Indonesia di atas kertas berhasil mengungguli Malaysia dalam perlombaan membangun kekuatan maritim. Fregat Merah Putih diprediksi akan menjadi salah satu monster laut yang diperhitungkan di kawasan ASEAN saat resmi beroperasi nanti. (*)

 

Fregat Merah Putih Indonesia ungguli tonase & senjata atas Fregat Maharaja Lela Malaysia yang sempat mangkrak akibat skandal biaya. (

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories